Interaksi dengan Mahasiswa STP Bandung

Saya ingat awal tahun 2014 lalu, terbit buku saya yang bertema pariwisata. Itu pengalaman pertama menerbitkan buku solo, jadi dimaklumi saja kalau judulnya kurang asyik. Buku Peluang dan Tantangan Pariwisata di Indonesia diterbitkan oleh Penerbit Alfabeta di Bandung. Saya berharap buku tersebut bisa memberi manfaat bagi pelajar/mahasiswa dan penggiat pariwisata di Bandung sebab di sanalah STP NHI B — dulu dikenal dengan sebutan NHI (dibaca “ENHAI”) — berada dan kini bernama Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung.

Suasan kelas belajar di STP Bandung ketika saya menyampaikan materi tentang #TourismEthics.

Saya punya kesan personal dengan STP Bandung sebagai salah satu sekolah pariwisata tertua di Indonesia. Bayangkan saja, cikal bakal STP Bandung itu telah berdiri sejak 1959 yang dulu adalah Sekolah Kejuruan Perhotelan. STP Bandung juga merupakan perguruan tinggi yang bernaung di bawah Kementerian Pariwisata. Buat saya, STP Bandung punya peran yang amat strategis bagi perkembangan dan keberlanjutan kepariwisataan di Tanah Air. Maka, ketika saya mendapatkan undangan untuk menjadi dosen tamu di sana, tentu saja, saya merasa sangat terhormat sekaligus antusias untuk peluang berinteraksi dengan para mahasiswa di sekolah pariwisata tersebut.

Undangan itu datang melalui komentar salah satu posting di akun Instagram saya (@penjelajah_rempah). Pengirim pesan itu adalah Paramita Sarasvati (@paramatmamati) yang merupakan dosen muda di STP Bandung. Begitu menerima tawaran darinya untuk bisa datang dan memberikan guest-lecturing untuk mahasiswanya, saya tak berpikir soal jarak yang harus saya tempuh antara Jakarta-Bandung. Saya langsung menegaskan kesediaan.

Saya dan Ibu Dosen pun berinteraksi. Dan saya sedikit tersenyum ketika tahu bahwa ia mengenal saya hanya dari Instagram dan alasannya mengusulkan saya menjadi dosen tamu pun cukup berkesan. “Saya yang mengusulkan, Mas, berdasarkan referensi dan sepengamatan saya via Instagram,” begitu katanya. Tadinya saya pikir bisa sedikit ge-er karena buku pariwisata saya telah lama beredar di Kota Kembang itu atau menebak ia kenal sosok saya dari buku pariwisata yang saya tulis. Ternyata, saya salah menduga, ya!

Saya kedapatan jadwal untuk hadir di hari Selasa, 5 September 2017. Dosen yang kemudian akrab dengan saya pada chatting melalui WhatsApp, menawari apakah saya ingin kelas pagi atau sore. Saya memilih pagi.

Saya pun sengaja pergi ke Bandung dengan kereta sehari sebelumnya agar bisa menjumpai beberapa kawan.

Ketika pagi itu untuk pertama kalinya saya mengunjungi kampus STP, saya bisa jadi kagum dengan kondisi kampus yang teduh dan punya banyak pohon. Tentu saja bersih dan rapih. Para mahasiswa berkuliah dengan pakaian seragam lengkap dengan blazer — perempuan dan lelaki. Setiap saya berpapasan dengan mahasiswa atau staf kampus, semua orang saling melempar senyum dan sapa. Sebelum masuk kelas, saya menyempatkan sarapan di kafetaria kampus dengan hidangan pastri dan kopi yang disajikan ala hotel berbintang, namun saya takjub karena harganya tak sampai Rp 15 ribu! Saya tahu kemudian kalau kafetaria yang saya kunjungi itu adalah tempat praktik mahasiswa perhotelan, termasuk hidangannya dan pelayanannya.

Tepat jam 10 pagi, saya sudah ada di dalam kelas yang terdiri sekitar…. Saya tak menghitung, tapi mungkin sekitar 40 orang yang jumlah lelaki dan perempuannya tak berbeda jauh. Mereka adalah mahasiswa tahun pertama untuk Program Studi Manajemen Bisnis Pariwisata dan saya sedang berada di kelas untuk mata kuliah Pengantar Pariwisata.

Agak canggung juga. Tak ada dosen atau staf kampus yang mendampingi. Jadi hanya ada saya dan para mahasiswa. Usai saling berkenalan, saya melihat sisi positif kalau saya dan mereka bisa berdiskusi dengan santai dan bebas.

Saya menolak dipanggil “bapak” dan mereka memilih memanggil saya dengan sebutan “kaka.” Tak apa, kan! Toh, usia saya dan mereka hanya terpaut satu dekade.

Saya membawakan materi dan tema diskusi berjudul “Etika dalam Pembangunan Pariwisata.” Seperti biasa, saya mendorong ruang belajar yang cair dan partisipatif. Maka, saya tak menunggu untuk menyelesaikan pemaparan untuk teman-teman mahasiswa bertanya atau melontarkan pendapat.

