Elegi di Lampu Merah

Omah Aksara
Aug 9, 2017 · 3 min read

Oleh : Bhumi Bhiru Asmajaya

Saya enggan berkendara pada sore hari. Sebab mulai pukul tiga sore jalan raya di Yogyakarta mulai banjir kendaraan. Alias para pengemudi motor, bus dan mobil berlomba-lomba mengisi jalan raya hingga penuh. Bahkan jarak antar kendaraan cukup satu millimeter. Soalnya, mau selebar apapun jalan raya, tetap tak cukup menampung volume kendaraan. Otomatis banjir kendaraan meluap menutupi zebra cross, jalur khusus sepeda, dan trotoar. Keadaan ini mencapai puncaknya ketika lampu lalu lintas berwarna merah. Dan dari hasil observasi saya, para pengemudi kendaraan yang berhenti di lampu merah tidak ada yang menunjukkan rona wajah bahagia.

Para korban lampu merah ini biasanya memasang muka garang, kecut, atau sangat datar. Memang, kendaraan mereka berhenti, tapi saya yakin pikiran mereka sudah melesat jauh meninggalkan tubuhnya. Tubuh dan pikiran sudah pisah ranjang. Tubuh sudah terpola seperti mesin dan pikiran sudah membayangkan hal-hal yang akan dilakukan di tempat tujuan. Mereka juga kegerahan karena udara sore yang panas. Mereka ingin cepat mengistirahatkan pantat yang memuai karena terlalu lama berkendara. Mereka ingin cepat mendapat udara segar atau malah merokok, setelah berlama-lama terkurung pengapnya asap kendaraan. Dan ketika mereka sudah tidak sabar menginjak gas, lampu lalu lintas belum juga hijau, masih seratus dua puluh detik lagi. Bah! Lama kali! Berbagai kondisi inilah yang menjadikan lampu merah adalah tempat yang menyebalkan di sore hari.

Di tempat paling menyebalkan ini, para pengemudi melakukan berbagai cara untuk menghilangkan rasa bosan. Beruntunglah para pengemudi mobil, selain ber-AC mereka bisa bermain handphone, telepon, mendengarkan musik dengan santai, bersenandung ria. Bahkan kalau mobil hanya berisi satu orang pengemudinya bisa dengan leluasa ajojing, breakdance, latian silat, taekwondo. Bandingkan dengan pengemudi motor seperti saya yang nasibnya menyedihkan. Kalau ada teman yang membonceng, tidak bisa saya ajak ngobrol karena suara saya sudah ditelan deru mesin kendaraan. Mau main handphone takut jatuh. Saya cuma bisa tengok kanan kiri nggak jelas. Walau sering juga melihat yang aneh-aneh, seperti pemandangan cewek berambut panjang, mengenakan hot pants, dan kelihatan belahan pantatnya. Dan hanya bisa berdoa dia bukan waria.

Menyebalkan bagi pengemudi kendaraan belum tentu menyebalkan bagi yang lain. Amati saja para pebisnis uang receh alias pengamen, pedagang asongan, penjaja koran dan pengemis yang langsung tanggap memanfaatkan situasi. Begitu juga para pebisnis baliho yang memasang papan reklame sebesar rumah di sebelah lampu lalu lintas. Syukur kalau isi reklame mempromosikan barang sesuai kebutuhan kita, bukan foto kader partai yang menawarkan partainya. Semakin lama lampu merah menyala, semakin besar peluang para pebisnis ini mendapatkan rejeki. Berbeda dengan pengemudi kendaraan, semakin lama lampu merah menyala, semakin sebal mereka berada di tempat ini.

Sebagai pengemudi yang budiman, saya ingin juga lho ikut memanfaatkan lampu merah. Kalau menilik jumlah kecelakaan di jalan raya, lampu merah bisa digunakan sebagai tempat syukuran sekaligus tumpengan. Disamping bisa makan-makan, kita bersyukur karena dari tempat pemberangkatan hingga berhenti di lampu merah masih diberi keselamatan. Sekaligus berdoa kembali agar dari lampu merah hingga tempat tujuan juga diberi keselamatan. Lagipula tasbih yang biasanya dipajang sebagai hiasan di mobil dan gantungan kunci motor, bisa lho, digunakan berdzikir. Alhasil, lampu merah menjadi tempat yang sangat religius.

Nah, kalau yang biasanya cuma diam terpaku di lampu merah. Asalkan tubuh dan pikiran masih erat bersatu, empat ini bisa menjadi wahana berkontemplasi yang baik. Diam merenung memaknai setiap kegiatan dari pagi. Merenungi jam-jam yang terbuang karena terlalu lama menonton youtube, terlalu lama live instagram, tenggelam di lautan notifikasi whats App dsb. Atau diam memperhatikan keindahan alam sore hari, burung gereja yang buang air sembarangan, kabel-kabel listrik yang berkelindan, mbak-mbak yang ngupil di pojokan, sengatan bau jaket tukang ojek, pasangan kasmaran yang pelukan dan asap tukang sate ayam yang membuat lapar. Sekaligus mata kita awas mengamati ibu-ibu pengemudi motor.

Sebenarnya masih ada banyak lagi kegiatan yang bisa dieksplorasi. Misalnya berkenalan dengan pengemudi lain, mengecek kendaraan, demonstrasi, diskusi ilmiah, dsb. Asal anda bersedia dicap gila. Dan semua segala kegilaan (baca= kegiatan yang bermanfaat) ini baru berhenti ketika lampu hijau mulai menyala. Seketika itu pula, pengemudi yang tidak pernah belajar mengantre, berlomba membunyikan klakson dengan heboh.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade