Peristiwa yang Terjadi pada Seketika yang Sama

Ia terkantuk-kantuk diberanda, menyaksikan rembulan yang diredupkan bayang, juga lampu kota yg serupa kunang-kunang. 
Sementara kopi yang belum sempat ia sesap kedinginan tanpa bergerak.

Angin mengembus kencang. Menerbangkan angan dan segala yang sedang ia pikirkan. 
Perihal tanya 
dan
perih yang luka
yang perlahan membelukar membuat hatinya sesak,
membuat air matanya tumpah begitu saja.

Gerimis tempias di bawah lampu jalan yang terlihat berusaha tetap
atau
berpura-pura 
agar terlihat tegak.

Ia sering menyimak lampu itu
dan membayangkan
betapa ada sesosok makhluk
pemilik cahaya paling semburat berdiam diri di sana.
Makhluk yang takut kepada siang
yang dan hanya bisa
menunjukan diri kala gelap datang.
Makhluk dengan kesedihan yang betapa
dan mengurung diri di sana.

Semut-semut berjajar 
beriringan
di atas kabel yang membentang seperti jembatan di bawah lampu jalan yang temaram.
Semut-semut itu merayap perlahan seolah sedang membawa kesedihan
yang entah dan akan dibawa ke mana.

Rembulan yang redup,
makhluk yang mengeram di lampu jalan, dan 
semut yang membawa kesedihan
tiba-tiba saling menyapa.
Meski tanpa suara, meski tanpa kata-kata.

Kesedihan selalu membutuhkan teman kan...

Itulah sebabnya mereka saling bercerita, kata ia di dalam hatinya.
Meski tanpa suara, meski tanpa kata-kata.
Karena,
kesedihan tidak membutuhkan keduanya.

Ia kini menjelma menjadi tugu peringatan atas kesedihan yang membengkak pada dirinya.
Di hadapannya
rembulan yang redup, lampu jalan yang temaram, dan semut yang beriringan
berpesta
merayakan kesedihan
dengan nyanyian senyap
dan tarian hening yang paling.


Kota Hujan, 23 Maret 2016

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.