Sampai Jadi Debu — Sebuah Resensi

lagu sederhana oleh Banda Neira

sumber: dibandaneira.tumblr.com
Ijinkan saya mengucap terimakasih kepada dua musisi, Rara Sekar dan Ananda Badudu, atas usahanya membuka mata dan telinga saya bahwa musik sesungguhnya adalah bentuk ekspresi diri yang suci, yang tidak bisa dinodai oleh kepentingan apapun selain kepentingan perasaan, dengan segala keindahannya dalam mengungkapkan — Bandung, 09 Juni 2017
Lirik lagu Sampai Jadi Debu — Banda Neira
badai tuan telah berlalu
salahkah ku menuntut mesra?
tiap pagi menjelang kau di sampingku 
ku aman ada bersamamu
selamanya sampai kita tua, sampai jadi debu
ku di liang yang satu, ku di sebelahmu
badai puan telah berlalu
salahkah ku menuntut mesra
tiap taufan menyerang kau di sampingku
kau aman ada bersamaku
selamanya sampai kita tua, sampai jadi debu
ku di liang yang satu — ku di sebelah mu

Sore yang diam, atau siang yang teduh ditambah angin yang terasa dingin pada telinga yang basah, serta suara gesekan daun yang bergemerisik adalah kombinasi paling syahdu mendengarkan lagu Sampai Jadi Debu. Terbayang, sepasang kakek-nenek yang berbincang di beranda rumah tua mereka di suatu sore, diam tapi tertawa. bahagia sekaligus sedih. diam karena sepertinya semua kata sudah habis untuk mengungkapkan betapa bahagianya mereka, tertawa karena mengingat masa sulit pernikahannya, dan mampu melaluinya. bahagia karena masih bisa bersama-sama mendengarkan tawa cucu-cucu mereka yang mengunjunginya setiap masa libur tiba, namun sedih karena semua akan ada akhirnya.

Ya, sore itu lamunanku menjadi kosong. kosong dari keluh kesah akan kehidupan, umumnya menyadari bahwa semuanya pasti bisa dilalui. khususnya, menyadari bahwa kemesraan yang dikisahkan diatas dengan “ku di liang yang satu” (vokal Rara) dan disambut dengan “ku disebelahmu” (vokal Badudu) adalah bukan cuma cinta. ada kesetiaan, ada kejujuran, ada pemakluman yang tiada batas, sebagaimana kesabaran. dan ada kasih sayang yang tiada henti, sebagaimana doa.

Penggunaan kata ‘puan’ dan ‘tuan’ sungguh menambah keromantisan cerita cinta klasik yang unik dalam lagu ini. pemilihan dua diksi yang kini menjadi favoritku, puan, tuan, ah cerdiknya. ‘badai, tuan, telah berlalu. salahkah ku menuntut mesra?’ sungguh menggambarkan perjalanan panjang sepasang manusia yang ditakdirkan tuhan untuk bersama. sungguh menggambarkan bahwa perjalanan panjang itu bukan tanpa badai, dan mereka masih saling bergenggam tangan saat badai itu berakhir.

sepi, sore, dan teduh adalah kombinasi yang pas

Rupanya, dari sudut pandang penulis lagu, Ananda Badudu, pemaknaannya terhadap lagu ini tak begitu jauh dengan pemahamanku. menurut Badudu dalam akun tumblr Banda Neira, lagu ini terinspirasi dari kisah Moma dan Popa-nya. ya, seperti di lagu itu. namun ada hal lain yang lebih membuat lagu ini begitu berkesan bagi Badudu, bahwa lagu ini diperdengarkan pertama kali kepada Moma dari Badudu, di ruang ICU, diakhir waktu.

“Akhirnya tiba giliran saya menemui Mom di sebuah ruangan di ICU. Ruang itu, katanya, setingkat lebih tinggi dari ICU. Itu adalah ruang tempat menangani orang yang berada di ambang hidup dan mati. Itu kali pertama saya melihat orang menghadapi sakratul maut. Sulit rasanya untuk tegar, mengingat yang terbaring di sana adalah orang yang sangat saya sayangi. Bersama dengan sepupu-sepupu lain, kami memasangkan headphone pada telinga Mom dan memperdengarkan padanya lagu Sampai Jadi Debu. Ini seharusnya diperdengarkan di rumah Mom pada acara kumpul-kumpul keluarga, bukan di ruang ICU seperti ini.” tulis Badudu. “ Saya memberi tahu padanya bahwa lagu itu terinspirasi dari perjalan hidup dan kisah cinta Moma dan Popa. Tangannya yang semula bergetar terus sejenak terdiam. Saya tak tahu apakah itu pertanda ia menyimak dan mendengarkan. Mom yang sudah tak mampu membuka mata hanya diam. Sesekali ia mengangguk-angguk kecil. Sesekali juga ia mengerang pelan, sepertinya menahan sakit. Saya yang berdiri di depannya menangis sesenggukan. Dua atau tiga jam setelah itu, Mom yang semasa hidup dua kali sembuh dari kanker dan bergulat dengan diabetes, mengakhiri pertarungannya. Ia berpulang.” tambahnya, mengakhiri tulisan tentang kepada siapa lagu ini pertama diperdengarkan.

lantunan lagu Banda Neira mengiringi naiknya surya di pantai Puncak Guha, Garut.

lebih dari itu, lebih dari tentang kesederhanaan musik dan kejujuran lirik, tentang kehidupan cinta yang unik, dan tentang bubarnya band ini tahun 2016 lalu (sedih, ya), ada satu hal yang aku soroti benar. bahwa musik yang tulus dicipta, akan terasa oleh penikmatnya. sangat terasa. bahkan hingga kini, aku tak bosan mendengar lagu ini. kesempatan apapun — jika suasana mendukung — pasti kusempatkan mendengar lagu ini. sepulang kuliah, sepulang ujian, selepas penat belajar untuk ujian, entah mendengarkan saja atau sambil menyanyikannya, ditambah mencoba memainkan lagunya dengan gitar, atau bersenandung saja, rasanya sungguh melegakan. semoga kini semakin banyak lagi musisi Indonesia yang tidak terjilat industri hanya demi memenuhi nafsu pasar dalam pembuatan lagu, meskipun hal itu adalah pilihan, dan sebagai penikmat, kami juga bisa memilih.

Akhirnya, aku tidak ingin merasakan kesyahduan ini sendiri. ijinkan kembali aku berbagi rasa ini melalui video dibawah ini. semoga bisa menjadi referensi ketika jengah atau resah, cemas atau malas, bahkan baik lagi, ketika senang dan riang. tolong kencangkan sabuk pengaman anda, karena aku tidak bertanggung jawab akan kebaperan yang terjadi. oh iya, jangan nagih rara dan badudu buat balik lagi ya, kasian, biarkan mereka menggunakan hak nya dalam pasal 28 E UUD 1945, tentang kebebasan, tentang pilihan. setidaknya sudah ada dua album yang masih bisa kita maknai — hingga mereka kembali lagi. ups.


Sampai Jadi Debu oleh Banda Neira
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.