Menghindari Mimpi Buruk Bumi

Pembuatan replika Bumi diatas lampu LED di depan Gerbang Brandenburg di Berlin, Jerman sebagai perayaan hari Earth Hour 2017 (Sumber: itv.com, 2017)

Tahun 2018, 234 tahun sejak periode revolusi industri 1.0 di Britania Raya terjadi, menjadi tahun yang penuh arti untuk seluruh manusia di bumi karena tingkat kesadaran masyarakat dunia akan ancaman kerusakan alam yang parah akibat aktivitas manusia yang lebih besar telah meningkat pesat dibandingkan dengan periode 50 tahun sebelumnya (1968–2018).

Dalam kurun waktu 234 tahun tersebut, bencana alam silih berganti muncul di seluruh penjuru dunia. Bencana alam seperti kekeringan, banjir, tanah longsor, penurunan permukaan air tanah, pemanasan global (Global Warming), kerusakan habitat satwa liar, kepunahan jenis hewan dan tumbuhan, pencemaran lingkungan (Tanah, air, dan udara), kabut asap, serta kesalahan pengelolaan sampah dan limbah industri menjadi mimpi buruk yang telah menimpa bumi kita sampai dengan hari ini.

Burung Pelikan terkena tumpahan minyak di Louisiana, Amerika Serikat akibat dari kebocoran sumur minyak milik perusahaan minyak asal Inggris, BP di teluk Meksiko menjadi lambang mimpi buruk yang dirasakan oleh seluruh makhluk hidup di Teluk Meksiko dan sekitarnya. Sumber: (Smithsonian Ocean, 2010)

Mayoritas dari bencana alam tersebut, disebabkan oleh aktivitas manusia yang kurang mengedepankan prinsip kelestarian lingkungan dan cenderung memuaskan hawa nafsunya yang tidak pernah merasa puas. Hal tersebut tergambarkan pada proses industrialisasi yang terjadi, sejak revolusi industri pertama hingga saat ini telah menempuh proses ke empat yaitu Revolusi Industri 4.0 (Industry 4.0) bahkan diprediksi tidak akan berhenti sampai dengan dunia ini berakhir.

Dimulai sejak tahun 1784. Revolusi industri 1.0 yang mengusung pemikiran kunci untuk meningkatkan jumlah produksi dan jumlah pelayanan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh hewan dan manusia menjadi dilakukan oleh mesin bertenaga uap (Watt steam engine). Mesin uap menjadi titik perubahan sistem produksi manusia karena dianggap lebih mandiri dibandingkan teknologi sebelumnya, untuk mengoprasionalisasikannya tidak tergantung dengan lingkungan dan ekosistem disekelilingnya sangat kontras dengan roda berputar yang harus dipasang di aliran sungai untuk dapat beroperasi serta rentan terkena bencana alam seperti banjir dan kekeringan (Klingenberg, Cristina, 2017).

Mesin uap yang menjadi lokomotif perubahan utama dalam revolusi industri 1.0 menggunakan bahan bakar berupa batu bara (coal) sehingga meningkatkan konsumsi energi batu bara di Inggris dan negara — negara Eropa lainnya (Clark & Jack, 2007, p.39). Penambangan batu bara yang dimulai untuk pemenuhan kebutuhan energi revolusi industri 1.0 hingga tahun 2018 telah menuai banyak permasalahan seperti pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh polusi udara berlebihan yang terjadi di negara — negara kaya sumber daya alam seperti Kota Linfen China (CNN, 2010), pencemaran air yang diakibatkan oleh polusi air berlebihan di Kota Kanpur India (REUTERS, 2018), Deforestasi hutan di Kota Samarinda, Indonesia (VoaIndonesia, 2013).

Bencana — bencana kerusakan lingkungan tersebutlah yang penulis sebut sebagai “Mimpi Buruk Bumi” yang menjadi nyata. Menyadari akan bahaya jangka panjang penggunaan batu bara maka negara — negara maju yang tergabung dalam Group 7 (G7) membuat komitmen untuk mengurangi penggunaan batu bara (The Guardian, 2015), bahkan Britania Raya telah berkomitmen untuk mengurangi emisi karbondioksida yang mereka hasilkan dengan cara membuat kebijakan untuk melimitasi jumlah karbon dalam tingkat yang terkecil (Telegraph, 2018)

Tahun 1870–1914 menjadi periodesasi revolusi industri 2.0 yang menghasilkan penemuan — penemuan baru dan pengembangan dari ilmu pengetahuan dari revolusi industri 1.0, penemuan tersebut diantaranya adalah besi, baja, pewarna sintetis, minyak bumi, karet, sepeda, mobil, mesin pencetak kertas, pupuk, turbin, dan telekomunikasi (InterPlanetary File System, 2016). Revolusi Industri 2.0 ditandai dengan ide efesiensi produksi industri dengan penggunaan mesin tenaga listrik melalui penggunaan prinsip peralatan rotasi elektromagnetik (electric magnetic rotation apparatus) Michael Faraday (The Royal Institution of Great Britain, 2018). Hasil dari penggunaan prinsip peralatan rotasi elektromagnetik tersebut adalah motor listrik yang menghasilkan listrik yang hari ini kita gunakan. Sejak saat itu, listrik menjadi salah satu benda yang tidak tergantikan dalam kehidupan umat manusia. Mesin — mesin besar penggerak industri digerakkan dengan tenaga listrik, sebagian besar rumah — rumah manusia di dunia diterangi dengan listrik, bahkan peralatan telekomunikasi juga mengandalkan listrik untuk dapat beroprasi dengan baik (Energy Information Administration (EIA USA), 2018).

