FoyaFaya, apakah untuk foya-foya?

Januari 2016

Screenshoot Homepage FoyaFaya

Gagalnya Kerai membuat saya lebih fokus menjalani pekerjaan sebagai freelance illustrator jasa ilustrasi portrait FoyaFaya. Usaha ini adalah usaha tak sengaja tanpa niat. Awalnya saya hanya merapikan portfolio orderan jasa ilustrasi yang masuk melalui Instagram sebagai online showcase yang mudah diakses oleh calon customer. Namun, akhirnya keterusan hingga hari ke hari ke bulan bahkan ke tahun. Mulai dari FoyaFaya memiliki website sampai akhirnya web tersebut tidak terjamah (lagi-lagi) dan mati.

UI Kit sebagai guidance website FoyaFaya

Menjalani kehidupan sebagai full time employee berbarengan dengan freelance illustrator memang sulit dan mengorbankan seharian penuh untuk bekerja di 2 (dua) alam yang berbeda. Tidak jarang kurang tidur, zombie face dan panda eyes terbawa-bawa ke kantor. Maka wajar jika usaha ini tidak serius saya jalankan. Tertera jelas UX/UI website FoyaFaya yang akhirnya bisa saya share, kalau dipikir-pikir suka heran juga, mengerjakan semua ini sendiri from scratch dari mulai UX sampai UI, layout hingga graphic asset (icon & photography). Untungnya saya punya sahabat yang jago programming hingga web ini bisa aktif beroperasi beberapa bulan di penghujung tahun 2015.

FoyaFaya Full Page Paralax

Januari 2015 — Januari 2016 :
FoyaFaya beroperasi tanpa saya sadari. Saya hanya menjalani apa yang ada di depan mata saja. Semenjak Kerai gagal, orderan ilustrasi wajah yang sedari dulu memang selalu ada makin terus datang bertambah. Dari 1 wajah hingga lebih dari 5 wajah. Dari gambar manual sampai saya tidak sanggup dan hanya menerima orderan gambar digital. Dari print di kertas sampai print di mug dan cushion. Dari ukuran A5 sampai ukuran A2. Semua saya jalani, hujan-hujan membawa bingkai dengan lapisan kaca tebal yang berat, kanan kiri bahu saya panggul dan jinjing ala-ala tukang dagang keliling. Sudah seperti kuli saja, tapi saya sadar saya memang kuli gambar. Seberat apapun itu, saya jalani sendiri sampai akhirnya saya punya seorang pegawai dan bisa menggaji adik kelas saya tersebut selama 4 bulan berturut-turut.

Kenapa hanya 4bulan saja? Karena, jujur menjalani usaha jasa itu melelahkan dan saya sering kurang tidur dan jatuh sakit. Namun, untuk menutup usaha ini, tidak pula semudah membalik tangan. Banyak godaan yang datang, orderan pun makin beragam hingga ke orderan wish card & wedding invitation card. Tapi dasar memang hobi, saya jalani saja karena lumayan hasilnya bisa dipakai untuk self reward, belanja, dan mentraktir kedua orang adik saya yang masih kuliah.

Revisi Footer

Pembuatan website ini juga tidak semulus yang dibayangkan, cuma anehnya saya jarang mengeluh. Seperti merawat peliharaan saja, senang dan lumayan menghilangkan stress sepulang kantor. Contoh revisi web ini adalah pada footer di atas, perubahan saya lakukan karena melakukan benchmark ke beberapa website online shop pakaian. Sudah online shop, pakaian pula, bener-bener “gak nyambung kan”. Dalam hal ini, saya memang tidak punya measurement yang jelas, selain karena saya tidak suka menganalisa dan berteori, mungkin juga karena saya lebih menyenangi seni dari pada desain. Apa yang saya buat hanya berdasarkan taste dan kesenangan saya saja.

There is no spesific reason and theory why I wrote down “private shopping”, why I created “peach floating button”, why I madeanimated watery icon”. All I’ve done was because “ini gue banget”, and no matter what people say lah. I really love it! (Ups, pardon my Singlish)

Ada alasan besar kenapa saya menceritakan FoyaFaya di Medium. Jujur, saya sedang kebingungan. Semakin kesini saya semakin fokus untuk membangun bisnis produk yang sedang saya rintis, tapi saya tidak tega membunuh FoyaFaya begitu saja. FoyaFaya ini, kalau sedang full order bisa mencapai setengah gaji fresh grade lulusan DKV, lumayan buat para freelance illustrator kalau ada yang interest untuk jadi kontributor.

So, if you readers ada yang tertarik untuk jadi kontributor illustator dan ataupun co-founder FoyaFaya. Saya senang sekali loh, I’m really open to talk further about its business model. Just contact me thru this Medium or email yah :)

A single golf clap? Or a long standing ovation?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.