Perihal kehilangan
Aku tak tahu apa rencana Tuhan mempertemukan kita. Untuk berbagi kasih, mengumbar kejelekan masing-masing atau sekedar untuk ber-hahahihi. Satu yang aku yakini, Tuhan mempertemukan kita untuk berbagi kasih, semisal dalam pertemuan kita ada terselip caci, tawa juga tangis, aku anggap itu bonus dari Tuhan untuk kita lebih saling memahami — satu sama lain.
Aku tak tahu apa rencana Tuhan menitipkan rasa ini padaku untukmu saat pertemuan itu. Rasa yang tiap hari, bahkan detik selalu menggebu dalam hati. Rasa yang membuatku kembali bergairah menjalani arah hidup--walaupun aku tak yakin apa sebenarnya tujuan hidup. Kata orang rasa ini disebut cinta, tapi aku tak mau menyebut ini sebagai cinta. Aku lebih suka menamai rasa ini sebagai kasih. Bagiku makna cinta sudah bergeser jauh, cinta itu identik dengan nafsu sekarang — setidaknya ini yang aku pahami dari beberapa temanku yang menodai makna cinta demi melampiaskan nasfu mereka, bangsat kan. Ah apapun mereka menyebutnya, aku bersyukur Tuhan sudah menitipkan rasa ini padaku untukmu.
Dari rasa kasih itu Tuhan mengajarkan padaku perihal kehilangan, bahwa disetiap kisah manis pertemuan ada tangis yang mengintai, ada sepi yang memanggil. Perihal kehilangan adalah sejarah yang membuat kita belajar tentang pertemuan, kasih, caci, tawa dan juga tangis. Kehilangan bukan mengajarkan kita kebencian, kehilangan mengajarkan kita arti menyanyangi — kita tidak akan benar-benar melepaskan seseorang kalau kita benar-benar menyayanginya.
Semoga perihal kehilangan ini bisa membuat kita — aku khususnya, lebih menghargai setiap proses pertemuan.
Ocehanbumi, 2017
