Biarkan Saja Narkoba Beredar

Oleh : Rudi

Pasti pusing menjadi aktivis anti-narkoba. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah lelah-lelah, mungkin suaranya sampai habis, malah jarang digathekne. Kampanyenya tak pernah berdampak besar pagi para pengguna. Apalagi ketika kawan aktivisnya malah jadi pengguna atau pengedar. Ah pasti malunya bukan main. Kapabilitasnya pasti dipertanyakan dan lagi orang-orang akan curiga; jangan-jangan mereka hanya sok, pasti cari pencitraan.

Kiranya benar juga apa yang dibilang kawan-kawan sekolah saya. Menjadi aktivis berarti harus pandai-pandai menghibur diri. Sakit hati adalah kepastian yang tak dapat terhindarkan. Dicaci, dimaki dan tak dihargai adalah hal yang sewajarnya didapat.

Mungkin karena itulah Mbak Pretty jadi seperti itu. Kesabarannya mungkin sudah diambang batas. Apalagi ketika jobnya mulai sepi. Maklumlah orang hidup perlu makan dan untuk makan perlu uang. Maka benar saja jika sewaktu ditangkap ia berteriak-teriak bahwa dia dijebak. Ya, dunia telah menjebaknya.

Mbak Pretty menyusul Amar Zoni, artis yang tengah kondang di kalangan ibu-ibu. Meski ia terbukti negatif mengonsumsi, namun ia tak dapat mengelak lagi karena ia berada di tengah pesta. Kata orang jawa, aja cedhak kebo gupak. Jangan dekat-dekat karena kan kena juga. Polisi menduga Mbak Pretty adalah pengedar narkoba dikalangan artis.

Maraknya kasus narkoba yang menjerat artis-artis ini tentunya membuat masyarakat ngelus dada. Masalahnya adalah artis-artis itu kadang diidolakan. Barangkali sudah menjadi hal umum bahwa ketika manusia mengidolakan seseorang maka tak hanya style, attitude-nya pun selalu coba ditiru. Gaya rambut, celana, tattoo, hobi, ah pokoknya akan sangat representatif. Dan masyarakat khususnya orang tua hafal dengan perangai tersebut. Mereka pernah muda, pernah seperti itu dan tak ingin generasi muda mengulangi kesalahan yang sama. Apalagi perihal narkoba.

Kiranya memang narkoba termasuk dalam budaya yang telah berkembang lama di masyarakat. Sejak era kolonial para pecandu sudah relatif banyak. Tak hanya orang londo, pribumi pun banyak. Misalnya saja para pengikut Diponegoro. Banyak di antara mereka tumbang karena persediaan candu atau opium habis. Di zaman Majapahit pun kiranya masyarakat telah mengenal candu. Hal ini terbukti dengan adanya malima yang dinyatakan oleh wali; di antara kelima larangan ada madat dan mabuk.

Tentu sangat sulit untuk mengatasi permasalahan narkoba. Sabar pun tak akan cukup. Kecuali pada akhirnya kita menjadi tak acuh pada kondisi itu. Narkoba bukan sekadar masalah kesehatan. Tapi narkoba juga urusan kejiwaan. Menghilangkan narkoba itu mudah. Tapi kalau masih ada orang yang butuh apa bisa diberantas? Kalaupun bisa pasti muncul metode, cara dan alat (narkoba) yang baru lagi.

Hal ini diperparah dengan wabah kapitalisme; di mana keuntungan merupakan jaminan kehidupan. Merugikan orang lain adalah nomor kesekiankalinya. Yang terpenting adalah bisa meraup untung sebesar-besarnya.

Sejak dulu narkoba memang menjadi komoditas yang cukup menjanjikan. Pemerintah kolonial pernah merasakan hal tersebut. Penjualan opium kala itu berhasil menyumbang sekitar 10% pemasukan negara. Oei Tiong Ham, raja gula yang sekaligus raja candu di Semarang, dari tahun 1890–1903 mendapat keuntungan bersih f 18.000.000 dari penjualan candu. Kalau saat ini sekitar Rp 1.2 triliun atau dengan kata lain ada sekitar Rp 92 Milyar pertahun. Gembong narkoba Mexico pun pernah mengaku bahwa ia sampai mengeluarkan dana sekitar 25.000 dollar per tahun hanya untuk membeli karet; yang dipergunakan untuk ngareti uang-uangnya. Sungguh menggiurkan bukan? Anak muda yang lemah iman pasti mau jika diajak. Produksi pun akan sukar diputus. Lhawong dipenjara saja masih bisa hidup enak.

Kiranya langkah pemerintah sekarang yang tak segan memberi hukuman mati bagi para gembong dan pengedar narkoba sudah cukup baik. Setidaknya mereka akan sedikit berpikir kembali kalau mau mengedarkan di Indonesia. Lebih-lebih mau menjadikan LP sebagai markas besar.

Tapi jangan berpuas diri dulu. Aturan boleh ketat tapi kalau tidak ada yang menegakkan buat apa? Narkoba tak urung akan berhenti. Temuan 1 ton sabu-sabu belum lama ini harusnya kita jadikan semacam pelecehan. Mereka main-main dengan kita. Mereka menantang kita perang.

Pertanyaannya apa kita berani?

Tentu banyak yang akan bilang berani. Tapi harap disadari syarat utamanya melawan bukan sekadar rasa simpati dan empati. Harus ada pula perbaikan pada diri sendiri dulu. Sebab mereka tak sekadar menggertak. Mereka tentu telah merancang strategi yang cukup jitu. Bisa jadi mereka pun telah mengetahui sisi mana kelemahan kita. Siapa yang bisa disuap, siapa yang mata duitan, siapa yang lemah iman dan siapapun itu.

Bukannya pesimis, tapi jangan-jangan menyerah justru lebih baik. Kalau perlu legalkan saja narkoba sebagaimana di negeri kompeni. Sebab konsisten itu sulit. Sebab aman, damai, nyaman dan tenteram adalah utopia. Biarlah iman yang bekerja. Bisa jadi itu lebih efektif sebab narkoba akan berhenti dari individu-individunya; baik produsen, penyalur ataupun konsumennya.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.