Ka Jekk, Seorang Figur Pantang Menyerah, Bochan, Informatika, dan HMIF.

Happy Birthday Bochan, sebuah kalimat sederhana yang dititipkan seseorang kepada kami sebagai syarat sebuah pertemuan. Pertemuan untuk menggali kisah hidupnya, Sang Pencari Cinta Bochan. Siapakah dia? Jeng…jeng…wkwwk. Puitis banget ya?

JEKK, begitulah biasanya Kak Husnulzaki Wibisono Haryadi dipanggil, Sang Pencari Cinta Bochan. Kenapa dipanggil Jekk? Siapa dan apa hubungannya dengan Bochan? Dan bagaimana kisah hidupnya? Lets check it out guys!!

Sebenarnya ada cerita menarik sebelum kami melakukan wawancara dengan Ka Jekk ini. Beliau meminta kami untuk mengirimkan suatu pesan selamat ulang tahun kepada temannya, Candra Hesen, seorang perempuan yang merupakan mahasiswi teknik informatika angkatan 2015 juga. Syarat ini harus dipenuhi sebelum wawancara berlangsung. Oh iya, teman kami Christopher Billy ternyata mencari nama panggilan Ka Candra Hesen, ternyata panggilannya “Bochan”. (Panggilan ini yang mendasari judul medium ini.) Lantas kami mengirim pesan kepada dia (dengan menggunakan nama “Bochan”) dan ternyata pesan kami dibalas dengan cara yang unik.

Mengapa unik? Setiap orang di kelompok kami dikirimkan pesan balasan yang berbeda-beda. Memang apa saja sih pesan balasannya?

“Wah usahanya masih kurang mas, Bocan belum bisa nerima”

bahkan

“Emang kamu gangerti Bocan mas, kita bukan teman lagi”

Unik banget emang. Anyway, wawancara dilakukan setelah Sholat Jumat, tepatnya 24 Agustus 2018 jam 13.20! Kami tentunya memperkenalkan diri dan Ka Jekk ini juga memperkenalkan diri. Nah, setelah memperkenalkan diri, kami membaca pesan dari Ka Bochan kepada Ka Jekk! Tentunya, Ka Jekk “terharu” hehe. Oh iya, kami juga bertanya banyak mengenai Daemon yang satu ini:

Nama panggilan Jekk -double k ya- berasal dari kata Zak dalam Husnulzaki yang lambat laun bertransformasi menjadi Jekk. Hal tersebut terjadi ketika ia masih di kampung halaman, Semarang. Kebanyakan orang di sekitarnya tidak dapat melafalkan huruf Z dengan jelas. Akhirnya Z berubah menjadi J. Kenapa harus double k? “Jek” dalam bahasa jawa berarti sedang. Untuk membedakan namanya dengan kata tersebut ditambahlah satu huruf k lagi di belakang.

Ka Jekk lahir dan besar di Semarang, Jawa Tengah. Dia memiliki empat unit yang bahkan katanya sudah tidak aktif lagi lho! Bahkan pada saat menyebut unit-unitnya apa saja, ia sampai harus mengingat-ngingat kembali. Berikut adalah unit-unit dari Ka Jekk: ARC, Pasopati, lalu Lingkar Sastra Sunda (tujuan dia mengikuti LSS hanya untuk mendapat jaket katanya), kemudian Aikido. Wah mantap sekali kakak ini.

Oh iya, di beberapa paragraf sebelumnya disebutkan mengenai Bochan. Rasa penasaran kami muncul, terutama mengenai hubungan Ka Jekk dan Ka Bochan. Who is Bochan sebenarnya? Bochan adalah salah satu sahabat Kak Jekk sejak SPARTA HMIF 2015. Ingat, sejak SPARTA. Dia baru saja berulang tahun pada tanggal 20 Agustus 2018 kemarin dan karena itu kami diminta untuk mengirim pesan. Konon katanya (maksudnya fakta) Kak Jekk sudah 10 kali menyatakan cintanya ke Kak Bochan -nembak gitu lah maksudnya-, tetapi sayangnya tidak ada yang berbalas. Miris juga ya guys. Pelajaran yang dapat kita petik dari yang katanya kisah cinta Kak Jekk ini adalah jangan pernah putus asa guys dan tetap kokoh layaknya arti warna hitam dalam logo HMIF. Hingga kini Kak Jekk dan Kak Bochan tetap bersahabat dengan baik, dong. Oh iya, latar belakang Ka Jekk me”nembak” Ka Bochan adalah spesifikasi “ksatria” oleh Ka Bochan, salah satunya postur tubuh yang tinggi. Karena Ka Jekk memiliki postur tubuh yang tinggi juga, maka beliau memberanikan diri untuk menyatakan cinta kepada Ka Bochan.

