Pengen cerita tentang masa-masa pedekate sampai pacaran yang sampai sekarang bikin senyum-senyum sendiri kalau lagi inget. Untung ini pacarannya lanjut sampai nikah, kalau kandas di tengah jalan kan nggak dibikin tulisan gini 😌
Waktu itu bulan puasa tahun 2016. Kalau kantor lain, pas bulan puasa biasanya pulang lebih cepat kan. Nah, kantor aku dulu itu jam pulangnya sebenarnya juga lebih cepat sih, jadwalnya jam setengah lima udah jam pulang. Tapi karena kebiasaan lembur dan masih ada kerjaan, nggak ada yang pulang jam segitu. Biasanya nunggu maghrib dulu, buka puasa, baru pulang. Biasanya juga, sebelum jam buka, aku sama temenku suka keluar buat jajan gorengan dulu buat buka. Dia suka mau nitip beliin gitu, tapi aku orangnya males dititipin, wkwk. Jadinya dia aku suruh nitip ke teman aku aja.
Terus aku suka sholat taraweh dulu di mesjid dekat kantor, habis itu baru pulang. Soalnya kalau balik dulu, sholat tarawehnya jadi sendirian, nggak sempat ikut jama’ahan di mesjid. Suatu ketika, pas aku lagi nunggu tarawehan, dia nge-chat, bilang kalau dia lagi di kosan temen kantor, terus minta aku ngabarin kalau udah selesai sholat biar pulang bareng. Aku yang polos waktu itu cuma mikir “Oh, dia lagi ada yang dikerjain dulu, sekalian ntar pulang ada temennya”. Selesai taraweh, aku chat dia. Kutunggu beberapa menit nggak dibalas, aku pulang aja. Begitu aku naik Transjakarta, dia chat nanyain aku di mana. Ternyata dia ketiduran dan belum pulang. Ternyata lagi dia sengaja emang mau nungguin aku biar pulang bareng, tapi akhirnya malah aku tinggal, wkwk.
Awalnya emang aku nggak tahu kalau dipedekatein. Aku pikir dia lagi pedekatein temen aku, bukan aku. Toh aku pun juga nggak lagi mikirin pengen punya pasangan. Malah pengennya punya hewan peliharaan waktu itu, hampir mau melihara kucing buat teman di kosan, hehe. Suatu sore temen aku yang bilang kalau kayaknya dia lagi pedekatein aku, tapi tetap aja aku nggak mau geer kan. Sampai suatu malam sepulang kerja dia Whatsapp aku.
Tahu dipedekatein, aku jadi salah tingkah. Nggak mau kalau jalan bareng dia, nggak mau se-lift sama dia. Sebisa mungkin menghindar. Alasannya? Ada sedikit ketakutan dalam diri aku untuk menjalin hubungan, pada waktu itu. Plus, dia juga baru putus dari mantannya setelah pacaran 4 tahun (kalau nggak salah). Lupain orang setelah bertahun-tahun bersama kan nggak gampang. Nggak maulah kalau aku jadi pelampiasan semata. Enak saja!
Tapi sahabatku — suatu saat ketika aku bercerita — menyarankan aku untuk mencoba menanggapinya. Siapa tahu jodoh.
Lebaran 2016 aku pulang kampung. Tiap hari dia nge-chat, entah itu manggil nama doang, atau nanya kabar, atau nanya lagi ngapain, sama siapa, di mana. Gregetan juga kalau lagi di rumah nenek, nggak ada signal, nggak bisa terima chat, huhu. Dia nanya di kampung aku ada bioskop atau nggak, soalnya dia mau ngajakin nonton Rudi Habibie. Kalau di kampung aku ada bioskop, kemungkinan aku akan nonton di sana, terus dia nggak bisa ajak nonton aku lagi. Tapi berhubung di kampungku nggak ada bioskop, dia punya kesempatan ngajak aku nonton, tapi tetap aja aku tolak. Nggak mau lah nonton film sedih gitu sama cowok. Kalau ntar nangis kan malu. Begitu balik ke Jakarta, aku nonton Rudi Habibie sama teman kosan, terus dia jadi kesal dan merasa dikhianati. Lebay 😏.
Minggu terakhir bulan Juli 2016 (kalau nggak salah) aku memutuskan menerima ajakannya untuk pulang kerja bareng. Pertama kali jalan bareng, dia ngasih ceramah tentang logical fallacy, berat banget sumpah, wkwk. Aku kadang nimpalin, tapi kebanyakan cuma dengerin. Tapi dia nggak kapok kok, besoknya ngajak pulang bareng lagi, hahaha. Mungkin memang kita cocok, dia yang talkative dan aku pendengar yang baik 🤭. Sejak saat itu, kita pulang bareng terus setiap hari. Kebanyakan dia yang cerita, mayoritas mengenai hidup dan keluarganya, agar aku lebih mengenal dia.
Kalau ditanya memori yang paling bikin berbunga-bunga adalah saat pertama kalinya kami nonton film di bioskop, ketika di tengah-tengah film “Star Trek Beyond” dia duduk gelisah dan tiba-tiba bilang, “Aku boleh megang tangan kamu nggak?”. Aku mengulurkan tangan kananku yang langsung digenggamnya dalam tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya menyentuh dadanya menenangkan jantungnya yang seperti sedang berlari kencang, wkwk. Sampai pulang, tangan aku nggak lepas dari genggamannya 😊.
Sore itu tanggal 30 Juli 2016. Dengan tangan aku masih dia pegang, dia ngajak aku jalan keliling komplek kosanku. Saat itulah kami sepakat untuk menjalin hubungan yang serius walau tidak secara eksplisit menyatakan cinta.
P.S. “Aku sayang kamu” dibilangnya lewat chat setelah dia nyampe di rumahnya malam itu. Nggak berani bilang langsung katanya 😂😂😂❤.