Agar dapat terus mendapatkan tenaga listrik yang cukup untuk menggerakkan proses industri pada periode industrialisasi 2.0 ini, diperlukan sumber daya dalam jumlah yang sangat besar. Salah satu sumber daya alam yang menjadi tumpuan revolusi industri 2.0 sampai dengan saat ini adalah Minyak Bumi. Diramalkan oleh The Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) pada tahun 2040, konsumsi minyak dunia akan mencapai 112 Juta barrel (CNBC Indonesia, 2018).

Sumber energi tersebut memang membawa dampak besar bagi pertumbuhan ekonomi. Namun, Kedua sumber kekuatan utama dari Revolusi Industri 2.0 tersebut juga membawa permasalahan besar dikemudian hari. Berbagai masalah muncul dari kebutuhan manusia yang terus meningkat setiap harinya akan listrik dan minyak bumi. Salah satunya adalah peningkatan gas karbon dioksida yang dapat menyebabkan efek rumah kaca (Greenhouse Effect) yang mengakibatkan pemanasan global. Pemanasan global tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan permukaan air laut yang dapat menenggelamkan banyak negara kepulauan di dunia seperti Singapura, Belanda, Fiji, Santa Lusia, dan sebagainya (Latuconsina Husain, 2010).

Pemandangan dikawasan Jakarta Utara, yang mengalami penurunan muka air tanah sekitar 10–25cm dalam setahun (Sumber: BBC Indonesia, 2018)

Bahkan, DKI Jakarta sebagai ibukota negara Republik Indonesia mendapatkan ancaman tenggelam, Hal tersebut dapat dilihat pada Jakarta Utara yang mengalami penurunan muka air tanah sebesar 25cm setiap tahunnya (Rifki Hidayat, BBC Indonesia, 2018).

Proses industrialisasi tidak berhenti, selanjutnya terjadi kelanjutan revolusi industri pada tahun 1970, yang kita sebut sebagai Revolusi Industri 3.0. Hal utama yang menjadi titik fokusan revolusi industri 3.0 adalah pengembangan mesin elektonik dan Teknologi Informasi (Information Technology) yang menghadirkan internet. Arus informasi yang sangat besar muncul seiring dengan berkembangnya internet dan menghasilkan proses globalisasi.

Proses globalisasi tersebut membawa dampak positif dan negatif. Dampak negatif untuk lingkungan adalah mimpi buruk yang berusaha dihindari dalam tulisan ini. Seperti eksploitasi yang terjadi untuk dapat memenuhi kebutuhan manusia yang terus bertambah setiap harinya, seperti yang terjadi pada bahan makanan mewah “Foie Gras”, yang berarti ‘hati yang penuh lemak’, yang terbuat dari hati angsa atau bebek. Makanan mewah tersebut dibuat dengan cara yang cukup sadis yaitu dengan membuat bebek atau angsa terkurung dikandang kecil dan diberikan makan dalam jumlah yang sangat banyak hingga ia menjadi gemuk, bahkan hingga angsa atau bebek tersebut mati dikandang tersebut karena tidak mampu lagi untuk menampung makanan ditubuhnya. Foie Gras memiliki harga yang cukup mahal sekitar $50/ pound atau sekitar Rp 707.847,50 per 0,45 Kg (CNN Money, 2019). Nilai jual yang tinggi tersebut membuat Foie Gras banyak diminati oleh para pengusaha dan praktik keji dalam pemanenannyapun tidak terhindarkan.

Pan Seared foie gras with apple saffron nutmeg purée sous vide adalah salah satu olahan makanan dari bahan dasar paling beringas di dunia “Foie Gras” (Sumber: fusionchef.de , 2019)
Beginilah cara pakan paksa terhadap angsa untuk mendapatkan Froi Gras (Sumber: Change.org)
Demonstran di Prancis membawa poster anti Foie Gras (Sumber: Theirturn.net, 2014)
Para demonstran melakukan aksi unjuk rasa di depan Restoran Melisse yang menyajikan menu “Foie Gras” di Santa Monica, California, Amerika Serikat (Sumber: LA Times, 2012)

Muncul berbagai gelombang protes terhadap aksi keji untuk mendapatkan bahan makanan mewah ini. Seperti aksi di Britania Raya, Perancis, dan Amerika Serikat. Hingga pada puncaknya terjadi pelarangan perdagangan foie gras disejumlah negara, seperti India tahun 2014, Australia, Argentina, Israel, Republik Ceko, Denmark, Finlandia, Jerman, Italia, Luksemburg, Norwegia, Polandia, Turki, Inggris, dan Kota Sao Paulo di Brazil (Satriawan, Bangka Pos, 2018).

