Rindu yang Sedang Jatuh Cinta

Ini adalah pagi di mana aku merindukanmu, lagi. Jika kuhitung ini adalah rinduku yang ke 1426, dan pagi ini rinduku telah menyerupai embun pagi, yang menggantung di ujung dedaunan, sebelum hangatnya pagi membuat jatuh.

Rindu ini adalah sisa semalam menjadi gigil pagi, yang betapa. 
Namun akan selalu ada yang tampak dan tersembunyi. Yang tersirat dan yang tersurat. Seperti rindu yang mengendap pada ujung pagi.

Pada sepatnya waktu, sebelum pertemuan yang mendebarkan, antara rinduku yang kini menjadi embun dengan mentari pertama pagi. Akan ada yang tumbuh, pun ada yang hilang atau sengaja mengorbankan diri. Ialah rinduku.

Seperti yang kau tahu, ketika embun dipertemukan dengan mentari pagi, embun itu akan luruh, yah, embun itu akan menguap begitu saja perlahan dan hilang. Tetapi itu adalah pilihan yang dipilih embun yang tidak lain adalah rinduku.

Baiklah, akan kuceritakan sebuah rahasia perihal rinduku. Kau tahu, sudah sejak lama ia jatuh cinta pada sepasang matamu. Rindu yang jatuh cinta, ah, aku tidak pernah membayangkan hal itu bisa terjadi. Tetapi itu memang terjadi. Rinduku jatuh cinta pada matamu. Cinta yang menurutku menakjubkan, bahkan, kadang aku cemburu. Melihat betapa ada sesuatu yang lebih mencintaimu dibandingkan aku, meski, itu adalah rinduku sendiri. Ah, rindu yang jatuh betapa mengagumkan memang. Maka sebuah pengorbanan yang sederhana yang ia lakukan pagi ini, itu adalah hal yang sederhana baginya. Rinduku akan bahagia asal kau menyukainya.

Tentu kau barangkali akan bertanya, memangnya, apa istimewa embun yang mengorbankan diri kepada mentari pagi?Ini adalah perihal keindahan, Sayang. Keindahan yang sering diabaikan. Termasuk oleh aku. Seperti yang kau tahu, aku penyuka senja, dan selalu membayangkan bahwa setiap hari waktu adalah senja. Membayangkan langit selalu menyemburatkan senja yang jingga. Tetapi aku lalai. Tuhan yang maha memiliki segalanya menciptakan berjuta keindahan selain senja. Seperti pagi.

Maka sisa rinduku semalam memilih diri menjadi embun pagi. Tubuh mereka membelah diri menjadi jutaan atau bahkan miliaran butir embun yang hinggap pada setiap daun di kotamu. Kalau kau bisa melihatnya, betapa semuanya terlihat menakjubkan, Sayang. Bahkan aku sendiri jatuh cinta kepada rinduku yang telah begitu banyaknya. Mereka kini bening berkilauan menantikan hangatnya mentari, yang membuat mereka luruh dan menjadi kabut tipis, yang serupa selimut.

Rindu yang jatuh cinta memang bisa menjadi apa saja. Termasuk menjadi kabut tipis yang menghampar dan menjelma apa saja di atas gunung yang sering kamu pandangi sambil minum kopi.
"Kabut ini seperti kepala singa haha," katamu pada suatu pagi, "lihat itu malah seperti kelinci," lanjutmu.
"Itu kaya kodok tau," kataku sembarangan menggoda. Kamu cemberut meski akhirnya nanti tertawa.
"Aku suka kabut pagi," katamu,"ia bisa menjelma apa saja dalam kepalaku, meski sebetulnya kabut itu hanya menghampar begitu saja, seperti selimut yang memeluk gunung. Tetapi aku selalu suka."

Setiap pertemuan memang selalu memberi kesan, pun setiap percakapan selalu menyisakan sesuatu untuk dikenang. Dan pada saat itu rinduku mendengar kalimat terakhir kamu. 
Maka, setelah ini apabila kamu bertanya mengapa rinduku menjadi embun pagi, kuharapa kamu memahaminya. Apapun bisa dilakukan oleh rindu yang sedang jatuh cinta.