Setiap Hari Bertarung Melawan Diri Sendiri

Beberapa episode depresi telah membawa saya melihat lebih dalam tentang diri saya sendiri

Tulisan ini saya buat pukul tiga dini hari. Sendirian, sesudah menangis berulang-ulang sambil mengetik beberapa chat di Whatsapp. Sempat terbersit pikiran untuk mengambil pisau dan mengiris nadi saya, untuk kesekian kalinya. Pikiran-pikiran lain untuk mengakhiri hidup, betapa tidak berharganya saya, hingga semua kegagalan yang berhasil dicetak selama saya hidup terus memenuhi isi kepala.

Saya masih beruntung, malam ini saya survived.

Tetapi, saya tidak tau berapa banyak lagi malam yang harus saya lalui untuk bertarung dengan diri saya sendiri. Sebenarnya, tiga bulan belakangan depresi saya sudah muali berkurang frekuensinya seiring kehidupan saya yang mulai membaik sejak tinggal sendiri di kos-kosan. Saya juga sudah mulai bisa menjalani hidup dengan sistem yang “normal” lagi. Bahkan sebulan terakhir saya aktif berolahraga: lari dan renang.

Sayangnya, saya harus kembali mengalami episode depresi. Sudah dua minggu ini saya harus sibuk mengurus proyek buku, bekerja diselingi kuliah sehingga kegiatan olahraga harus saya kesampingkan terlebih dulu. Efeknya, jam tidur saya kembali berantakan, pola makan juga tidak teratur. Saya sangat aktif di siang hari, tetapi tibalah malam ketika saya sendirian di kamar dan menyesali hidup.

Sejujurnya, saya sudah bisa mengenali pemicu depresi dan kecemasan saya muncul: kelelahan, over-multi tasking, dan kurang berolahraga.

But, sometimes life isn’t going to be smooth all the way.

Rasa kecemasan saya muncul ketika melihat pola tidur yang berantakan, kurang disiplin dalam manajemen waktu, ketidakmampuan untuk menghadiri sebuah acara, kesalahan dalam bekerja, dan sebagainya. Dimana kemudian semua itu bertumpuk, dan menciptakan ledakan kecil dipenghujung hari. Efeknya, rasa tidak pantas untuk hidup terus menggerogoti isi kepala sampai rasanya sudah tidak ada lagi alasan untuk bernafas.

And, I have to told you, this is real.

Saya masih bersyukur karena saya bisa mendapat pertolongan dari orang-orang di sekitar. Meski saya tau betapa saya sudah merepotkan mereka dimana masa-masa kumat ini terasa sangat menyebalkan, they stay still. Di luar sana masih banyak orang yang tidak seberuntung saya untuk mendapat uluran tangan, hati, maupun telinga.

Sebagai penutup dari tulisan ini, saya hanya ingin berkata.

Whoever you are, you’ve survived another day against yourself. I’m so proud of you.
Like what you read? Give Indah Febryyani a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.