Foie Gras menjadi salah satu contoh bagaimana proses globalisasi dapat menyebabkan eksploitasi terhadap sumber daya di bumi. masih sangat banyak bentuk eksploitasi lainnya seperti eksploitasi terhadap anak kecil untuk bekerja sebagai buruh atau pengamen, eksplotasi monyet untuk menjadi pertunjukkan hiburan bagi manusia, dan eksploitasi wanita sebagai “Barang Dagangan” secara harfiah sebagai pekerja seks komersial ataupun di media massa sebagai pemanis barang — barang dagangan pengusaha.

Eksploitasi terjadi pada seluruh sendi kehidupan manusia, sejak globalisasi terjadi tingkat pencemaran lingkungan di duniapun turut meningkat, disamping pada eksploitasi hewan, terjadi juga eksploitasi lingkungan yang berjalan bersamaan dengan pengelolaan limbah yang buruk umumnya terjadi di negara — negara berkembang seperti di India. Sungai Yamuna menjadi sungai yang paling kotor karena menjadi Tempat pembuangan limbah banyak pabrik — pabrik disana. Sayur dan buah — buahan telah dilarang oleh pengadilan tinggi India untuk ditanam disepanjang aliran Sungai Yamuna. Namun, masih banyak ditemukan perkebunan milik warga disepanjang aliran Sungai Yamuna yang menjadi salah satu rantai pemasok buah dan sayuran ke Kota Delhi.

Air dari Sungai Yamuna telah terkontaminasi polusi dari limbah. Polusi air diukur dengan mengukur kadar BOD (permintaan oksigen biokimia) dan kisaran yang diizinkan adalah 3 mg / l atau kurang. Sedangkan bentangan Sungai Yamuna yang paling tercemar memiliki konsentrasi BOD 14–28 mg / l (Mapsofindia.com, 2014)

Dua pemuda sedang membersihkan sisa peralatan upacara Hindu yang menjadi sampah dan menyumbat saluran air di Sungai Yamuna. Sumber: (The Guardian, 2017)

Bahkan, polusi telah menciptakan kerusakan pada salah satu ikon pariwisata India, Taj Mahal. Polusi udara yang terjadi disekitar Agra menyebabkan permukaan marmer putih Taj Mahal menjadi berwarna kuning atau hijau (Sunil Katarina, Reuters, 2018).

Sampai akhirnya pada Tahun 2011, Revolusi Industri 4.0 terbentuk dengan gagasan inti industri yang digerakkan oleh automatisasi perpaduan antara software dan hardware. Dunia terbentuk dari gabungan perangkat lunak dan perangkat keras. Seperti Operation System (OS) untuk perangkat keras seperti HP, Komputer, TV, Kamera, Kapal Terbang, Kapal Laut, dan sebagainya yang membutuhkan sistem operasional seperti iOS, Android, OS Microsoft, OS Blackberry, DRYOS, Ubuntu, Linux, ITRON, Softune, CxProcess, Expeed, Bionz, VxWorks, LynxOS, MacOS, Chrome OS, Solaris, IBM AIX, dan lain sebagainya (Operatingsystem.org, 2019). Bentuk perkawinan software dan hardware tersebut masih mengandung ancaman kerusakan lingkungan dimuka bumi.

Beruntungnya, pada saat ini sudah muncul kesadaran masyarakat dunia untuk melestarikan lingkungan, mereka membuat perkumpulan untuk mengusulkan pengurangan emisi karbon dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak bumi, dan bensin, perlindungan satwa — satwa liar, dan spesies terancam punah agar dapat menghindari “Mimpi Buruk” yang lebih besar daripada yang telah penulis jabarkan diatas.

Gerakan Green Peace berkampanye menolak penggunaan batu bara, Gerakan global untuk meningkatkan kesadaran cinta lingkungan oleh WWF Internasional yaitu Earth Hour. di Indonesia, kegiatan Earth Hour terbukti efektif menurunkan penggunaan listrik. Data pada 2015 menunjukkan penurunan penggunaan listrik, dari 3.487 megawatt pada 14 Maret menjadi 3.322 megawatt pada 28 Maret atau turun 4,75 persen. Terjadi penurunan sebesar 165 megawatt dalam satu jam Earth Hour terjadi di DKI Jakarta.

itulah upaya yang dapat kita lakukan untuk dapat berkontribusi dalam “Menghindari Mimpi Buruk Bumi”.

The proper use of science is not to conquer nature but to live in it.
-Native American Proverb
Salah satu bentuk perayaan Hari Earth Hour, di Balai Kota DKI Jakarta (Sumber: Tempo, 2018)