Seorang Pemaaf

Aku terbangun dari tidurku dan menjadi pemaaf.

Segala masalah seharusnya berjodoh dengan solusi dan aku melewatkannya dengan terlelap. Awalnya khawatir, lalu bingung, lalu memutuskan beristirahat sejenak, pergi tidur dan terlelap. Begitu bangun aku sudah lupa, tanpa sadar bahwa masalah yang sama akan datang memburu tanpa ampun di kemudian waktu. Aku tahu itu, tetapi aku mencoba melewatkannya dengan terlelap.

Terlelap semacam hadiah menurutku. Kita bisa beristirahat sekaligus bermimpi. Sekali bermimpi, sudah itu ketagihan. Dan aku termasuk salah satu pecandunya. Enak sekali rasanya, tanpa berbuat kita sudah mendapat. Tentu saja dalam mimpi.

Dalam mimpi, ada dua jalan yang akan kita pilih. Ini sebenarnya agak seru, tapi tergantung persepsi masing-masing. Jalan pertama namanya jalan menuju keberlangsungan. Kita akan melanggengkan mimpi dengan melanjutkan terlelap dan bermimpi kembali. Ini sebenarnya agak seru, tetapi sekali lagi, tergantung persepsi masing-masing. Bagaimana dengan jalan kedua? tentunya tidak kalah seru jika kita berhasil membuktikannya. Jalan kedua dinamakan dengan jalan menuju pembuktian. Kita akan bermimpi, terbangun, merasa baru saja terlahir kembali ataupun mendapat wahyu entah dari siapa, lalu mewujudkan mimpi itu.

Hingga saat ini, tak terhitung berapa banyak mimpi yang sudah kubuat. Semacam akumulasi dari petikan-petikan keinginan. Aku bermimpi dan keasyikan dan berjanji pada diriku sendiri untuk mewujudkannya suatu saat. Suatu saat yang entah kapan. Mimpiku bahkan sudah berumur. Ia tetaplah mimpi yang butuh dinyatakan. Itu sebenarnya salah, aku paham.

Seperti yang kukatakan di awal paragraf. Aku terbangun dari tidurku dan menjadi pemaaf. Tak ada niatan untuk menghukum diri yang begitu pemalas bahkan untuk mewujudkan mimpi sendiri. Itu sebenarnya salah, aku paham.

Berhenti menjadi pemaaf kadang perlu adanya, untuk diri yang selalu punya bermacam alasan

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Widya Arifianti’s story.