Menjemput Senja

Ia duduk sendiri di teras rumah itu, bertopang dagu. Siang yang senyap, tiada semilir angin. Udara tak mengalir, waktu seakan terhenti. Ia termanggu sendirian. Beberapa kali Ia membetulkan posisi kopiah-nya, lalu kembali Ia bertopang dagu.

Apakah gerangan yang Ia risaukan?

Ia tersenyum kecil tatkala melihat kucing melintas di hadapan. Lalu Ia kembali terdiam.

Senja telah lama menjemputnya, dan Ia tidak menyesal sebelumnya. Keriput dan putih rambutnya tak sanggup menyamarkan kearifan jiwanya. Garis kebijaksanaan masih terukir tegas di wajahnya. Walau badan tinggi tegapnya kini mulai habis dimakan waktu. Ia menatap, entah apa yang ditatapnya. Tak seorangpun dapat membaca apa yang dituliskan mata elangnya.

Aku berada tak jauh darinya. Mengandai-andai apa gerangan yang Ia rasa. Penyesalankah itu yang terpancar dari matanya? Ia menyandarkan punggung rentanya pada kursi, Ia masih menatap.

Menolakkah Ia ketika senja memeluknya? Ketika Ia dapati waktu tak dapat diputar kembali? Sakit yang Ia rasa takkan dapat menumpulkan ketabahan jiwanya. Aku berada tak jauh darinya. Masih mengira-ngira, apa gerangan yang Ia tatap.

Masa mudanya kah yang tengah Ia saksikan kini? Ataukah pantulan masa yang akan datang?

Ia tetap sendiri dan dalam diam. hanya sepasang mata itu yang berusaha menceritakan beribu rasa dan asa. Baginya, selamanya diam itu emas. Apa gerangan yang Ia pikirkan? Ah, andai aku mengenalnya lebih lama, sebelum senja merengkuhnya.

(Cinere, December 2004)

In memoriam of Abdul Hadi Rusli 1923–2011

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.