Suwardi Arlan Gagalkan Ambisi Persib Merebut Singgasana Sepak Bola Indonesia dari Tanah Makassar

Oleh Septian Nugraha
RIVALITAS menjadi sebuah hal yang jamak kita dengar dalam sepak bola. Kata rivalitas dalam dunia “si kulit bundar” memiliki arti kata yang eksklusif. Tidak semua “perseteruan” dua klub yang bertanding di atas lapangan hijau dianggap sebagai rival, sekalipun laga yang tersaji berlangsung dalam intensitas yang tinggi.
Ada banyak faktor yang membuat persaingan dua klub di lapangan dianggap sebagai rival. Salah satunya, faktor proximity yang memanaskan duel tim sekota AC Milan dan Inter Milan. Faktor sejarah yang membuat laga antara Liverpool melawan Manchestar United berlangsung panas selama lebih dari 100 tahun. Atau politik, yang menjadi bumbu persaingan antara Real Madrid dengan Barcelona merajalela.
Tak hanya ranah sepak bola Internasional, rivalitas sengit antar dua klub pun menjadi bumbu dalam perjalanan persepak bolaan Indonesia. Salah satunya adalah rivalits antara Persib Bandung dengan PSM Makassar. Kedua klub tersebut dianggap sebagai rival sejak kompetisi perserikatan 1960.
Pada saat itu, persaingan panas antara Persib dan PSM mewarnai perebutan puncak klasemen Kejuaraan Nasional PSSI 1959/1960. Dalam daftar klasemen saat itu, Persib menempati posisi dua dengan 8 poin, selisih 2 poin dari PSM yang berada dipuncak klasemen.
Persib berpeluang besar untuk menjadi kampiun kompetisi tersebut, andai mampu mengalahkan PSM di laga penentuan yang berlangsung di Lapangan Ikada, Jakarta pada 6 September 1960.
Saat itu, banyak pihak memprediksi bahwa Persib bisa menghentikan kedigdayaan PSM yang mampu merajai kompetisi sepak bola Indonesia dari tahun 1957 sampai 1959. Tak ayal, pertandingan tersebut pun mengundang perhatian banyak mata. Mereka, ingin menyaksikan langsung bagaimana singgasana sepakbola Indonesia berpindah ke tanah Parahyangan.
Prediksi akan tumbangnya PSM ditangah Maung Bandung berjalan mulus di awal babak pertama. Persib tampil beringas, baru dua menit laga berlangsung, Omo Suratmo mampu membawa Persib unggul 1–0. Namun, lengahnya lini belakang Persib membuat kapten PSM, Ramang berhasil mencetak gol balasan pada menit keenam.
Praktis, gol tersebut membuat tensi pertandingan berlangsung semakin sengit. Menuju akhir babak pertama, sosok Suwardi Arlan menjadi hantu bagi Persib. Sebab pada menit ke-42, Suwardi berhasil menciptakan gol untuk membuat PSM berbalik unggul 2–1.
Gol yang dicetak Suwardi, nyatanya menjadi gol kemenangan bagi PSM. Sebab, hingga akhir laga tak ada lagi gol tambahan yang berhasil diciptakan oleh kedua kubu.
Persib tertunduk lesu, karena gagal menghentikan keperkasaan tim Juku Eja. PSM patut berpesta. Singgasana sepakbola Indonesia masih bertahan di Ujung Pandang. PSM berhak untuk menjadi juara nasional untuk kali kedua secara beruntun.
Diolah dari berbagai sumber
Foto: Juaranews.com
Dimuat di Harian Umum Galamedia, rubrik Lawas