
Bulan terbelah tiga malam itu.
Tidak ada yang tahu kenapa. Namun yang pasti angka tiga bukan angka yang menyenangkan dalam sebuah pernikahan, terlebih jika itu tentang posisi sejajar dalam percintaan. Karena slot yang ada hanyalah dua. Tidak kurang, tidak lebih.
Namun malam itu, bulan memilih untuk terbelah menjadi tiga.
Ganjil. Namun tidak ada yang tidak mungkin.
Termasuk dalam kamar ini, di mana ada kamu, aku, dan istrimu.
Istrimu memandangku jijik, kamu dengan muka gelagapan namun ada sedikit berahi yang kamu tahan, dan aku dengan perasaan ganjil itu. Karena tidak seharusnya ada tiga orang dalam satu ranjang atau ada seorang istri yang menonton ketika suaminya berselingkuh dengan orang lain. Meski bukan perempuan, namun yang pasti aku tetap manusia.
Aku mengambil rambut pirang palsuku yang tergeletak jauh di bawah ranjang setelah istrimu dengan amarah menggelegar menarik kepalaku dengan begitu semangat. Kelewat semangat hingga ia lupa bahwa rambut palsu itu telah lepas sedari tadi dari kepalaku dan hanya ia jambak seorang diri.
Lalu amarahnya makin menjadi-jadi ketika ia mengetahui ia telah diselingkuhi oleh seseorang seperti aku.
Seseorang seperti aku.
KAMU LEBIH MILIH TINDIH-TINDIHAN SAMA DEMIT JADI-JADIAN INI DIBANDING TIDUR SAMA AKU?
Teriaknya dengan intonasi penekanan yang jauh dari lunak. Pendengaranku terganggu sejak kecil, jadi ketika kamu menutup telinga karena ucapan istrimu terlalu keras, aku hanya mengangguk pelan dan mengucapkan oh kecil, tanda aku paham ucapannya.
Namun itu sepertinya bukan reaksi yang perempuan itu mau.
Mau bagaimana lagi? Ini resiko pekerjaan. Komplain dari istri pelanggan adalah paket lengkapnya. Aku tidak mungkin ikut-ikutan marah dan emosi.
Sedang kamu, masih dengan mengenakan celana dalam saja yang di tengahnya sudah kotor dan basah dipenuhi noda titik-titik kecil, tanda bahwa saat kamu menggesekannya ke atas bokongku tadi, kamu sudah terangsang enak.
Lalu kamu berusaha menjelaskan dengan ucapan selogis yang bisa kamu temukan di kepalamu, dan berusaha membenamkannya ke kepala istrimu yang sudah terlanjur terisi kebenciaan dan sakit hati yang teramat dalam.
Ia kalah oleh seseorang seperti aku. Penghianatanmu lain cerita, namun kalah oleh seseorang seperti aku, ya itu. Kekalahan teramat sakit bagi seorang perempuan.
Ketika yang asli sudah tidak lagi memuaskan, dan kamu memilih barang yang KW. Ia pun berfikir apa pun yang ada di dalam dirinya adalah kesalahan. Dan perempuan tidak suka menjadi salah.
‘Ini tidak seperti yang kamu lihat!’
Huh, klise. Pikirkan yang lebih kreatif kek. Ucapku sebal. Membuat suasana dua orang di depanku makin memanas.
Aku mengangkat kedua tanganku, mundur perlahan, dan menyalakan rokok yang tersisa di meja.
LALU INI APA? KAMU NGENTOT BUAT RISET KERJAAN? YA ENGGAK MUNGKIN KAN BANGSAT! DASAR SAKIT KAMU!
“Hei, itu bully loh, menghina preferensi seksual orang. Termasuk kriminal. Sudah ada undang-undangnya!”
Empat mata dua orang itu makin melotot mendengar ucapanku. Dan kamu menyuruhku untuk diam dulu. Lalu aku mengedipkan mata ke arahmu dengan manja sambil menjulurkan lidahku. Tanda dukunganku padamu.
Kamu balas tersenyum kecil melihatnya, sembari tanganmu meremas kemaluanmu pelan.
SETAN! MASIH SEMPAT-SEMPATNYA GODA SUAMI ORANG!
Istrimu lalu mengambil benda berat apa pun yang ada di jangkauannya, melemparkannya dengan bebas ke arahmu dan aku. Aku tertawa geli melihatnya, sampai sepatu haknya nyantol di mataku.
Aku mengeram kesakitan, mengutuk ketololan istrimu. Aku cabut hak sepatu itu yang telah penuh dengan darah dari mataku.
Melihatku berteriak, entah dari mana datangnya, responmu kemudian adalah mencekik leher istrimu yang tiada henti-hentinya berteriak. Kamu dorong tubuhnya hingga menabrak dinding di belakangnya. Dengan gerakan gila, ia menendang-nendang ke seluruh arah dan mencakar-cakar seluruh tubuhmu.
Gerakannya begitu kuat melawanmu, di situ aku datang mendekatimu, memelukmu dari belakang, memainkan tanganku di seluruh tubuhmu dan dengan pelan tanganku bergerak menuju selangkanganmu. Memainkan kemaluanmu yang sedari tadi sudah tegang dan keras. Tanpa disuruh, aku paham ini adalah tugasku untuk menanganinya. Aku mengocoknya pelan, naik turun, dengan kecepatan menuju klimaks.
Erangan istrimu semakin lemah, dan semakin tak ada suara. Kupercepat Kocokanku. Badanmu bergetar hebat.
Tak ada perlawanan lagi.
Kamu pun melepaskan cengkramanmu di lehernya berbarengan dengan keluarnya cairan yang dari tadi kamu simpan di buah pelirmu. Kamu mengerang kencang. Sedikit berteriak, lalu mulutmu tiada henti bersumpah serapah. After taste yang selalu menggangguku.
Semua selesai.
Kamu meninggalkan tubuh istrimu yang terkulai lemas. Lalu melemparkan lembaran uang ratusan ribu ke arahku, kemudian menatapku dengan jijik.
Tidak berapa lama istrimu pun bangkit dan mulai merapihkan semua keberantakan di depannya satu persatu.
‘Besok datang lagi di jam yang sama ya,’ katanya pelan, dengan karakter yang berbeda dari teriakan sebelumnya.
Aku hanya mengangguk patuh, padahal tidak mendengar apa pun, paling dia akan menghubungiku lewas pesan teks lagi. Takut-takut jika aku lupa datang.
‘Ini untuk biaya matamu,’ ia menyerahkan lembaran uang lagi dan memasukkannya ke dalam tasku.
Sambil membawa sisa perlengkapanku, aku pun beranjak pergi tanpa pamit dari kedua pasangan itu.
Dan malam itu pun bulan menyatu kembali, bulat sempurna, dengan permukaannya yang tidak sempurna. Bolong namun dengan bangga bersinar tanpa malu. Hingga nanti ketika matahari datang menggantikannya, menutupnya kelam dan memaksanya membelah menjadi tiga kembali.
Kemudian cerita akan berulang lagi dan lagi.