27

Hari ini saya berulang tahun. Ke dua puluh tujuh. Angka yang menarik. Karena saya selalu menganggap diri saya selalu terjebak pada angka dua puluhan awal dan tidak akan bergerak ke mana-mana, karena I don’t know, I feel forever young (masih tinggal dengan orang tua, lajang, dan belum pernah mencuci dan menggosok baju sendiri. I know, malu-maluin banget).

Lalu menuju pergantian umur, yang saya lakukan ternyata bukan membuat daftar doa dan keinginan yang belum tercapai seperti saat tahun-tahun sebelumnya, melainkan dengan seksama saya membuat daftar restoran mana yang memberikan makanan gratis untuk promo ulang tahun.

Yeah, right, food before everything.

Banyak perubahan dalam hidup, saya banyak belajar, namun terkadang masih sering banyak buat salah sih. Tapi ya sudahlah, namanya juga hidup. Enggak ada yang sempurna. Cuma Dian Sastro dan Habib Rizieq yang bisa jadi sempurna.

Tapi, entahlah, ulang tahun ke dua puluh tujuh tahun saya masih sama seperti ulang tahun ulang tahun saya sebelumnya. Saya melewati dan merayakannya sendirian. Hanya beberapa orang (yang mana dua orang saja; Wulan dan Dita) yang notice bahwa saya berulang tahun dan agaknya mereka berfikir perlu untuk mengucapkan selamat pada saya.

Jika dulu saya masih memiliki teman-teman terdekat yang masih rela meluangkan waktunya untuk sekadar menelfon dan menghanturkan doa. Sekarang saya harus terima mereka sedang tertidur lelap dengan suami di samping mereka saat jam dua belas malam berganti.

Semuanya berubah dan saya makin berkompromi dengan itu semua. Terutama pada kenyataan-kenyataan bahwa; bumi itu bulat dan tidak akan menjadi datar selain jika kiamat datang; sushi masih makanan terenak; dan serial Friends itu lucu banget. (Dan, yeah, harus lunasin tagihan kartu kredit tahun ini).

Tapi selebihnya ya saya senang-senang aja sih dengan apa yang saya punya sekarang. Dulu saya selalu berdoa untuk hal-hal yang saya miliki saat ini. Dan setelah ada, sudah seharusnya tugas saya mensyukurinya. Bukan lagi banyak meminta. Karena jika terus meminta, takutnya saya tidak pernah sadar dengan apa yang sudah saya raih dengan berdarah-darah. (Beneran, saya beberapa tahun terakhir kena ambien, feses saya berdarah, literally).

Saya juga sudah mulai enjoy dengan pekerjaan saya yang sekarang, yang selalu makan siang sendirian dan enggak pernah ngomong itu. Hampir setahun dan saya makin nunggu-nunggu kapan THR ditransfer ke rekening saya.

Mimpi saya pun jadi enggak muluk-muluk seperti tahun kemarin, at least saya sudah mencoba. Dan, yeah, gagal semua. Kurus enggak, jadi vlogger enggak, bikin youtube channel barengan juga gagal, nulis novel enggak jalan-jalan. Auk ah!

Tapi, saya langganan fitnes lagi sih, terus masih suka nulis-nulis outline novel, tapi kalau buat vlog dan sebangsanya sih memang sudah enggak ada harapan ya.

Dunia romansa saya pun masih kering aja, tidak seperti tahun lalu, masih ada si eye candy. Tahun ini total saya cuma berkomitmen dengan facebook dashboard, excel report, netflix dan makanan.

Tapi, yeah, saya masih beruntung toh, masih diberikan sehat jasmani dan rezeki sama Yang Maha Esa. Semua keluarga masih lengkap, masih ada rumah yang nyaman untuk ditiduri, kerjaan yang masih bisa buat bantu-bantu sekolah adik, dan kelengkapan organ tubuh yang lain.

Seharusnya itu lebih dari cukup.

Now, let me spend my time wisely with my books, tv series and foods.

Then, I think I’m just doing fine with my life.

PS: Happy birthday to me, to the old and new me. Well, so typical of me.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.