Ignition 1000 Startup Digital yang mengubah Pemikiran Saya

Beberapa waktu lalu saya terpilih menjadi salah satu dari sekian ratus orang yang lolos ke tahap Ignition 1000 Startup Digital kota Semarang. Alhamdulillah. Karena saya hobi programming maka saya memilih untuk mengambil role “Hacker”. Ya! Di program 1000 startup digital ini memang setiap peserta diwajibkan memilih role yang ada yaitu hacker (programmer), hipster (orang desain), dan hustler (orang marketing).

Stiker dan tanda pengenal saat mengikuti Ignition

Jadi di acara 1000 Startup Digital ini pikiran saya benar-benar terbuka. Kok bisa? Sebelumnya saya sebagai seorang mahasiswa TI hanya berpikir untuk membuat aplikasi yang keren, namun di ignition ini pemikiran saya menjadi berubah, seperti yang ada di salah satu stiker:

“Kode untuk solusi”

Jadi kita berpikir masalah apa yang dapat kita pecahkan dengan kodingan kita. Kita buat aplikasi untuk menyelesaikan masalah, bukan untuk keren-kerenan saja.

Beberapa materi yang dibawakan para panelis benar-benar menginspirasi saya. Misalnya saja seperti Social Impact + Disruptive Innovation yang dibawakan oleh mbak Alamanda Shantika yang dulu merupakan programmernya Go-Jek. Di materi yang dibawakan oleh mbak Ala ini membahas bagaimana ide kita dapat memberikan dampak sosial yang luas pada masyarakat. Contohnya Go-Jek yang dapat memberikan kemudahan kepada tukang ojek dan pengguna jasa ojek. Selain itu si mbak Ala ini juga menyampaikan tentang mengubah kebiasaan orang-orang dengan ide kita (tentunya ke arah yang lebih baik). Misalnya sebelum ada Go-Jek orang kalau ingin menggunakan jasa ojek harus ke pangkalan ojek, tawar-menawar harga, lalu berangkat. Setelah ada Go-Jek bukannya pelanggan yang datang ke pangkalan ojek, tapi malah tukang ojeknya yang datang ke pelanggan.

Selain dari mbak Alamanda, panelis lain yang sangat menginspirasi adalah Bung Yansen yang berkata bahwa kita, bangsa Indonesia, selama ini terlena oleh kata-kata yang sering kita dengar. Indonesia itu kaya raya. Padahal kalau dilihat kenyataannya negara kita ini “busuk”, banyak orang “busuk“ didalamnya. Karena itu Ia memiliki keinginan untuk mengurangi kebusukan itu dengan membangun KIBAR. Saya setuju dengan pendapat Bung Yansen. Indonesia tidak seindah yang kita kira. Kita lah yang harus memperindah Indonesia ini. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Kurang lebihnya itulah yang saya ingat dari Ignition 1000 Startup Digital kemarin. Kalau ada kesalahan, saya mohon maaf.

Terima kasih.