Ketika Saya Jual Diri

Ketika saya melontarkan kata “Jual Diri” kepada mahasiswa, respon yang saya terima sering kali sikap-sikap salah tingkah. Beberapa ada yang menyambut dengan cekikikan sambil berbisik :
EMai.. dosen suru kita jual diri..
Ada lagi seperti ini :
Emang kita cowo apaan? hari gini jual diri Cin…
Sejak memahami konsep pemasaran, saya lebih suka dengan istilah memasarkan diri dibanding jual diri.
Menggunakan istilah memasarkan diri memang lebih elegan. Saya teringat ketika membawakan seminar umum mengenai Digital Marketing, ada salah satu peserta yang bertanya mengenai
Apa perbedaan sales dan marketing?
Jawaban saya cukup sederhana. Marketing adalah seluruh kegiatan untuk merencanakan produk, promosi produk, serta distribusi produk. Sedangkan sales adalah kegiatan yang berfokus pada penjualan produk.
Cakupan marketing lebih luas dari sekedar sales. Dalam memasarkan diri, kita bukan sekedar menjual diri, tetapi kita juga harus mempersiapkan kualitas produk kita dalam hal ini diri kita sendiri.
Saya tertarik mengutip tips yang diberikan oleh Hermawan Kartajaya dalam bukunya yang berjudul Marketing Yourself : Kiat Sukses Meniti Karir dan Bisnis. Saya akan coba jabarkan dengan singkat dan sederhana 9 prinsip memasarkan diri dari buku tersebut.
- Segmentation : View Your Market Creatively
Contoh : Ketika kita melamar pekerjaan, kita harus memasarkan diri secara kreatif. Sampai tulisan ini saya tulis, pagi tadi saya baru selesai review 6 resume calon dosen yang masuk ke meja saya. Kesalahan terbesar yang dilakukan orang-orang adalah menjadikan penulisan resume itu menjadi template. Banyak yang beranggapan “resume adalah tiket masuk otomatis untuk wawancara. Ketika wawancara, barulah kita all out”.
Ketika saya hiring dosen, saya sangat perhatikan bagaimana resume mereka, bagaimana mereka mendeliver dirinya ke perusahaan.
2. Targeting : Allocate Your Resources Effectively
Masih sejalan dengan resume. Saya hampir selalu bisa menebak mana calon pelamar yang menembakkan peluru (surat lamaran pekerjaan) ke 50 perusahaan secara massal dan mana yang benar-benar memiliki visi dan niat untuk bergabung dengan satu perusahaan.
Marketer itu harus seperti sniper.
3. Positioning : Lead Your Customer Credibly
Ketika ingin memasarkan diri, prinsipnya kita harus bisa memposisikan diri kita sebagai apa. Kita bukan superman yang menguasai semua bidang. Kemampuan Anda tidak dapat dijelaskan dari transkrip akademik Anda.
Jadilah Spesifik!
4. Differentiation
Setiap bicara mengenai diferensiasi saya selalu teringat dengan hal ini :
Sedikit berbeda jauh lebih baik daripada sedikit lebih baik!
5. Integrate Your Offer
Jika sudah memiliki positioning yang benar dan juga diferensiasi yang jelas, maka tentukan price. Price adalah harga yang kita tentukan untuk diri kita sendiri. Biasanya kolom ini selalu dikosongkan oleh para pemasar diri. Dengan dalih menyesuaikan dengan standar perusahaan. Mungkin saya berikan saja perumpamaan. Bayangkan Anda mengisi bensin, dan ketika membayar, Anda dijawab dengan
“seikhlasnya saja mas”.
6. Brand : Avoid The Commodity Like Trap
Saya benar-benar paham fungsi brand ketika saya mengelola brand itu sendiri. Ada perbedaan mendasar dari harga produk segelas kopi di warung dan segelas kopi di coffee shop. Kopi di warung dijual bak komoditi. Artinya orang menghitung harga biji kopinya, air panasnya dan juga sewa gelasnya. Sedangkan kopi di coffee shop dikemas dengan merek, suasana yang nyaman, kesan yang eksklusif dan berbagai citra positif lainnya. Ketika Anda memasarkan diri, ciptakan nilai tambah sehingga Anda dinilai sebagai profesional yang ahli bukan sebagai buruh yang bisa didapatkan dimana saja.
7. Service : Make Service as Your Way of Life
Perihal servis saya hanya memberikan keywordnya saja. Servis memiliki tiga tingkat : Intelektual, Emosional dan Spiritual.
Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka
8. Process : Improve Your Quality, Cost and Delivery
9. Build Long Term Relationship
Saya punya kebiasaan, kepada siapapun saya bertemu, saya selalu mencatat namanya kemudian menjalin pertemanan via Linkedin dan hanya Linkedin. Tidak hanya menjalin pertemanan, sesekali saya mengirimkan greetings singkat, dan endorse skills demi menjaga relationship yang baik.
Mungkn sementara ini, itu dulu yang saya share. Cerita lainnya saya update sesempatnya saja.
Semoga bermanfaat.
