Lorong Waktu

Oleh : Wenny

Ma, aku takut” kalimat yang sering aku ucapkan, “mama, ini tempat apa? kenapa gelap? Mengapa aku sendiri? Aku takut” berulang kali aku bertanya ditempat itu. Tempat yang sangat gelap dan menakutkan bagiku.

Keberadaanku di sebuah lorong, membuat aku takut. Dimana tidak ada cahaya sedikitpun, bahkan tidak pernah ku dengar suara siapapun di sana. Suasana yang sunyi sepi terkesan menakutkan.

Rasanya ingin keluar dari tempat, dimana aku duduk di ujung lorong gelap itu. Aku berteriak, menangis berharap ada orang yang mendengarkanku. Namun tidak pernah ada orang yang menghampiriku. “Aku takut, apakah ada orang di sana selain aku? lorong itu tidak pernah menjawab pertanyaanku.

Ketika aku mulai lelah berteriak, aku duduk menangis sambil menggigit lengan bajuku. Aku juga berharap ada sekilas cahaya di sana agar aku dapat melihat apa yang ada disekitarku.

Pernah sesekali aku melihat anak laki-laki berlarian di lorong itu. Aku harap dia mengenaliku, aku ingin anak itu mengajakku keluar dari tempat yang menakutkan ini. Kadang aku merasa sangat dekat dengan anak itu, namun aku tidak pernah tahu di mana aku bertemu dengannya. “Apakah dia teman masa kecilku?” bayangan dalam pikiranku.

Saat aku menghampiri ke tempat dimana dia berlari, seakan hanyalah sebuah halusinasi. Aku tidak pernah bisa mengejar anak itu. Aku hanya bisa menunggu anak itu kembali ke lorong itu.

Sempat aku tertidur dan bermimpi anak itu datang menghampiri untuk mengajakku pergi. Saat aku terbangun rasa takut semakin memudar dengan kedatangan anak itu. Meskipun hanya sebuah mimpi, aku merasa mempunyai teman. Aku selalu berharap agar mimpi itu menjadi nyata.

Entah itu kapan, sebuah reinkarnasi bagiku. Bahkan keberadaanku di lorong itu seperti mimpi, namun saat mataku terbuka posisi tidak pernah berubah dimana aku duduk di ujung lorong yang sangat gelap.

Terkadang aku berfikir lorong gelap itu, yang mereka sebut lorong waktu. Tempat dimana aku merasakan adanya kehidupan, meskipun aku tidak pernah melihatnya. Seperti khayalan, namun semua itu begitu nyata dan berulang-ulang seakan meyakinkanku bahwa semua itu benar ada.

Kembali aku berteriak “mama aku takut, kenapa aku sendiri? Mengapa tidak ada suara atau cahaya sedikitpun? Mama aku ada di mana? Mengapa tidak ada yang menemaniku disini, meskipun itu mama? aku sangat takut” jerit tangisku seperti percuma, tetap tidak pernah ada suara yang menjawab.

Sekilas aku mengingat sesuatu, bahwa aku pernah masuk dalam lorong panjang berwarna merah, tidak ada warna lain selain merah dan tidak ada benda apapun disana, aku tetap berjalan memegangi dinding lorong itu. Aku takut mataku sakit saat melihat warna merah itu, bahkan udara pun berwarna merah. Aku tidak merasakan panas, aku hanya berjalan dan berharap di ujung lorong itu ada jalan keluar.

Saat aku sampai di ujung lorong, aku berfikir itu jalan keluar. Tapi aku salah, masih ada lorong yang harus aku lewati berwana biru muda, sama seperti lorong pertama tidak ada apapun kecuali bintang-bintang kecil. Semua memang berwarna biru dan aku mencoba menggambil bintang itu tapi tidak pernah bisa aku rasakan. Seperti mati rasa pada jari-jariku.

Aku menelusuri lorong itu, dan menemukan ujung lorong. Namun masih sama ada lorong berwarna putih seperti salju. Di lorong itu aku pun tidak merasakan udara atau suhu yang dingin. Aku mulai menanggis, aku merasa lelah,aku takut.

Di ujung lorong putih , aku melihat seperti sumur. Aku mencoba mendekati sumur itu, sungguh terkejut di saat aku melihat anak laki-laki ada di dalam sumur itu. Ternyata sumur itu sebuah lorong yang aku pikir ada air di dalamnya.

Anak itu tersenyum, dan tangannya mengajakku masuk ke dalam lorong itu. Dia berlari sambil menggandeng tanganku. Saat aku bertanya : “Kamu siapa? Dan kita akan kemana?” seakan anak itu tidak peduli dengan apa yang aku tanyakan, dia hanya tersenyum dan tangannya menunjuk sebuah tangga kecil yang ada di lorong itu.

Aku tersenyum, berharap itu jalan keluar dari tempat yang menakutkan ini. Aku kembali menatap tangga itu, aku bertanya pada diriku sendiri “apakah itu jalan keluar? Ataukah itu tempat yang lebih menakutkan lagi?.