Teman Bukan Tuhan

Ya, kita semua tahu teman bukan Tuhan. Kita semua tahu teman adalah manusia biasa. Tapi apakah kita cukup besar hati untuk memahami?

Bahkan untuk memaklumi kekurangan teman saja, kita sering lupa. Ya, jelas karena kita juga bukan Tuhan to?


Kita dan teman kita, aku dan kamu, dia dan mereka, sama-sama bukan tuhan. Mari saling menyadari, dan memaklumi. Tak perlulah saling menuntut untuk teman kita akan sama seperti yang kita kenal dahulu. Ya, dahulu saat kita memutuskan ingin berteman dengan dia, saat kita merasa bersyukur bisa mengenalnya.

Suatu waktu, suatu saat, mungkin kita merasa teman-teman kita tidak seperti yang dulu lagi. Entah dia lupa dengan kita, atau pura-pura lupa, atau bahkan berbeda perilaku dan perlakuannya terhadap kita, maklumkanlah. Karena mereka bukan Tuhan, begitupun kita.

Jadi harus apa kah kita? Ya berbiasalah. Bersikaplah seperti tidak ada yang aneh. Semua yang datang akan pergi, tidak ada kesempurnaan yang sempurna, selain Yang Maha Sempurna. Jika dia lupa dengan kita? Biasa saja. Dia menjadi sombong? Biasa saja. Dia lupa mengucapkan selamat di hari ulangtahun kita yang dulu biasanya dia adalah orang pertama yang datang mengucapkannya? Biasa saja. Sibukkan diri untuk memahami, memahami bahwa hidup tak selamanya senang dengan dia, juga tak selamanya sedih karena tanpa dia. Bukan malah memperkeruh keadaan dan pikiran kita sendiri dengan bertanya “Mengapa?”atau ringannya, “Kenapa Sih?!”.

“Indah itu tak selalu ada, senang itu sementara” kata Nostress dalam lagunya. Karena toh dia bukan Tuhan, dia adalah teman, yang diciptakan Tuhan. Dia tidak sempurna, yang diciptakan Yang Maha Sempurna.

Berbiasalah.

Terinspirasi dari tulisan teman saya yang luar biasa, Agung Prasetyo
Show your support

Clapping shows how much you appreciated Nur Faiz Ramdhani’s story.