Perasaan yang selalu sama ketika harus mengucapkan selamat tinggal.
Mungkin tepatnya bukan selamat tinggal, saya tidak terlalu suka kata-kata itu, selamat tinggal terasa seperti tidak akan bertemu lagi karena “meninggalkan”, lebih tepat disebut selamat berjumpa lagi karena ada doa yang tersirat ketika menyebut kata-kata itu, selamat berjumpa lagi lebih baik daripada selamat tinggal karena dengan begitu, cepat atau lambat perjumpaan akan segera datang.
“It sucks to walk through that (departure) gate.”
Saya suka bandara dan saya suka stasiun saya suka ketika saya harus pulang selepas mengantar atau kembali setelah bertemu dengan dia. Karena saya tahu bahwa kami akan segera berjumpa lagi, akan bersama lagi walau hanya sekedar melepas kangen dan makan makanan kesukaan kita atau hanya sekedar cuci mata di mall dan nongkrong di Starbucks/Jco setelahnya. Bahagia saya sudah cukup dengan menghabiskan waktu bersama dengan rencana-rencana dadakan yang kami miliki. Sampai jumpa besok lusa, sayang.
