IMAN dan CINTA — II

oleh SB

(bagian pertama)

-disarikan dan diedit seperlunya, red-

Kembali lagi dengan bahasan cinta kepada Allah. Cinta kepada Allah dapat diawali dengan mengenal Allah melalui nama-nama Allah dalam asmaul husna, dan mengenal sifat-sifat Allah. Setelah cinta kepada Allah maka kita pun ridho kepada Allah dan ketetapan-ketetapan-Nya. Seperti do’a yang sering diucapkan oleh sebagian dari kita: “Radhitu billahi rabba wabil islaami diinaa wabi muhammadin nabiyya warasuulaa” (Aku ridho dengan Allah sebagai Tuhan dan Islam sebagai agama dan Nabi Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul).

Dari doa’tersebut dapat disimpulkan bahwa jika kita manusia ridho kepada Allah, maka ridho pula dengan ketetapan-ketetapan-Nya. Ketetapan Allah lah yang telah memilih Islam sebagai Agama, sehingga manusia harus ridho pada Islam sebagai agama dengan mengikuti apapun ajaran Islam. Ketetapan Allah pula yang mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul Allah, dan manusia hendaknya mengikuti apapun sunnah-sunnah dari rasul tanpa mengurangi atau menambahkan dalam hal beribadah kepada Allah. Dengan begitu maka tercapailah maksud dari ridho kepada Allah.

Lalu apakah balasan bagi manusia yang cinta dan ridho kepada Allah? Kita perhatikan firman Allah berikut:

“Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nyalah kami menyembah.” (QS. Al Baqarah [2]: 138)

Shibghah Allah oleh sebagian ulama berarti “celupan Allah”, seorang yang iman, cinta, dan ridho kepada Allah tanpa menyertakan sedikitpun kemusyrikan maka dirinya mendapatkan shibghah Allah. Shibghah pada hati, akal dan jasadnya.

Hati yang ter-shibghah maka aqidahnya mantap, seperti golongan sahabat, tabiin dan tabii tabiin sebagai penopang dakwah Islam sepeninggal Rasulullah. Akal yang ter-shibghah melahirkan pemikiran-pemikiran sesuai dengan Al-qur’an dan Sunnah, bekan dari hawa nafsu. Dengan akal yang ter-shibghah maka akan mampu segala macam permasalahn di jaman sekarang yang tidak ditemui pada jaman rasulullah dan sahabat. Jasad yang ter-shibghah maka semua amalan yang dilakukan semata-mata dalam rangka ibadah kepada Allah. Tangan untuk membantu orang lain, harta untuk shadaqah, otak untuk belajar, kaki untuk pergi ke masjid, telinga mendengarkan perkataan yang baik, mata untuk membaca Al-Qur’an.

Itulah gambaran seseorang yang hati, akal dan jasadnya ter-shibghah oleh Allah, di dunia dan di akherat termasuk orang-orang yang mulia dan mendapatkan kenikmatan yang tak terhingga. Kita berharap dan berusaha menjadi seseorang yang iman, cinta dan ridho kepada Allah sehingga kita termasuk orang-orang yang ter-shibghah oleh Allah. Aamiin.

Wallahu’alam

Like what you read? Give Nurul Burhan a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.