Hujan

Faris
Faris
Sep 2, 2018 · 5 min read
image source: https://wallpapercave.com/w/lFHtQnD

“Hujan ini semakin dingin saja”, gumamnya. Sejurus kemudian ia menyambar telepon genggam yang tergeletak di atas meja. Tangannya menekan nomor seseorang. Ia berhenti sesaat, termangu menatap layar telepon itu. Tuhan pun tahu bahwa tak perlu keberanian untuk menghubungi wanita itu. Wanita yang selama bertahun-tahun bersemayam dalam suatu ruang tersembunyi, yang ia sediakan khusus di hatinya.

“Tak akan pernah ada yang mengisi ruang itu selain kau”, katanya suatu pagi, “Meskipun istriku sekalipun. Karena dia sudah punya ruang sendiri disana” lanjutnya sembari tertawa.

Wanita itu hanya diam sesaat, lalu tersenyum tipis. Hanya sedetik, tidak lebih. Namun lelaki itu berharap bahwa sedetik itu akan membuat wanita itu mengerti betapa ia mencintainya.

“Cinta” gumamnya. Ia mengurungkan niatnya untuk menelepon wanita itu. Ingatannya kembali memutar cerita bertahun-tahun lalu, saat ia bertemu wanita itu untuk pertamakalinya. Ia yang dianggap “tidak biasa” saat pertama kali memasuki kelas, terpaksa harus duduk bersebelahan dengan wanita itu. Ia yang urakan, tidak sabaran dan temperamental tentu tidak sesuai dengan wanita penyabar yang rapi disampingnya. Hanya butuh waktu 3 hari untuk ”memaksa” wali kelas mereka menukar posisi yang menyebabkan kerusuhan besar di kelas baru itu. Ia bukanlah seorang berandal yang tak tahu aturan, melainkan seorang yang cerdas, berbakat namun memiliki kesadaran sosial yang rendah. Wanita itu menyadarinya, namun kepribadian lelaki itu membuat ia tak tahan untuk tidak mengkritiknya. Kepribadian yang berseberangan itu membuat mereka seperti simbol yin dan yang yang terpisah; melengkapi tapi membenci.

***

“Kau sangat baik, namun menyebalkan. Sikapmu yang urakan menutupi kecerdasanmu. Hanya itu saja”, kata wanita itu dengan tatapan serius.

“Tahu apa kau soal aku? Bahkan soal lelaki saja kau tidak paham. Sebutkan saja berapa mantan pacarmu? Satu? Dua? Aku berani bertaruh kau belum pernah berpacaran” sahutnya tak acuh.

“Tak perlu kau tahu tentang itu. Lagipula apa hubungannya?” wanitu itu balik bertanya.

“Tak ada, hanya aku tak sudi diceramahi perempuan sok tau yang bahkan belum pernah berpacaran sebelumnya” sahut lelaki itu sambil berlalu.

Lelaki itu tersentak. Bunyi bel rumah menyadarkannya. Seorang pengantar pizza yang basah kuyup tersenyum kepadanya lalu menyodorkan struk yang harus ia tandatangani. ”Silahkan dinikmati pizza nya mas, mumpung masih anget. Ntar kalau dingin ga enak. Kayak orang pacaran kelewat lama, hambar” seloroh pengantar pizza. Lelaki itu hanya tersenyum getir. Hambar, bisiknya dalam hati. Seperti lima tahun yang lewat.

Tahun terus berlalu, lelaki dan wanita itu terus tumbuh. Begitu juga rasa yang ada semakin mengendap. Sudah biasa ketika rasa benci mengendap menjadi rasa nyaman. Seperti itulah rasa yang mereka rasakan. Mereka tak tahu pasti semenjak kapan mereka menjadi saling peduli satu sama lain, saling berbagi dan mendengarkan keluh kesah masing-masing. Rasa itu pulalah yang mendekatkan mereka sebagai dua sahabat. Sang wanita kerap berganti pacar dalam setahun terakhir, sementara lelaki itu hanya tertawa tiap kali ia mendengarkan keluh kesah sang wanita tentang pacarnya. “Dia itu terlalu banyak omong, padahal ga tau apa-apa” atau “Posesif banget sih dia, aku jalan sama Ferdi aja dia ributnya nyampe dua hari”, lelaki itu hanya menanggapi dengan tawa dan nasihat, selayaknya seorang sahabat. Setidaknya seperti itulah mereka menyebut hubungan mereka yang menurut orang lain lebih dari sekedar sahabat.

