Oase bagi Gerak Muda Kepariwisataan: Bedah Buku di Ludens Tourism Space

Foto bersama kawan-kawan di Ludens Tourism Space dan penggiat pariwisata di Jogja.

Ketika saya masih menjadi mahasiswa di Sekolah Pasca-Sarjana Univ. Sahid Jakarta untuk jurusan Manajemen Marketing pariwisata, saya bersama kawan-kawan pendiri Jejakwisata.com kerap membayangkan ada ruang di mana anak muda memulai secara aktif gerakan kepariwisataan, bukan hanya terlibat sebagai pekerja di industri, tapi juga bicara dan beraksi sebagai akademisi atau praktisi. Sehingga, ke depannya kami berharap buku-buku kajian kepariwisataan tak melulu berteks bahasa Inggris dan bisa menangkap situasi kontemporer Indonesia.

Pada kunjungan ke Jogja tempo lalu itulah saya dan Roni dari Jejakwisata.com melihat Jogja mungkin menjadi yang akan mengawali di depan untuk gerakan anak muda di bidang kepariwisataan.

Kunjungan tersebut diawali dari seorang kawan blogger wisata yang mengontak saya. Sebelumnya, kami telah lama berinteraksi dengan hanya saling melempar hal melalui akun Twitter. Dan pada akhirnya kami mendapat kesempatan untuk bisa kopi darat di Jogja. Ia mengundang saya untuk menjadi pembicara bedah buku. Buku yang dibedah tak lain adalah buku yang saya tulis sendiri: Porn(O) Tour. Karena terkesan aneh kalau membedah buku sendiri, maka saya usulkan sebuah pembahasan yang sekaligus menjadi tema buku, yaitu #TourismEthics (Etika Pariwisata). Penyelenggara diskusi itulah yang amat menarik dibahas: Ludens Tourism Space (Ludens)!

Apa (Siapa) itu Ludens?

Ludens adalah sebuah ruang kolaborasi bersama bagi mereka yang bekerja dalam pengembangan pariwisata. Ia memiliki peran untuk melakukan kajian, perencanaan, serta pengembangan pariwisata yang berkelanjutan. Saya berkenalan dengan banyak kawan pemuda — perempuan pun lelaki — yang sekaligus menjadi mahasiswa maupun alumni Univ. Gajah Muda (UGM) yang ternyata selama ini banyak mengambil peran. Ludens didirikan oleh mereka dan kini dipimpin oleh Sidiq Wicaksono yang tentu saja berusia amat muda. Ludens hadir dengan taglineWe Are Ready to Elevate Tourism.”

Sore itu diskusi buku Porn(O) Tour dihadiri sekitar 20-an orang penggiat pariwisata Jogja. Saya senang bukan hanya bisa berbagi cerita dan pengalaman, tetapi juga menjalin pertemanan dengan benang merah soal pembahasan tata kelola pariwisata. Kami saling melempar kisah dan pandangan tentang visi pariwisata Indonesia. Banyak dari mereka saat ini sedang mengupayakan desa wisata. Begitu pun kawan-kawan di Ludens.

Usai kegiatan diskusi yang secara rutin dilakukan Ludens dengan tema kepariwisataan, kami masih melanjutkan obrolan tentang awal-mula kelahiran Ludens yang muncul dari inisiatif kelompok pemuda untuk mengambil peran dalam kepariwisataan. Sampai malam tiba, kami makan makan malam di angkringan dekat kantor Ludens dan masih betah mengobrol. Keesokannya, mereka mengajak kami mengunjungi kawasan Kota Gede di mana Ludens punya banyak rencana terhadap kawasan bersejarah itu. Kami seperti tak puas-puas berbincang dengan mereka soal pariwisata sampai-sampai kami memperpanjang hari di Jogja dan bermalam di kantor Ludens dengan saling menanam banyak harapan dan — semoga kelak — bisa kembali bekerja sama dengan Ludens untuk banyak hal.

Diskusi bedah buku Porn(O) Tour: Sisi Lain Sebuah Perjalanan.