The Fall

Rhye Cover Album

Dulu saya menyukai seksnya. Hanya itu yang bisa saya ceritakan. Bagaimana tangannya menyentuh pinggang saya dan menggerakkannya dengan pelan dan kadang terburu-buru.

Lalu ciumannya, bagaimana jika saya mulai dengan menggambarkan sensasi menukar ludah tidak pernah senikmat itu. Rasa asam, manis, dan ketir dari bibirnya begitu menempel jelas. Mengukir kenangan yang terkadang membuat saya tegang sendiri.

Terkadang tekanan badannya terasa nyaman, semua gerakan yang ia buat, keringat yang lahir dari sana, hingga desahan-desahan malu-malu yang hadir, kesemuanya terasa menyenangkan.

Saya tidak pernah sesemangat ini. Gerakan robotis seks yang tadinya hanya itu-itu saja mendadak jadi dua kali lebih seksi. Mungkin itu yang disebut hasrat. Atau ya karena dia memang sejago itu saja, dan saya menyukainya.

Tapi sayangnya saya tidak cuma akan menceritakan bagaimana hangat tubuhnya menyentuh tiap jengkal kulit saya saja. Mungkin ini akan terdengar dangkal, namun seperti kebanyakan orang-orang yang ditinggalkan pasangan yang hubungan sedang ranum-ranumnya. Saya patah hati karena orang tersebut.

Yeah, betapa klise bahwa orang yang akan meyakiti kita begitu parah adalah orang yang membuat kita bahagia luar dalam.

Seperti dalam deskripsi novel-novel romansa norak, hati saya pecah berkeping-keping tiap saya mendengar namanya saja. Bahkan saya bisa mendengar suara pecahan kepingan dari dalam diri saya. Sedalam itu luka ini terperi.

Tapi, ya sudahlah. Hidup harus terus berjalan.

Lalu siapa sangka, tiga tahun kemudian ia datang lagi. Dengan status sudah menikah. Dan ia menyeret saya ke tempat sepi hanya untuk berciuman. Setelah semua selesai, ia pun berteriak kemudian pergi tanpa permisi. Seperti jambret di tengah hari bolong.

Saya mengejarnya, menanyakan ‘what the heck that you did to me?’

Ia pun tertawa. Mungkin saya rindu. Ucapnya.

Manis sekali. Tapi dia milik orang lain. Berulang kali saya yakinkan diri saya sambil sesekali mencuri pandang pada wajahnya yang kini telah berubah. Lelah terlalu dalam hadir di wajahnya.

Menit kemudian yang saya sadari kami sudah di sebuah restoran dan sambil menyalakan rokok, ia menceritakan tentang ia yang belum memiliki anak.

Saya tertawa mendengarnya. Respon yang jahat. Saya tahu. Tapi setidaknya semesta memberikan karma yang buruk padanya setelah apa yang dia lakukan pada saya dulu.

Setelah puas tertawa dan melihat wajahnya yang kebingungan, saya pun kembali mendengarkannya.

“Jadi?” tanya saya. Berusaha memberikan kesan bahwa saya terburu-buru.

Ia hanya mengangkat bahu, bahu yang ketika dulu kami bercinta saya ciumi tiap sentinya. Terkadang saya gigit pelan.

Dan saya pun izin pamit.

Ia lalu beranjak bangun, menggiring saya ke kamar mandi, dan kami pun berciuman kembali.

Kali ini lebih khidmat. Mata kami pun terpejam. Namun sayangnya saya tidak merasakan apa pun di sana.

Saya menyudahinya secepat mungkin, lalu pergi tanpa menoleh sedikit pun.

Saya kembali ke lantai atas, di mana saya seharusnya melakukan olahraga. Sesampainya, saya bergegas menuju kamar mandi, mencuci semua senti tubuh saya yang tadi ia sentuh.

Saya gosok gigi saya sekencang mungkin, saya lakukan berulang dari arah yang berbeda-beda, hanya untuk tidak ingin meninggalkan satu cairan atau bau apa pun yang mengingatkan saya pada dirinya.

Saya lakukan semua aktivitas tersebut lebih dari dua kali, untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.

Karena memang seharusnya semua seperti itu.

Kisah kami berdua telah selesai, dan sayang, ciumanmu sudah tidak senikmat dulu.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.