Telepon lelaki itu berdering. Ia meliriknya sesaat, lalu melengah. Telepon dari teman kantornya. Akhir-akhir ini ia seringkali menolak diajak bermain billiard oleh teman-temannya. Kebingungan yang melanda sebulan terakhir telah menghilangkan seleranya. Andai saja ia memiliki satu sahabat lagi untuk membicarakan masalah ini, tentu ia akan senang. Bagi lelaki itu, persoalan ini bukan hanya tentang pemilihan kata. Melainkan menyangkut kelanjutan hidup dan matinya. Terlihat berlebihan memang, tetapi ini bukan hanya sekedar mengatakan ‘hai, apa kabar?’. Ini keputusan mahapenting yang mesti ia selesaikan sebelum semuanya terlambat.

“Aku ingin kita break sebentar”, kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut lelaki itu. Kalimat itu seketika membekukan mereka berdua. Saat itu tengah hari, mereka sedang menikmati es krim di kantin kampus. Awalnya mereka ingin membicarakan tentang persiapan ospek di organisasi kampus mereka. Namun seperti biasa, pembicaraan itu selalu melebar tak menentu. Bahkan sebenarnya hati lelaki itu tak paham mengapa ia mengatakan hal tersebut. Aku akan menyesal suatu hari nanti, bisiknya dalam hati. Namun semua sudah terlambat.

“Break? Maksudmu kita putus? Selesai? Setelah dua tahun?”, sergah wanita itu.

“Bukan itu maksudku. Aku ingin kita ga komunikasi buat sebulan aja”, jawabnya.

“Sebulan? Buat apa? Ngapain sebulan, ga setahun aja?”

“Ya aku bosan. Kepingin suasana baru aja”, jawabnya santai. Bodoh.

“Yaudah, kalau gitu sekalian aja selamanya. Biar kamu ga bosan”, tantang wanita itu sembari beranjak pergi. Lelaki itu hanya diam. Mematung.

Lelaki itu kini menatap selembar kertas lusuh didepannya. Disana tertulis permintaan maaf sepanjang sepuluh paragraf. Permintaan maaf yang ingin disampaikannya seminggu setelah pertengkaran itu. Penyesalan yang tak pernah tersampaikan. Pesan yang akhirnya terpendam bersama hilangnya percakapan dan komunikasi mereka setelah itu. Dua sahabat, yang terpisahkan oleh suatu kesalahpahaman kecil. Kesalahan bodoh yang mengakhiri salah satu anomali cinta. Hingga sebuah pertemuan tiga bulan yang lalu.

***

Di suatu sudut kota Geneva, seorang wanita menatap kosong layar laptopnya. Perhitungan anggaran belanja yang dibuat asistennya terkesan asal jadi. Ia kesal, namun bukan itu pemasalahannya. Perusahaan yang ia tangani saat ini membuat ia harus memuntahkan kembali rasa pahit yang ia telan bulat-bulat lima tahun yang lewat. Semenjak kejadian itu, ia tak pernah memiliki seorang pacar. Meskipun banyak lelaki yang menyatakan rasa cintanya, penyesalan akan keputusannya saat itu membuat ia menjadi kebas. Ia bahkan memutuskan untuk mengakhiri perjalanan cintanya dengan mencintai seseorang yang ia kira telah pergi. Lelaki itu.

Tiga bulan yang lalu, ia mendapat promosi menjadi manajer keuangan di Geneva. Sebuah kesempatan emas yang tak boleh hilang, pikirnya. Tanpa basa-basi ia menyetujui promosi itu. Namun, disanalah semua cerita itu berulang. Tanpa ia ketahui, lelaki itu juga mendapat promosi serupa dengan jabatan yang berbeda, sebagai general manager. Pertemuan rutin perusahaan serta permasalahan anggaran belanja yang membengkak membuat mereka sering menghabiskan waktu bersama untuk membahas tentang solusi masalah tersebut. Perbincangan itu menyadarkan mereka bahwa seriring berjalannya waktu, banyak yang berubah, Namun mereka tidak.

***

Hujan semakin deras. Lelaki itu beranjak dari sofa dan menyambar telepon genggamnya. Tanpa pikir panjang, ia menghubungi wanita itu. Sesaat setelah mendengar suara wanita itu, ia berkata: “Maukah kau menikah denganku?”

Surabaya, 24 April 2014

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade