Aku Memilih Kuliah

bukan lagunya Fatin Shidqia Lubis.

inilah akhirnya, harus ku mulai

memangnya siapa yang harus kuliah? aku? kamu? atau Fatin? meski kuliah bukan jalan satu-satunya melanjutkan hidup setelah SMA, aku tetap memilih kuliah. meski ada ‘kamu’ yang menantiku selepas wisuda di tahun ketiga, aku tetap memilih kuliah.

aku memilih kuliah karena aku ingin bekerja dan mendapat uang dengan cara yang aku mau; memang bekerja setelah lulus SMA mudah saja, namun apakah seorang pilot bisa langsung menerbangkan pesawat pertamanya segera setelah lulus SMA? bisa jadi kita langsung bekerja setelah SMA, namun akan ada titik dimana kita harus berkuliah untuk bisa naik ke level selanjutnya dari pekerjaan kita, karena pengalaman dan tentu saja kemampuan yang terbatas. proses (kuliah) akan menambah pilihan dan — yang terpenting — memberikan kebebasan. semakin banyak ilmu yang kita punya, kita semakin bebas memilih mau menjadi apa. tunggu, apakah kuliah menjamin uang dan pekerjaan? tentu tidak, yang kuliah jamin adalah pilihan, kemampuan, pengetahuan yang lebih daripada setelah kita lulus SMA. pada akhirnya, kita yang memilih ingin mendapatkan apa; uangkah? pekerjaankah? atau bahkan hanya sekedar ingin menjadi bermanfaat untuk manusia lain tanpa imbalan?

aku memilih kuliah agar aku tidak tersesat di papua. terdengar aneh, tapi nyata. mahasiswa yang berkuliah di suatu kampus pasti bukan hanya berasal dari daerah kita. mereka semua berasal dari seluruh tanah yang masih disebut Indonesia, berkumpul mencari ilmu di satu tempat bersama. terbayangkah ketika kamu sedang mengerjakan tugas larut malam, lalu seseorang menegurmu “hei kaka tidur sudah jang terlalu banyak tahan mata!”. atau “lah makan lun?”. jika kamu berhasil berteman dengan satu orang saja di setiap provinsi di Indonesia, maka kamu tidak akan takut tersesat jika berpergian kemana-mana, karena kamu punya keluarga disana. apalagi di kampus PTN seperti ITB contohnya, akan banyak sekali warga negara asing yang juga berkuliah disana. tentu saja, kamu akan punya keluarga di seluruh dunia!

aku memilih kuliah daripada langsung menikah setelah lulus SMA. meski aku tahu bahwa setelah menikah mungkin saja masih bisa berkuliah, namun aku juga tahu cicilan rumah, listrik dan biaya susu anak akan mengalihkan niatku kesana. lagipula, aku ingin memberi kesempatan pasanganku untuk mencari ilmu seluas-luasnya, untuk kemudian kami bertemu dan menceritakan semuanya — disela-sela meributkan isi rumah tangga. kemudian, kami akan mempraktekkan ilmu yang kami punya, supaya bermanfaat bagi orang-orang di tempat kami tinggal. hidup kami lebih berwarna.

aku memilih kuliah meskipun aku seorang perempuan yang katanya akan berlabuh di dapur saja. hai kaum sanguinis, catat ini; meski aku bekerja di dapur dan hanya sebagai ibu rumah tangga, setidaknya anak-anakku akan aku ajari hukum termodinamika, tentang siklus biogeokimia, tentang spektrum warna pelangi, dan bahkan latar belakang pengubahan sila pertama pada piagam Jakarta. aku tidak perlu mengeluarkan biaya berpuluh-puluh juta hanya demi kursus menjelang Ujian Nasional SD, SMP dan SMA. aku akan menjadi dosen di keluargaku. ilmuku tidak akan sia-sia.

aku memang harus memilih berkuliah agar aku berani mengatakan YA/TIDAK; aku tidak mengatakan YA karena teman-temanku semua mengatakan YA. aku mengatakan YA karena aku tau kebaikan-kebaikan sesungguhnya ada disana. coba, “katakan apa pada narkoba?”. apakah jawabannya selalu TIDAK?

sederhananya, aku memilih kuliah karena aku ingin bercerita; ketika orangtuaku penasaran, aku mampu mencaritahu. ketika anakku banyak tanya, aku suka menjawabnya. ketika ada diskusi, aku tidak diam saja. karena aku tahu sakitnya ketidaktahuan.

jika saja aku dari desa, aku akan tetap berkuliah. jika semua orang berpikiran warga desa tidak bisa, mampu, atau pantas berkuliah, maka sampai kapan aku harus mendengar orang-orang mengeluh “berobat ke dokter mahal ya” atau “duh dek, biaya bensin mahal sekali. saya harus ngutang dulu buat melaut.” tanpa ada jawabannya? — desaku butuh solusinya. kata lain, desaku butuh aku.

jika sekali lagi aku melihat keluar jendela sepertinya memang aku wajib kuliah — untuk meninggi setinggi-tingginya. bukan untuk menyombongkan diri, tapi untuk melindungi. karena yang tinggi hari ini sudah lupa bumi.

pada akhirnya semua akan tiba pada alasan sesungguhnya; aku memilih kuliah karena Tuhanku menyuruhnya. Tuhan meninggikan derajat orang-orang yang menuntut Ilmu.

lalu apa lagi alasanku untuk takut dan tidak melanjutkan perjuangan?

aku tunggu di tempat ini; tempat semua tanya harus ada jawabnya. Selamat berjuang! ( “selamat” dari rasa lelah, takut, putus asa dan menyerah.)

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.