“Pembohong!” Kata itu terucap dari mulut Ibu, yang tetap tidak sudi menatap mata Kirana. Kirana dapat merasakan pedihnya kebencian itu. Ibu terlihat jijik, seolah Kirana binatang jalanan. Betulkah surga berada di telapak kaki ibu? Jika memang benar, takkan pernah Kirana merasakannya.

“Brengsek!” kata itu terlontar penuh amarah dari mulut Bapak yang amat membenci Kirana, Bapak bahkan tak tahu seberapa besar ia membenci.

Begitu menyesalnya kah Bapak dan ibu? Entah apa lagi yang akan terjadi pada Kirana. Saat habis sudah kesabaran mereka. Setiap detik ia rasakan seratus cambukan. Ia hidup dalam topeng kepura-puraan yang kini sudah menggerogoti jiwanya.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.