Gaung Dalam Ledakan

Peran Pemuda dan Mahasiswa di Era Milenial

N. H Yudaka
Aug 31, 2018 · 4 min read
“low angle photography of high-rise buildings with flying plane” by Kelvin Zyteng on Unsplash

Bagaimana Gaung Pemuda dan Mahasiswa dalam Era Ledakan Data dan Bonus Demografi.

Sebagian besar mahasiswa sekarang ini bisa dikelompokkan kedalam “milenial”. Milenial ─ juga dikenal sebagai generasi Y ─ adalah kelompok demografi setelah generasi X. Tak ada yang dapat menyebutkan pasti kapan waktu awal dari generasi ini. Milenial kadang-kadang disebut sebagai “Echo Boomers” karena adanya ‘booming’ (peningkatan besar) tingkat kelahiran di tahun 1980-an dan 1990-an.

Pada umumnya, cara para milenial berpikir, merasa, dan bertindak dikatakan berbeda dari generasi-generasi sebelumnya. Walaupun karakteristik milenial berbeda-beda di setiap wilayah, bergantung pada keadaan politik, sosial, dan ekonomi, generasi ini ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan teknologi komunikasi. Mereka cenderung menggunakan berbagai jenis teknologi dalam lingkungan belajar mereka, seperti pemelajaran daring, presentasi interaktif, jejaring sosial, serta menggunakan media audio visual.

Masa Mahadata

Di era melimpahnya data ─ atau biasa disebut dengan mahadata ─, data dan informasi dalam jumlah besar bisa didapatkan dari berbagai macam sumber dengan sangat mudah. Bagi para pelajar milenial terutama mahasiswa, sangat penting untuk mengetahui kebenaran dari data atau informasi tersebut sebelum menggunakan apalagi menyebarkannya. Sudah menjadi tanggungjawab mahasiswa, selain dari pemerintah, menjadi bagian dari garda terdepan dalam menyaring informasi yang ada sebelum masuk atau menyebar di masyarakat.

Selain itu, mahadata juga bisa sangat berguna apabila dianalisa dan diolah dengan baik. Entah digunakan sebagai bahan penelitian yang bisa bermanfaat bagi masyarakat, atau pun untuk keperluan pribadi. Dengan adanya bonus demografi karena adanya peningkatan besar yang disebutkan tadi, dimana mahasiswa sekarang termasuk ke dalamnya, bisa menjadi kesempatan besar bagi mereka untuk menggunakannya sebaik mungkin. Bahkan pemerintah menyediakan satu portal khusus bertajuk “Satu Data Indonesia” yang bisa diakses di data.go.id. Di portal tersebut tersedia banyak dataset yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, menyediakan data dari berbagai sumber antara lain Bappenas, Pusdatin, SKPD, Badan Pusat Statistik, dan lembaga pemerintahan lainnya, serta beberapa data yang disediakan beberapa lembaga internasional yang berkaitan dengan Indonesia.

Pemanfaatan mahadata oleh peneliti bisa digunakan untuk menaikkan peringkat Indonesia dalam meningkatkan publikasi ilmiah. Berbeda dengan masa sebelumnya dimana data harus diambil sendiri, sekarang data datang dengan sendirinya dan dalam jumlah besar. Dengan ketersediaan mahadata ini, tak ada alasan lagi bagi mereka para milenial untuk tidak melakukan penelitian.


Hilang Taring

Jika kita melirik ke belakang, mahasiswa dan pemuda pada umumnya selalu memiliki peranan penting dan strategis dalam banyak peristiwa bersejarah, bahkan bisa dikatakan sebagai pencetusnya. Tapi jika kita lihat sekarang, rasanya para pemuda dan mahasiswa ini kurang dalam keikutsertaan mereka berkontribusi bagi masyarakat. Hal ini tak terjadi di Indonesia saja, bahkan juga hampir di seluruh dunia.

Jika diperhatikan, terdapat beberapa hal yang melatarbelakanginya. Pertama, kurangnya berpikir kritis. Sistem pendidikan yang sekarang sebagian besar digunakan, selalu menekankan pada penghafalan materi. Para pelajar tidak diajarkan bagaimana dan kenapa materi tersebut diajarkan kepada mereka, tetapi malah dijejali oleh hal-hal yang mereka tak ketahui dari mana asalnya, atau kenapa bisa hal itu bisa terjadi. Bahkan teori-teori yang masih diperdepatkan kebenarannya disajikan sebagai kebenaran tanpa memberikan perbandingan lebih lanjut dengan teori-teori lain. Tentu hal ini tidak baik bagi para pelajar, dimana dunia ─ terutama lingkungan kerja ─ menuntut agar kita berpikir kritis, sedangkan di lingkungan akademis, mereka sendiri masih disuapi.

Yang kedua adalah kurang tepatnya apa yang diajarkan. Hal ini terutama bagi mahasiswa, karena sangat penting mengingat banyak sekali para pengajar (red. dosen) yang mengajarkan materi kadaluwarsa ataupun tidak sesuai kurikulum. Kadang-kadang, dan mungkin kebanyakan, para dosen ini mengajarkan materi yang bisa dikatakan sudah tidak sesuai lagi dengan zamannya. Sebagai mahasiswa terutama yang masih baru, tentu mereka hanya mengikuti apa yang diberi. Dengan berbedanya apa yang diajarkan dan apa yang ada di dunia nyata, secara praktis mereka harus mempelajari kembali, yang kemudian berdampak pada berkurangnya kontribusi mereka di tengah-tengah masyarakat karena digantikan dengan waktu untuk mempelajari bagaimana dunia yang sekarang bekerja.

Kedua hal di atas menuntut para pemuda terutama mahasiswa agar mampu beradaptasi dengan cepat, bergerak lebih lincah, dan kreatif, yang apabila tidak, maka tak dapat bertahan dan tergerus oleh kemajuan zaman.


Pembawa Perubahan

Para pemuda dan mahasiswa sejak dulu menyandang peran sebagai agen perubahan dan kontrol sosial. Era Reformasi yang dimulai sejak tahun 1998, nyatanya tak selalu membawa perubahan yang baik bagi bangsa ini. Pemuda dan mahasiswa yang diharapkan memiliki peranan di lingkungan sosial, malah lebih banyak berada di kancah politik, sehingga kepribadian mereka sulit berkembang dalam mengisi pembangunan bangsa ini. Peranan mereka sangat dibutuhkan dalam kegiatan sosial yaitu sebagai pelopor perubahan dan menjadi contoh bagi masyarakat.

Harus diakui mahasiswa hanyalah salah satu aktor yang terlibat dalam setiap momentum perubahan. Walaupun begitu, mahasiswa harus dapat menjadikan dirinya sebagai aktor utama dan berada di garda depan perubahan. Hal inilah yang membedakan mahasiswa dengan aktor perubahan yang lainnya. Bisa dikatakan mahasiswa itu masih netral dan belum bersentuhan dengan berbagai kepentingan politik praktis. Mahasiswa janganlah hanya diam menunggu perubahan terjadi lalu ikut-ikutan sebagai pahlawan kesiangan.


Era milenial ini diharapakan bisa menjadi peluang dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat terutama pemuda dan mahasiswa agar dapat membawa perubahan pada bangsa dan negeri ini ke arah yang lebih baik.


N. H Yudaka

Written by

Sandi Sinda `Sanda Sunda`

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade