Hancurnya Cita-Cita Komunisme

Omah Aksara
Aug 9, 2017 · 4 min read

oleh : Rudi

Komunisme adalah paham yang gagal. Cita-cita komunisme berkembang pesat tapi selalu terhenti pada taraf sosialisme. Komunisme tak lebih menjadi semacam suplemen kesehatan yang menstimulasi hidup karena di dalamnya ada harapan. Komunisme pun nasibnya kian tak menentu seiring dengan perbedaan penafsiran atas marxisme.

Revolusi Oktober 1917 di Rusia mungkin disebut-sebut sebagai keberhasilan pejuang komunisme.Tapi keberhasilan apa? Atas kalahnya kapitalis? Lenin meramalkan revolusi tidak akan menang di pusat kapitalis. Dan benar ia membuktikan sendiri di revolusi 1917, di mana itu di daerah pinggiran kapitalis. Tapi tetap, kapitalisme belum tumbang. Malah di sisi lain menimbulkan jalan kegagalan baru, seiring dengan cara-cara lenin yang malah dibakukan.

Lenin sendiri berbeda dengan Karl Kautsky, Rosa Luxemburg, ataupun Eduard Bernstein terkait perselisihan revisionisme. Kautsky masih mengikuti ajaran ortodoks marxisme, sementara Bernstein menyatakan bahwa sosialisme tidak harus dicapai melalui sebuah revolusi, melainkan dapat dicapai secara demokratis. Lebih lanjut sebagaimana teori ilmiah marxisme boleh direvisi kalau memang kelihatan tak lagi sesuai dengan kenyataan. Rosa Luxemburg terang-terangan menolak pandangan ortodoks marxisme. Baginya revolusi tak akan datang dengan sendirinya. Revolusi mengandalkan kesadaran revolusioner kelas buruh. Lenin sendiri memahami bahwa revolusi sosialis mengandalkan adanya partai revolusioner. Meskipun pada akhirnya Leninlah yang `naik mimbar` tapi karena perbedaan-perbedaan itulah justru impian masyakat sosialisme terhambat.

Adapun yang dilakukan Lenin pun kian menyimpang. Jalan kediktatoran ia pilih untuk mempertahankan kekuasaannya. Cita-cita sosialisme ataupun komunisme malah seakan-akan dikebiri. Memang benar sosialisme terbentuk, tapi semu. Apalagi tatkala diskursus-diskursus Marxis diberangus, Lenin seakan malah menelan kembali ludahnya sendiri.

Pandangan dan tabiat Lenin pun diteruskan oleh stalin. Stalin tak kalah garangnya dengan Lenin. Ideologi Stalin jelas marxisme-leninisme. Kala itu garis haluan moskow pun semakin kuat. Dan Komintern sangat condong pada Moskow. Tapi Moskow beda dengan daerah-daerah lain, bahkan beda dengan anggota pakta warsawa. Lagi pula apa yang ada di moskow tak lain adalah interpretasi Stalin atas marxisme-leninisme.

Mao Zedong kiranya menyadari kerancuan tersebut. Ia tak mau mengikuti paham yang di moskow. Baginya China beda dengan Soviet. Masyarakat buruh di China tak sama dengan buruh di soviet yang rata-rata buruh pabrik. Baginya masyarakat tani China lebih potensial untuk revolusi. Mao pun tak kalah kuat dibanding dengan Stalin di Soviet. Dengan berpegang pada prinsip praxis-teori-praxis, di mana ia benar-benar mendahulukan atau mempertimbangkan rakyatnya, dan prinsip kontradiksinya ia berhasil membawa China sedemikian ‘perkasa’. Meski pada akhirnya ia pun terkesan otoriter, Mao dapat menjadi teladan di mana aliran marxisme tak sekaku ala soviet. Dengan kata lain terdapat kemungkinan-kemungkinan baru cara atau metodologi dalam suatu revolusi melawan kapitalisme sesuai dengan situasi dan kondisi.

Tapi memang perlu diakui, sosialisme dan kemudian menjadi semu itu sepertinya keniscayaan. Negara-negara yang pro komunisme faktanya cenderung otoriter untuk menciptakan masyarakat sosialisme. Mungkinkah apa yang diharapkan marx terlalu utopis?
Di Indonesia sendiri ajaran marxisme-leninisme tak pernah selesai dalam urusan politik. Wajar kalau akhirnya ditumpas. Marxisme-leninisme di Indonesia terlalu banyak propaganda dan agitasi untuk mendudukkan marxisme-leninisme di tampuk kekuasaan. Blok Sjahrir, Amirlah ataupun juga Tan Malaka punya pandangan tersendiri perihal cita-cita komunisme. Pada waktunya Sjahrir dipandang gagal di perjanjian Linggarjati hingga kemudian naiklah Amir. Amir pun ternyata sama, malah lebih parah, ketika Indonesia kalap di perjanjian renville. Mantan tahanan jepang ini pun harus turun di gantikan Hatta.

Dalam dunia komunisme Indonesia kiranya termasuk negara yang mumpuni. Sejak diperkenalkan oleh Sneevliet, komunisme di Indonesia telah berkembang pesat. Tokoh-tokoh semacam Semaun, Musso, Alimin yang kemudian malang melintang di komintern pun bermunculan. Salah satu puncaknya ketika terjadi pemberontakan Madiun 1926. Walaupun akhirnya dapat diredam pemerintah kolonial tapi percikan-percikan komunisme telah mendapat tempat di hati masyarakat. Harapan sebagaimana revolusi 1917 mulai bermekaran.

Kecuali ada harapan yang lebih, tidak ada suatu hal pun yang tertarik dengan revolusi. Berjuta-juta orang rela mati demi terwujudnya impian-impian masa depan mereka. Dalam longmarch-nya Mao bahkan mereka mati mengenaskan, banyak tentara Mao yang kelaparan.
Kata orang jawa, jer basuki mawa bea. Tapi apa lantas itu yang namanya bea? Kalau iya mana basuki-nya?

Pada dasarnya visi Lenin maupun Mao itu sama baiknya, keduanya ingin pembebasan. Bahkan kalaupun radikalisme yang dipakai itu bukan masalah. Hanya saja karena itu revolusi maka akan ada sisi yang tidak stabil, apalagi tatkala revolusi itu hanya berarti terciptanya hegemoni baru. Amir Syarifudin sebagai mantan perdana menteri RI bahkan harus mati mengenaskan ketika jalur politiknya seakan-akan yang terbaik.

Belakangan muncul wacana bahaya laten komunisme. Spanduknya pun telah bertebaran di mana-mana. Masyarakat dihimbau agar jangan mendekati apalagi bergabung. Komunisme dicap sebagai ancaman nyata bagi NKRI.
Kiranya memang wajar bila capnya adalah seperti itu. Pemberontakan Madiun dan G30S telah menjadi bukti. Komunisme sejatinya juga cita-cita yang luhur hanya saja ‘tampangnya’ terlalu suram. Lebih lanjut apapun saja kalau memang dari luarnya saja sudah mengecawakan, apa iya ada yang percaya sejatinya baik?

Lagi-lagi masalahnya adalah perbedaan interpretasi, sama dengan sosialisme yang gagal menerima perbedaan tafsir atas akar ideologinya.