Hati, Dempul, Amplas dan Pilox


Sepertinya ku mendengar suara yang familiar.

Duh,
Lagi-lagi bulir-bulir air mata jatuh.

Ku buka kotak hati ku,
Sudah kuduga, ia pecah lagi.
Pecah menjadi kepingan-kepingan besar dan kecil.

Ku kumpulkan semua bulir air mata ku.
Ku aduk ia bersamaan dengan doa.
Agar menjadi dempul perekat hati yang pecah.

Perlahan, dengan sangat hati-hati.
Atau terkadang dengan sembrono
Aku rekat kembali kepingan kepingan hati itu

Setelah kembali merekat,
Aku berusaha mewarnainya lagi
Dengan sedikit sisa-sisa warna kepercayaan diri
pada tabung-tabung cat yang sudah mulai usang.

Pecah lagi,
Dempul lagi,
Cat lagi,
Begitu terus sampai bentuk hati ini tidak karuan.

Terkadang aku berhenti mendempul hati ini.
Berdiam, dan berdoa.

Semoga kelak, ada yang berbaik hati
Membawa amplas dan pilox-clear.
Agar dapat menghaluskan hati ku lagi,
Dan membuat warnanya berkilau kembali.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Nurizka Fitrianingrum’s story.