Obituari Sang Tuan

Dalam gelapnya malam

serta sempitnya gang di persimpangan

ia kembali menyapaku

tetapi kali ini, ia maju selangkah lebih dekat

tersenyum padaku

pada pojok gang itu.

Suaranya tak terdengar

tetapi

aku mengerti maksutnya.

“Ayo pulang, sayang” ujarnya

aku mengacuhkanya

tetapi ia tak berhenti begitu saja

ia tetap mengikuti

bersatu dalam bayangan diri

tersenyum dalam keramaian

mendengkur saat ku tertidur

Dalam terangnya siang

ia kembali datang

kali ini

ia mengerenyitkan dahi

seakan isyarat

inilah waktuku,waktu yang telah habis

Selamat tinggal sayang,

selamat tinggal sahabat.

Waktuku semakin tipis

ia telah berada di titik nadir.

dalam gang itu bisa saja aku kembali

atau

dalam jalan raya itu bisa saja aku kembali

atau bahkan

pada sujud terakhirku

aku akan kembali

perlahan jiwaku telah pergi

perlahan tubuh ini tak kuat menanti

ajakanya, bahasanya serta isyaratnya

Tunggulah sebentar tuan,

aku belum banyak berarti

aku masih mengartikan diri.

Sabarlah sedikit tuan

janganlah hunus diriku

dengan pedang takdir

janganlah tarik aku

dengan jerat tali kematian

Tuntunlah aku tuan

jika memang itu kehendakmu

tuntunlah aku menuju

kebahagiaan atau kesengsaraan.

Selimutilah aku dalam ketenangan

pendamlah aku dalam tanah tangisan

lupakanlah aku dengan senyum

perpisahan…..

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.