Jika pada paragraf-paragraf sebelumnya hanya dibahas mengenai kehidupan pribadi Ka Jekk (hobi,dll) maka pada paragraf berikutnya akan dibahas mengenai kisah hidup Kak Jekk di dunia Informatika dan HMIF. (Kami berkesempatan untuk mengenal Kak Jekk lebih jauh dengan menanyakan lebih banyak lagi pertanyaan.)

Menurut Ka Jekk, semester genap di Informatika itu lebih susah daripada semester ganjilnya dan itu memang telah terlihat sejak masa TPB. Kesulitannya juga makin meningkat seiring bergantinya semester. Ketika kami bertanya tentang tips Kak Jekk untuk mengatur waktu dengan baik, intinya adalah ketika sudah merencanakan untuk melakukan sesuatu tapi rasa malas menyerang, tetap harus dipaksakan. Motivasi Kak Jekk sendiri adalah orang tua yang telah membayar mahal UKT selama di ITB.

Oh iya, ada satu fun fact, Kak Jekk ini sebelumnya sudah pernah berkuliah di Universitas Diponegoro mengambil jurusan Teknik Elektro. Lalu apa yang membuatnya pindah ke ITB? Ternyata karena satu alasan sederhana yaitu permasalahan aturan rambut di universitas tersebut. Kak Jekk yang menolak untuk cukur rambut akhirnya memutuskan untuk pindah ke ITB walaupun memilih jurusan yang berbeda yaitu Teknik Informatika.

Ada lagi hal yang menarik nih dari Kak Jekk. Mata kuliah favoritnya adalah Stima atau Strategi Algoritma dan Organisasi Komputer. Menurutnya kedua mata kuliah tersebut seru banget karena ada tugas besar dari kedua mata kuliah tersebut yang membuat Kak Jekk merasa seperti seorang hacker sebenarnya.

Kami juga nanya nanya mata kuliah pilihan apa saja yang diambil. Kak Jekk mengaku mengambil Studium Generale, Bahasa Jepang, dan KKN. Mata kuliah KKN ini Kak Jekk ambil awalnya hanya karena diajak teman, tapi akhirnya Kak Jekk berpikir KKN bisa menjadi sarana hiburan untuk lepas sejenak dari kehidupan yang hanya dipenuhi coding, coding, dan coding. KKN juga bisa menjadi tempat berlatih untuk keluar dari zona nyaman. Kak Jekk juga mengambil mata kuliah Machine Learning. Uniknya sebenarnya Kak Jekk tidak begitu tertarik dengan Artificial Intelligence atau Kecerdasan Buatan yang booming beberapa tahun terakhir. Alasannya mengambil mata kuliah itu justru karena tidak ingin tertinggal ketika semua orang sibuk menggunakan dan mengembangkan AI. Hal ini juga Kak Jekk harapkan dapat membantunya untuk melanjutkan studi S2 di Eropa selepas lulus S1 dari ITB.

Terakhir ketika ditanya motto hidupnya, Kak Jekk menjawab

Life Is A Game, kegagalan bukanlah akhir dari semuanya. Akan ada banyak jalan lain yang terbuka dari kegagalan yang kita alami

Video Dokumentasi Wawancara


Tulisan ini dibuat dalam rangka tugas Daemon, bagian dari rangkaian kegiatan SPARTA HMIF 2017, oleh:

  1. Christopher Billy Setiawan (16517011)
  2. Nada Afra Sabrina (16517022)
  3. Sekar Larasati Muslimah (16517147)
  4. Edward Alexander Jaya (16517241)
  5. Nurul Utami Amaliah Widodo (16517385)