Menyembah Tuhan yang Takhayul [?]

Gambar oleh Billeasy

Tulisan ini adalah versi Bahasa Indonesia dari tulisan sebelumnya — Worshiping the Superstitious God.

Beberapa hari yang lalu saya menyempatkan melihat acara puja dan sembahyang lewat IG Live dari akun teman saya di Bali yang beragama Hindu. Sekaligus ingin tahu lebih, apa sebenarnya Hindu selain karena telah membaca novel Aparajito. Ya, walau cerita Aparajito adalah Hindu-India, yang memang punya perbedaan dengan Hindu-Bali. Sesederhana itu.

Sangat menarik, ketika pada akhirnya saya sadar bahwa ada pelajaran baru tentang toleransi dan saling menghargai dari sisi “menyembah Tuhan-yang-takhayul”.

Bunga yang ditabur, air yang dipercik, susu yang ditumpahkan dari atas sampai ke bawah patung, mantra chanting yang tidak berhenti dinyanyikan sepanjang sembahyang, dupa yang terus dinyalakan, membuat saya berpikir dan merenung beberapa saat. Kalau dulu, saya akan merasa konyol melihat hal-hal seperti itu. Karena memang bertentangan dengan iman dan kepercayaan saya. Tapi, saya bersyukur bahwa pemikiran seseorang itu sangat dinamis. Seiring berjalanannya waktu dan pengalaman, ia akan senantiasa berkembang dan berubah.

Sebagai seorang Kristen yang menganut ajaran bahwa tidak ada benda lain yang menyerupai apa pun untuk menyembah (Tuhan) — bdk Keluaran 30:3–6, maka kalau melihat kegiatan yang demikian, akan sangat mudah bagi saya untuk memberikan justifikasi terhadap hal-hal yang bertentangan dengan iman yang saya yakini.

Tapi, tapi, tapi, untungnya kesadaran bahwa panduan yang saya percaya sebagai standar, belum tentu cocok menjadi standar bagi orang lain, yaitu Alkitab.

Tidak saya pungkiri, ada masa bagi saya saat mulai mempelajari ajaran ke-Kristen-an lebih dalam, mungkin karena terlalu menggebu-gebu, dan mulai mengetahui ini-itu benar-salah, menghakimi seseorang terlalu gampang (walau tidak tampak lewat indera orang lain / penghakiman di dalam hati) kerap saya lakukan, bahkan ajaran, iman, dan kepercayaan seseorang pun saya ukur dengan ajaran yang saya anut. Padahal, itu benar-benar konyol. Dan saya bersyukur, pada akhirnya saya menyadari kekonyolan ini.

Saya sangat tertarik menulis ini, karena melihat banyaknya orang-orang yang terlihat oleh saya di hampir semua platform media sosia yang saya gunakan yang hobbi menjelekkan agama, iman, dan kepercayaan orang lain. Alangkah buruk, tidak elok, dan tidak menunjukkan seseorang yang memiliki agama. Padahal agama semestinya jadi alat baginya untuk menebar kebaikan, cinta, kasih, damai, dan kesejukan bagi semua makhluk.

Lingkaran saya kebanyakan diisi oleh orang-orang yang menganut aliran Abrahamik, Agnostik, dan Atheis. Beberapa di antaranya, ada aliran keras, tapi yang ramah dan santai juga banyak. Semuanya sah-sah aja dan saya bersyukur untuk pandangan-pandangan yang baru saya ketahui, bahwa sikap toleran dan menghargai sesama sebenarnya tidak sulit untuk dilakukan. Dan itulah yang akan terus saya pelajari dan berjuang untuk diterapkan sepanjang hidup.

Bagi penganut aliran Abrahamik, sebelum meyakinkan mereka (yang menyembah patung, gunung, laut, sungai, hewan, dewa, dll), bahwa Tuhan mereka itu cuma takhayul, sebelum menghakimi para pengananut agnostik dan atheis itu jahat dan sombong karena tidak adanya Tuhan yang mereka sembah, tenangkan hati dan merenunglah sebentar, sambil minum kopi juga boleh.

Kalau kita melihat orang lain melakukan sembahyang, menyembah patung, dan sejenisnya itu adalah konyol, menurut kalian, bukankah mereka juga meliha kita yang sedang berdoa dan menyanyi juga konyol. Terlepas dari semua alasan dan argumentasi yang akan muncul satu per satu?

Kalian bebas berpikir kalau mereka yang berbeda denganmu sedang menyembah Tuhan yang takhayul, tapi bukan berarti kalian punya hak melarang siapa pun untuk percaya takhayul. Tidak sedikit yang memandang Sheol, Hades, Gehenna, Lautan Api, Firdaus itu takhayul dan meragukan kebenarannya, karena memang belum terjadi, tapi saya percaya-percaya aja tuh.

Menjunjung tinggi kebebasan beragama itu artinya juga mengizinkan seseorang untuk percaya kepada narasi apa pun yang menjadi pedoman jati diri dan cita-citanya. Kalau seseorang mengawali kalimat dengan “I believe”, pernyataan yang mengikutinya itu tidak perlu pembuktian empiris.

Argumentasi utama penganut agama Abrahamik, khususnya Kristen (bukan Katolik) dalam menentang penyembahan selain Allah-Kristus-Roh itu apa sih? Ya kitab “Keluaran 20”. Tapi “Keluaran 20” tidak bisa dijadikan standar bagi setiap orang yang menganut iman dan kepercayaan yang berbeda.

Jadi, supaya kita bisa berpikir dan bersikap lebih baik, memandang sesuatu dari arah yang berbeda adalah salah satu cara yang baik. Begitu juga kalau mau tahu budaya terbaru dari bapak-ibu yang selow dan receh, cek grup WA yang sehat. Buat ngamatin orang-orang yang lagi eksplorasi jati diri, cek Instagram. Buat tahu konflik asmara rakyat Indonesia, perhatiin lirik dangdut. Buat ngamati budaya karakter manusia-manusia yang suka ngegas, cek facebook dan twitter.

Jadi apakah Tuhan saya adalah takhayul dan agama saya adalah fiksi? Iya, buat orang lain. Tidak, buat saya. Kenapa? Karena mau saya jelasin sampai mulut berbusa juga orang-orang lain bisa/mungkin aja nggak bakal ada yang percaya kalo Tuhan – pribadi yang saya kenal dan saya patuhi-itu benar ada.

Bahkan kalau saya perhatikan dari banyak debat berbasis agama di YouTube, tidak peduli apa isi argumennya, yang akan menang itu kubu yang lebih sering dan lantang mencatut nama Tuhan. Jadi hentikan saja pertikaian atau patahkan aja niat untuk bertikai karena iman, agama, dan kepercayaan yang berbeda. Carilah bahan pertikaian dan perdebatan yang lain, misalnya; kalau semua SUAMI disebut MISUA, apakah semua ISTRI bisa disebut RIIST? Bukankah konsep kesetaraan harus ditegakkan di masa ini? Mungkin lebih seru, kan?

Udah begitu saja. Semoga bermanfaat. 
 
Tertanda, abang-abang karyawan swasta yang mencuri-curi waktu di jam kerjanya.