Potret yang diambil dan diunggah oleh akun IG @egabonggasau — seorang mahasiswa di STP Bandung yang mendapatkan buku Porn(O) Tour karena keberaniannya berbagi cerita tentang potensi pariwisata di kampung halamannya di Mamasa.

Saya sangat senang ketika mereka begitu antusias dan kritis untuk memahami perbedaan antara pariwisata modern dan alternatif. Pertanyaan dan diskusi spontan pun terlontar.

“Jadi apa yang harus kita perhatikan ya kalau mau buat bisnis pariwisata, seperti perjalanan wisata?” tanya seorang mahasiswa.

Mahasiwa lain juga bertanya soal “Bagaimana dengan adanya travel warning kaitannya dengan prinsip etika pariwisata?”

Ada juga seorang mahasiswa perempuan asal Mamasa yang tak bertanya, tapi minta waktu untuk cerita tentang potensi pariwisata di kampungnya. Seorang mahasiswa peranakan Tionghoa tak luput juga berbagi cerita tentang perlakuan diskriminasi ketika liburan di salah satu daerah di Indonesia karena dianggap dan distigmakan sebagai turis asal Negeri Tirai Bambu, begitu pun ketika ia mendapat perlakukan yang tak mengenakan ketika berlibur di Malaysia menjadi turis asal Indonesia.

Banyak isu sosial terkait pariwisata yang kami bahas, termasuk gender, rasisme, dan sebagainya.

Saat itu, saya hanya punya waktu hingga jam 12 siang agar para mahasiswa bisa melanjutkan istirahat siang selama satu jam berikutnya sebelum kelas lain dimulai. Tetapi, teman-teman mahasiswa yang gemar berdiskusi itu justru mengajak saya untuk tetap bisa di kelas sampai setengah jam berikutnya.

Foto bersama teman-teman mahasiswa di Program Studi Manajemen Bisnis Pariwisata di STP Bandung.

Pada kegiatan di STP Bandung itu, saya tak berkesempatan menemui dosen yang mengundang saya. Tetapi akhirnya, saya bisa juga berjumpa dengannya ketika ia menemani mahasiswanya melakukan studi lapangan ke Kota Tua Jakarta. Pada kesempatan itu, ia meminta saya kembali untuk menjadi narasumber pada sesi diskusi dalam rangkaian kegiatan mahasiswa STP Bandung selama beberapa hari di Jakarta.

Itu adalah tanggal 14 September 2017. Saya ingat perlu sama-sama mencocokkan jadwal, sehingga kami bersepakat untuk melakukan sesi diskusi bersama di malam hari pada hari Kamis di Hotel Ibis Jakarta bersama dengan mahasiswa dari Program Studi Manajemen Destinasi Pariwisata.

Malam sebelum memulai acara diskusi itu, saya akhirnya berjumpa dengan Ibu Dosen yang ternyata lebih akrab disapa Ida. Masih muda dan usia kami — saya taksir — tak seberapa beda. Kami berkenalan dan mengobrol santai sambil ditemani dengan rokok yang terjepit di antara jari tangan kami masing-masing di lobi hotel.

Ketika hendak memulai, awalnya saya khawatir kawan-kawan mahasiswa akan merasa bosan atau jenuh karena, selain dilakukan pada malam hari, mereka baru saja pulang dari field trip ke sebuah themepark di Jakarta seharian.

Tetapi ternyata dugaan saya salah. Sesi diskusi dikondisikan oleh dosen pendamping mereka dengan sangat santai. Saya pun mengajak mereka mengobrol lepas tentang topik terkait etika pariwisata dan pengembangan pariwisata kreatif di Kota Tua. Kami berbincang banyak tentang isu pembangunan destinasi pariwisata di Kota Tua, spesifiknya adalah kota tua yang menyimpan warisan kolonialisme sekaligus sejarah-budaya lokal. Itu salah satu topik yang saya tuangkan ke dalam tesis yang kini berbentuk buku berjudul Kota Tua JKT: Pergulatan Pariwisata, Konservasi, dan Kemiskinan.

Diskusi berlangsung hingga hampir jam 10 malam!

Foto bersama teman-teman mahasiswa Program Studi Manajemen Destinasi Pariwisata STP Bandung ketika melakukan kunjungan dan mengikuti sesi diskusi di Hotel Ibis Jakarta.

Kesempatan untuk bisa berbagi dan berdiskusi dengan teman-teman di STP Bandung merupakan salah satu pengalaman menjadi dosen tamu yang sangat menyenangkan. Saya menyukai sikap kritis dan cair dari mahasiswa pariwisata. Tentu saja saya menyimpan banyak harapan dengan mereka sebagai agen masa depan untuk pembangunan pariwisata yang lebih baik di mana penerapan prinsip etika pariwisata dapat dilihat, bukan lagi sebagai beban, melainkan kunci keberlanjutan.