Angkringan Ojek Online
Oleh : Affix M.
Tiap malam, saya pergi ke warung kopi.
Sebagai mahasiswa semester tua yang masih indekos, yang sehari-hari bersantai-santai dan malas mengerjakan skripsi, kegiatan minum kopi bersama teman adalah sangat penting. Catat lho! Sangat penting. Karena itulah saya mengagendakan tiap malam waktu minum kopi, sebagaimana hari itu. Semua sudah disiapkan semenjak matahari mulai ditelan malam, mulai dari kemeja bersih, rambut klimis dan dua lembar lima ribuan.
Di perjalanan perut saya berbunyi lumayan kencang. Maklum, makanan tadi siang yang berupa es teh dan dua lembar gorengan tempe sudah tercerna dengan baik. Mengingat nasehat bijak orang tua agar makan ketika lapar, dengan sigap saya mampir ke warung angkringan. Perlahan saya masuk ke dalam tenda angkringan yang ternyata penuh pengemudi ojek-online. Dengan pengertian mereka mempersilahkan saya duduk di kursi, tepat di tengah tenda. Lalu saya memesan segelas teh panas dan dua bungkus nasi oseng tempe.
Belum sampai nasi sesendok masuk ke mulut. Pengemudi ojek-online di sebelah kanan saya dengan aksen sundanya yang kental nyerocos ke pengemudi lain. Tanpa ada jeda pengemudi dengan aksen jakartaan di sebelah kiri saya menambah riuh suasana. Dari kejauhan suara pengemudi dengan aksen jawa pun terdengar. Sontak bapak penjual angkringan ikut nimbrung. Dan…Kriiiiiiiing!!! Suara handphone menandakan ada panggilan tugas dari pelanggan, dua pengemudi ojek meninggalkan warung. Suasana menjadi agak sepi, saya bisa melanjutkan makan lagi.
Nah, dari yang saya tangkap, kericuhan tadi disebabkan para pengemudi ojek-online mengeluhkan pelanggan yang minta dijemput, tapi tidak sabar. Pelanggan ini karena saking tidak sabaran, memberi rating jelek pada tukang ojek lewat aplikasi. Ujung-ujungnya si pengemudi ditegur pihak pengelola ojek-online karena tidak menyenangkan pelanggan.
“Ya bagaimana mau cepat sampai tempat penjemputan kalau jalanan macet. Kalau terlambat sedikit bilangnya tidak apa-apa. Setelah saya anterin ke tujuan, dibayar, terus besoknya saya baru tahu kalau dia memberi saya nilai jelek.”
“Pelanggan itu kurang dimanjakan apa sih, kok telat dikit aja marah. Ya marag nggak papa tapi jangan memberi nilai jelek dong.”
“Kita ini naik motor bukan rajawali, pantes lah kalau telat.”
Kasihan mereka ini. Jadi walaupun mereka ‘hanya’ pengemudi ojek, mereka juga manusia, bukan mesin. Mereka cuma ingin dimanusiakan, ingin dihargai. Masa sih manusia ga boleh telat. Lha wong ibu-ibu saja bahagia kalau telat datang bulan. Waktu SMA, saya juga senang kalau pak guru telat datang mengajar.
Meski begitu, saking takut telat. Ketika mendapat pesanan, pengemudi ojek online ini banyak yang sudah hilang kesadaran. Sering lho saya lihat pengemudi ojek online ngebut di jalan raya. Saya sendiri kemarin hampir terserempet kok. Mungkin di pikiran mereka sudah terbayang muka garang pelanggan sekaligus teguran dari pengelola ojek online kalau sampai telat.
Haduh! Tidak terasa saya mengikuti cerita mereka sampai agak lama. Saya sudah lupa tadi sudah makan berapa gorengan.
Setelah mengeluarkan selembar lima ribuan, saya langsung pulang ke pemondokan. Barulah ketika membuka handphone ada panggilan tak terjawab dari teman-teman. Waduh, saya lupa ke warung kopi. Waktu berharga saya bercanda dan ngobrolin hal nggak penting (Catat! ngobrolin hal nggak penting) bareng teman-teman hangus sudah.
