
Hari kedua dibulan November diakhir tahun 2019. Mendung mulai menghiasi langit Jogja akhir-akhir ini. Gembira. Dengan suka cita menerima air langit yang dalam keyakinan saya adalah berkah.
Gembira, adalah rasa yang lekat dengan kebahagiaan. Pernahkah gak sih kamu ngotot untuk menemukan kebahagiaan? Lalu, damaikah kamu setelah mendapatkanya?
Mencari rasa damai dalam kebahagiaan, sangat sering saya lakukan — dulu. Hingga saat ini saya masih belajar untuk menghindari itu. Bahkan, sebenarnya semesta pun sudah mengingatkan kita untuk tidak mencari kebahagian.
Seperti pada cerita perjalanan seekor kijang jantan dewasa (deer), yang mencari sumber wewangian yang dia cium setiap saat. Dia berlari mengikuti kuatnya angin yang menghantarkan wewangian itu, belum juga ketemu. Kijang jantan makin teguh untuk menemukan aroma wangi itu. Dia mengendus di sela bebatuan dan pepohonan namun belum juga ditemukan. Dia fokus mencari diseluruh tempat yang dia tinggali. Hinga dia tidak sadar, dari tubuhnyalah aroma wangi itu berpendar. Kijang jantan dewasa yang menghasilkan wewangian dari tubuhnya.
Musk atau minyak kasturi. Pasti kalian pernah mendengar kata itu. Minyak termahal sebagai bahan utama pewangi yang berasal dari bagian tubuh kijang jantan dewasa.
Mendengar cerita kijang jantan dewasa, membuat saya berfikir, terkadang diri ini sangat sibuk mencari hal-hal yang ada diluar. Sampai tidak menyadari, apa yang sebenarnya kita cari sudah ada pada diri. Seperti kijang jantan dewasa yang sibuk mencari asal aroma wangi yang sejatinya dia milikki. Dia sibuk mencari, bukan malah menyadari.
Mungkin sudah sangat umum ketika kalian mendengar nasihat ini, “Dont search for happiness, but make your own happiness”. Namun, tak ada salahnya jika pesan Jay Shetty kita tambahkan, tentu juga kita lakukan, “Be the one who make you happy”.
Lalu bagaimana untuk bisa membuat diri kita menjadi bahagia?
Tentu masing-masing diri memiliki bermacam cara. Dan kita juga belajar untuk itu setiap hari.
Tapi jika boleh saya berbagi, mulailah jujur terhadap diri sendiri. Janganlah terlalu kejam menghakimi diri. Bukankah netijen sudah sangat ahli menjadi hakim? Lalu, kenapa masih sibuk mengekor mereka?

Sadarilah. Jika sedih, terimalah. Sedih tidaklah buruk. Akuilah jika memang diri sedang ingin sendiri. Izinkan pula sedih berlalu, sudahi drama sedih sendu. Bahagia pun belum pasti baik. Rayakan dengan sederhana dan sewajarnya. Izinkan mereka hadir dan biarkan mereka berlalu. Sedih dan bahagia tak berlangsung selamanya.
Well, Have a nice weekend! Let’s growing together! :)
