Sepasang mata teduh ingin sekali aku di bawahnya melepuh

Di alisnya, biarlah aku menjadi buruh. Mengurus lentik, merawat hitam dan menyeka abu tiap kali mengenainya lusuh.

Sebaris senyum tercantik di lengkungnya berbaris kalimat-kalimat santun, berbuai suara-suara anggun, dan biar di bawahnya aku berembun. Kepada pagi yang tersisa dari malam yang baru saja tertidur. Tak mengapa, asal menjadi yang awal untuk kau tegur.

Hai wanita yang selalu aku angankan, tak perlu kau mengenakan bedak itu. Pita-pita dan kota ribuan warna pun sudah kuacuhkan. Sebab kau lebih dari sekedar bingkisan Tuhan.

Demikian tentangmu, dan Sungguh! Aku tak sedang memujimu.

Like what you read? Give Nurman Marang a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.