Why people keeping up their memories with tattoos?

kalo kata mamang Jack London sih begicu…

Beberapa orang yang pernah ngefollow Instagram gue dengan akun @nyooron pasti tau banget gimana gue dulu and what was happened earlier in my life. Gue termasuk orang yang quite open di media sosial, meski nggak semua hal gue beberkan. Atau, biasanya gue akan memakai beberapa analogi untuk menyampaikan isi kepala (atau hati) gue.

One thing that people might known from my old Instagram’s account is my tattoos. Yap, gue punya tattoo, nggak cuma satu tapi by the time gue nulis ini, ada 5. Yea, quite much for me in early 20s. Tattoo gue semua dibuat mulai dari kurun waktu 2014–2017. Jadi, kalau sekarang gue 20 tahun, tattoo pertama gue dibuat 3 tahun lalu, which I was seventeen, dan masih kelas 3 SMA.

“Kok lo bisa bertato pas masih SMA? Emangnya orang tua nggak tau? Sekolah nggak mergokin?”

This was quite interesting back then. Hahaha. tattoo pertama gue obviously inked onto hidden body part. Gue buat di rusuk kiri. Karena bagian itu satu-satunya yang gue pikir aman, nggak visible secara keseharian, dan bisa ketutup handuk waktu mandi. Turned out, my first inked was so painful and I almost fainted during the process. Mixed feeling between nervous, sakit gremetan, sampai tragedi mati lampu di studio tattoonya. Awal-awal gue baru selesai buat tattoo itu, gue selalu 15 menit lebih lama di kamar mandi karena harus pakai baju disitu, biar ortu gue nggak tau.

Yah, tapi namanya orang tua selalu punya cara untuk tau kondisi anaknya. No matter how impossible is that.

Setahun kemudian, giliran bokap gue yang tau anaknya bertattoo, dan gue agak ngakak sama reaksi dia. jadi, habis gue tunjukin tattoo gue yang di ribs, respon dia kira-kira begini:

“Itu gede banget astaga. Bisa disetrika aja nggak?”

Sick joke by daddy.

Back to the main question.

Why people keeping up their memories with tattoos?

Ini bukan macem serialnya Kim Kardashian itu. Bukan. Tapi beside to become the statement of their life, tattoo is another way to keeping up with our memories. Karena gue, termasuk golongan orang itu. Tattoo gue lima-limanya punya cerita sendiri, dan kalau dijelaskan mungkin bisa bikin serial drama sampe enam season sendiri. But let me elaborate you why does it happen in my version.

tattoo yang permanen aja aku rawat, apalagi pernikahan kita~
  1. Tattoos are permanent — ya, of course it’s permanent. Kalau yang temporer mah henna abang-abang di lokasi wisata juga banyak. karena faktor permanennya itu membuat orang harus berpikir panjang untuk mengambil keputusan, atau kadang nggak make mikir bisa langsung buat. Ke-permanen-an tattoo ini juga yang menjadikan para pemiliknya memiliki semacam kontrak dengan tubuh mereka. Kontrak untuk memiliki, menjaga, atau terkadang memutuskan untuk me-non permanen-kan tattoo tersebut. Sifat permanen tattoo ini seperti attachment of commitment, entah lo takut untuk terus berkomitmen dengannya atau bertahan. That’s it.
  2. It is visible — karena tattoo ini adalah hal berbentuk fisik, tentu bisa dilihat. setiap hari lo akan melihat tattoo lo, sadar atau tidak, sengaja atau tidak sengaja. Dengan kemampuan kita melihat tattoo tersebut, dan hanya kita yang tau maknanya, membuat tattoo ini lebih dari sekedar gambar atau tulisan, but also fly our minds away to what the meanings behind it.
  3. You carried it everywhere — mau ditutupi pakai long sleeve, mau terbuka dengan bikini, tattoo akan lo bawa kemanapun. Fun factnya, tattoo yang terimprint di badan lo sudah masuk ke sistem lo. Your blood system is keeping up your tattoos, but also fight over it. The chemical you’ve injected from the inks would slowly faded by the time because the mechanicsm of white blood component which eat ups “strange” cells in your body.
  4. Your tattoo has a meaning — either it explainable or not. Terkadang mungkin lo mau menceritakan arti dibalik tattoo lo. Atau lo nggak mau diganggu pertanyaan “maksudnya lo bikin tattoo ini apa sih?”. but, people love to hear a story, don’t they? Mereka biasanya nggak puas kalau lo cuma jawab, “oh, suka aja.” Lagipula, lo bisa menjadikannya bahan obrolan yang terkesan intim, karena ini berhubungan dengan perangkat tubuh lo (i’m not talking about “perangkat” yang lain).

Jadi, buat kalian yang mau dan masih berniat untuk membuat tattoo, mungkin 4 poin diatas sounds familiar. I don’t know. Kadang gue berpikir, buat apa lo menyakiti diri lo hanya untuk terus memiliki gambar atau tulisan di tubuh? Buat apa lo membuang uang hanya untuk ditusuk-tusuk jarum? Buat apa mengingat kenangan yang mungkin mau lo lupakan dan harus tertanam di badan?

Those still being my biggest question of all.