Gangguan Mental
Gangguan mental adalah sindrom pola psikologis atau perilaku yang pada umumnya terkait dengan stres atau kelainan mental yang tidak dianggap sebagai bagian dari perkembangan normal manusia. Gangguan tersebut berkaitan dengan beberapa fungsi yang penting dari manusia, yaitu fungsi psikologik, perilaku, dan biologik.
Menurut Data Kementerian Kesehatan pada bulan Oktober 2017, terdapat sekitar 14 juta orang di Indonesia yang berusia di atas 15 tahun mengalami gejala depresi dan gangguan kejiwaan lain. Sedangkan gangguan jiwa berat seperti skizofrenia mencapai 400.000 orang. Lalu menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terdapat sekitar 300 juta orang yang mengalami depresi dan gangguan kejiwaan lainnya. Dan dari data tersebut, disebutkan bahwa penderita gangguan kejiwaan lebih banyak perempuan daripada laki-laki.
Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan kelainan atau gangguan mental. Menurut Maramis, gejala gangguan jiwa yang menonjol adalah unsur psikisnya, tetapi yang sakit dan menderita tetap sebagai manusia seutuhnya. Oleh karena itu, dalam mencari penyebab gangguan jiwa, kita harus memperhatikan 3 unsur yaitu somato-psiko-sosial.
- Faktor somatik (somatogenik), yakni akibat gangguan pada neuroanatomi, neurofisiologi, dan neurokimia, termasuk tingkat kematangan dan perkembangan organik, serta faktor pranatal dan perinatal.
- Faktor psikologik (psikogenik), yang terkait dengan hubungan dalam keluarga, pekerjaan, masyarakat. Selain itu, faktor intelegensi, tingkat perkembangan emosi, konsep diri, dan pola adaptasi juga akan memengaruhi kemampuan untuk menghadapi masalah. Apabila keadaan ini kurang baik, maka dapat mengakibatkan kecemasan, depresi, rasa malu, dan rasa bersalah yang berlebihan.
- Faktor sosial budaya, yang meliputi faktor kestabilan keluarga, pola mengasuh anak, tingkat ekonomi, perumahan, dan masalah kelompok minoritas yang meliputi prasangka, fasilitas kesehatan, dan kesejahteraan yang tidak memadai, serta pengaruh rasial dan keagamaan.
Dari beberapa faktor yang disebutkan di atas, dapat disimpulkan bahwa dukungan dari lingkungan di sekitar pun diperlukan agar seseorang tidak mudah mengalami penyakit atau mental. Penyakit atau gangguan mental dapat menyebabkan berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya dapat merusak interaksi atau hubungan dengan orang lain, namun juga dapat menurunkan prestasi di sekolah dan produktivitas kerja. Bahkan bagi penderita depresi pada kasus tertentu bisa saja menyakiti diri sendiri dan mencoba bunuh diri.
Terdapat beberapa jenis gangguan mental, seperti psikosomatik, kelainan kepribadian, neurosis, psikosis, dan lain lain. Namun, ada 3 jenis gangguan mental yang paling umum atau sering terjadi, yaitu stres, gangguan kecemasan, dan depresi.
Ketiga gangguan mental tersebut bisa saja tidak hanya disebabkan oleh orang-orang di sekitarnya, namun dapat dipengaruhi pula oleh orang-orang di sosial media. Perilaku bullying yang dilakukan di sosial media atau cyber bullying ini dapat dilakukan dengan beragam cara, misalnya dengan memberikan komentar-komentar yang negatif, pelecehan atau harrassment, membuat akun tiruan untuk merugikan suatu pihak, dan lain-lain.
Perlu kita ketahui pula bahwa orang yang memiliki atau mengalami gangguan mental bukan berarti orang tersebut adalah orang gila. Gangguan jiwa dapat muncul dalam bentuk yang ringan dan mungkin hanya berupa kecemasan dan rasa sedih. Stigma ini juga berkaitan karena anggapan bahwa terdapat perbedaan antara penyakit fisik dan penyakit kejiwaan. Sehingga, orang enggan berobat karena merasa bahwa gangguan yang dialaminya tidak akan bisa sembuh dengan berobat. Mereka juga enggan untuk meminta pertolongan atau bercerita kepada orang-orang yang berada di sekitarnya karena mereka merasa takut atau malu karena dicap atau dilabeli sebagai ‘orang gila’.
Stigma ini menyebabkan gejala gangguan jiwa tidak disadari dan ditangani yang kemudian akan semakin berat yang bahkan bisa berakhir ke bunuh diri. Oleh karena itu, perlu dimulai adanya kesadaran mengenai gangguan jiwa agar kita semua bisa menangani dan mencegah sebelum menjadi gangguan mental yang berat.
Dari penjelasan-penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa gangguan mental perlu dipelajari agar tidak berdampak buruk bagi kita dan lingkungan. Seseorang yang dicurigai memiliki gangguan mental sebaiknya kita beri perhatian khusus, misalnya dengan mengajaknya mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mengajak ke orang-orang yang spesialis atau berpengalaman di bidang tersebut.
