Menuju Kehancuran dan Penindasan Mahasiswa

Melihat fenomena kemunduran kemahasiswaan pada kampus ini, sudah barang tentu hal itu tak jauh jauh dari persoalan akademik. Saya pun merasakan hal yang sama, akademik memang merupakan pertanggungjawaban diri sendiri, yang mana hal itu memang mengikat secara tidak sadar. Meskipun tidak semua orang mementingkan akademik dalam berkuliah, tetapi tetap adanya suatu rasa tanggung jawab pada nilai, orangtua ataupun almamater, ataupun juga seseorang yang memang terlihat tidak memperdulikan akademiknya, bukan suatu rahasia umum jika seorang mahasiswa setidak-peduli apapun dengan nilai ataupun indeks, mereka tetap merasakan kekecewaan ataupun penyesalan terhadap hal itu. Hal ini menunjukan pada dasarnya setiap mahasiswa memang secara sadar ataupun tidak sadar mempunyai tanggung jawab pada akademiknya, tak usah terlalu jauh memikirkan bagaimana seorang mahasiswa akan berada pada masyarakat jika memang tujuan masuk kekampus ini hanyalah demi akademik semata. Andaikata memang tidak seperti itu, lantas mengapa memilih kampus gajah yang memang terkenal akan kesuperioran akademiknya ?

Menjadi kontradiksi tersendiri pada pernyataan-pernyataan tentang bagaimana seharusnya sesorang mahasiwa turun ke jalan, ataupun mengkritik pemerintah, mencari solusi atas permasalahan yang ada dan lain-lain hal jika memang sebenarnya masuk kampus ini dengan suatu keyakinan bahwa kampus ini adalah tempat terbaik untuk belajar. Inilah menjadi alasan jika memang adanya protes bahwa semakin lama mahasiswa kita hanya belajar-belajar dan belajar, bagi mereka yang menyangkal bahwa mahasiswa seharusnya tidak seperti itu, lalu mengapa memilih kampus gajah ini yang memang sedari awal didoktrin untuk lulus 4 tahun ?

Ya, saya masih mengingat bagaimana tulisan-tulisan di Sabuga tentang diharapkanya mahasiswa lulus 4 tahun, serta bagaimana adanya Drop-out jika berkuliah lebih dari 6 tahun, inilah yang memantik adanya ‘mereka’ yang berorientasi untuk cepat-cepat lulus dengan IP yang memuaskan, meskipun adanya suatu peraturan surat pengantar lulus yang mengharuskan mahasiswa untuk berprestasi ataupun berkarya, tidak ada sebuah surat pengantar kelulusan yang berisi “Berhasil menurunkan harga parkir” ataupun “berhasil Mengkritik keputusan sepihak rektorat” bagi mereka yang memang tidak mempunyai jabatan baik di unit,himpunan ataupun KM. Padahal, pengembangan diri yang diharapkan menjadi output dalam aktif di Unit, Himpunan ataupun terpusat dapat dilakukan secara mandiri, dengan aksi-aksi nyata, dengan membaca, dengan bersosialisasi ataupun hal-hal yang mana tidak harus dicari di Unit, Himpunan ataupun terpusat. Hal inilah yang aku lihat mengapa kemahasiswaan itu sendiri mengalami kemunduran, sudah tidak adanya kemauan untuk berkarya demi Kampus Gajah ini, tetapi hanya ada kemauan untuk berkarya bagi diri sendiri, bagi eksistensinya.

Dengan kejadian pembegalan yang berakibat adanya peraturan jam malam memang menjadi sebuah domino effect yang akan berakhir pada kematian pergerakan. Hal-hal inilah yang menurut saya suatu strategi rektorat untuk membatasi gerak mahasiswa. Tanpa adanya kesadaran dalam berkemahasiswaan, tentu mahasiswa akan semakin menurut dengan kebijakan-kebijakan sepihak yang merugikan, dengan kemunduran yang ada tidak ada lagi nantinya pembangkang-pembangkang yang memprotes kebijakan tersebut, atau memang sudah tidak perlu ? Permasalahan-permasalahan sekarang ini, sebanernya dirasakan oleh setiap mahasiswa, tetapi tidak adanya kemauan mereka untuk protes, tidak adanya keberanian mereka untuk beridiri diatas penindasan! Kemudian siapa lagi yang akan memprotes jiak UKT naik? Atau siapa lagi yang akan memprotes proyek-proyek dengan dana ‘hantu’? siapa lagi kalau bukan mahasiswa nya sendiri ?

Mungkin memang sudah tidak diperlukan lagi berkemahasiswaan,selain belajar dan cepat lulus dari tempat ini. Biarlah kami para mahasiswa nantinya menjadi budak-budak korporasi, menjadi anjing-anjing yang dibungkam menjadi manusia yang tidak di’manusia’kan.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.