Main Aplikasi Online Dating = Desperate?
Sadar atau nggak, banyak dari kita ketika melihat teman yang membuka aplikasi online dating terlihat seperti orang yang desperate. Apa benar mereka begitu?
Salah seorang teman — namanya Angel — mengunggah link Google Form di Whatsapp story. Isinya tentang penggunaan online dating untuk memenuhi tugas kuliahnya di Fakultas Psikologi. Saya langsung buka dan mengisi link tersebut. Alasan pertama, untuk membantu teman — karena di masa lampau dan masa mendatang saya juga butuh bantuan dia. Kedua, saya pernah menjadi pengguna online dating — Tinder.
Dulu saya beranggapan bahwa Tinder adalah tempat untuk orang-orang horny dan gak ada kerjaan. Tapi, apa sebenernya motivasi orang-orang — termasuk saya — berseluncur di aplikasi online dating?
Motivasi main Tinder
Angel menghubungi saya untuk wawancara seputar aplikasi online dating. Pertanyaan pertama, “Apa motivasinya?”. Saya jawab dengan, “Gimana kalau gue ceritain latar belakang dan pemicunya?”.
Saat itu awal libur semester genap. Sejak di penghujung semester itu pun saya sudah bisa membayangkan libur tiga bulan seperti apa yang akan saya lalui. Gak ada rencana liburan bersama keluarga ataupun teman, nabung pun gak sempet. Sudah kirim email ke beberapa perusahaan untuk permohonan magang tapi belum ada panggilan. Jadi, liburan kali itu akan diisi dengan main di sekitar kota saja.
Sebulan pertama, rasanya udah sumpek. Kerjaan di rumah cuma makan tidur doang kayak babi. Tapi, siang itu saya lagi di perpustakaan suatu kampus di kota saya bersama seorang sahabat, biasa dipanggil Daff (nama samaran). Saat itulah muncul ide untuk main Tinder.
Sejak kurang lebih tiga tahun lalu, Daff selalu komporin saya untuk main aplikasi online dating. Tentu, jawaban saya selalu, “Apasih, gue gak se-desperate itu ya!”
Sampai Daff selesai mendaftarkan saya di aplikasi itu, saya pun masih merasa berdosa, hina, dan gak percaya. Bisa-bisanya gue main aplikasi beginian?
Mulai dari nama, foto, umur, ketentuan jarak, sampai bio, semua Daff yang kerjain. Dia pilih potongan dari nama belakang saya untuk jadi display name. Bisa dibilang, Daff ini memang brengsek. Dia tau foto mana yang “menjual” untuk aplikasi macam ini. Dia pilih tiga foto. Bio pun dia juga yang atur. Tapi karena saya jijik sendiri liatnya, saya hapus di hari kedua bermain Tinder.
Satu pesan dari dia soal Tinder: “Lo jangan chat duluan. Harus mahal!”. Ya siapa juga yang mau nyapa duluan? Udah hina main Tinder, masa gue duluan yang mulai? Cih.
Rasanya main Tinder
Bosen. Empat pertanyaan yang selalu ditanya sama makhluk Tinder saat awal match: hai, salken, boleh kenalan gak, tinggal dimana. Belum lagi sering muncul orang-orang yang masih satu lingkungan sama saya. Teman SMP, SMA, teman satu fakultas, sampai wakil ketua himpunan jurusan, yang tentunya mereka selalu saya swipe left.
Jadinya, saya cuma buka Tinder di saat benar-benar gabut. Bisa sehari cuma lima menit, lalu buka lagi dua hari kemudian. Sampai akhirnya, ada satu match yang menyapa dengan cara memplesetkan display name saya. Walaupun niat bercandanya dia agak “krik” saat itu, at least cara dia beda lah dari sekian match Tinder yang ada.
Setelah saling lempar candaan garing di awal percakapan, akhirnya kita mulai basa basi untuk perkenalan. Ternyata jarak tempat tinggal kami gak terlalu jauh. Jadi saat itu dia ngajak main di sekitar kota. Tapi karena kesibukkan dia dan kesibukkan saya untuk tidur cukup tinggi, kami baru bertemu setelah dua minggu kenal dari Tinder.
Keberlanjutan Match di Tinder
Setelah ngobrol dan kenal sama dia — si cowok Tinder ini — saya jadi tau kalau dia pernah jadi murid abang saya. Gak kebayang apa kata abang saya nanti saat tau kalau adik dan muridnya tiba-tiba kenal, karena Tinder.
Walau begitu, dari awal hingga sekarang kami masih berkomunikasi dengan baik. Mungkin karena alasan kami main Tinder hanya karena iseng dan gak berniat untuk cari jodoh. Lalu setelah pertemuan pertama pun, kami sudah sama-sama males main Tinder dan akhirnya menghapus akun dan aplikasinya.
Lucu-lucunya
Saat pertemuan pertama, cukup banyak yang kita obrolin. Saat itu pula terungkap bahwa dia pernah datang ke kampus saya. Bukan cuma itu, tapi ke fakultas saya. Oke, kurang greget. Dia ke acara yang saat itu ada saya juga. Oh, kurang wow. Di acara itu, hanya ada kurang lebih 20 orang.
Oke.
Saat perjalan kereta antar kota dari ujung Pulau Jawa, penumpang di hadapan saya adalah sepasang suami-istri muda. Mbanya ternyata mau wisuda di kota stasiun akhir tujuan kereta itu. Kalau si masnya, tentu nemenin istrinya. Setelah ngobrol lebih lanjut lagi, ternyata si mas yang duduk di depan saya ini masih satu circle dengan si mas Tinder.
Oke, oke. Sudah cukup. Mungkin karena ini, saya jadi harus lebih hati-hati untuk melangkah, seperti memilih untuk berseluncur di Tinder yang berujung ketemu lagi dengan lingkaran-lingkaran sempit ini.
Motivasi orang-orang main Tinder
Kalau dari tugas yang Angel buat, alasan pengguna Tinder hanya karena ingin mencari kenalan baru untuk dijadikan teman. Lalu jika sudah bertemu dan cocok, barulah ada niatan untuk terus maju ke hubungan romansa atau tidak.
Daff sendiri main Tinder juga karena mau cari kenalan baru. Dia cerita dengan bangganya sih, udah match sampai ribuan. Tapi saat saya tanya udah berapa yang jalan, baru tiga. Ya, jalan sama match Tinder tuh sama aja kayak menikahi Andhika “Babang Tamvan” sih: bukan suatu achievement.
Kalau kamu, gimana? Pernah main Tinder atau aplikasi online dating lainnya? Atau jangan-jangan alasannya karena udah lelah sama makhluk-makhluk brengsek di kehidupan nyata dan cari pelarian ke aplikasi online dating? Ya, gapapa… Mari berdamai dengan diri sendiri.
Hanya sedikit orang yang bermain Tinder dengan niat mencari pasangan dan berujung di pelaminan. Jadi, gak usah ngarep-ngarep amat lah kalau ketemu yang bening di Tinder. Siapa tau emang doi cuma iseng tapi kamunya menganggap hubungan itu serius, nanti malah bertepuk sebelah tangan. Yihaa~
