Masa Tua?

Subecik, seorang kakek yang tengah merawat istrinya yang tentunya seorang nenek. Nenek yang tak kuat lagi menyangga hidupnya sendiri, hanya berbaring tidur. Segala aktifitas Siti(nama istri Subecik) lakukan di kasur. Ia terlahir kembali menjadi seorang bayi, seakan merengek setiap kali hanya sejenak ditinggal suaminya memasak nasi, membuat teh tubruk, menyapu, dan semua kegiatan Subecik, Siti tak mau ditinggal. Sebenarnya bukan apa-apa, lebih-lebih cemburu. Ya, Siti dipengaruhi seseorang, bahwa Subecik menjalin hubungan dengan nenek janda, begitu informasi yang Subecik terima.

Tuduhan itu yang membuat Kakek Becik tak nyaman ketika apapun yang dilakukannya selalu dihubungkan dengan kecemburuan Siti padanya. Padahal bukan orang lain yang membantunya menyiapkan pispot untuk pipis atau eek pada dini hari, pada waktu yang nyaman untuk terlelap. Bahkan empat anak yang keluar dari rahim Siti pun tidak. Mereka terkesan menunggu bapak-ibu mereka mati dan mengambil jatah warisan yang tersisa.

Telah lama Siti menderita penyakit yang aneh. Secara umum menurut semua dokter yang pernah didatanginya ada masalah dengan lutut Siti. Semacam sendi yang kehabisan oli, membuat ia tak mampu berjalan. Padahal, ketika bekerja sebagai mantri dulu, ia mampu berjalan puluhan kilometer keliling desa-desa. Kini ia sakit, dan begitu ironi. Betapa manusia tak dapat menghindar dari sakit. Atau malah, sebab ia dulu giat bekerja yang membuatnya kini tak mampu berjalan.

Meskipun begitu, mau tak mau, suka tak suka, yang jelas nyatanya Subecik tetap merawat istrinya. Bahwa semua itu merupakan tanggung jawab seorang suami, bahkan untuk urusan rumah tangga. Ia menahan diri dari rasa ketidaksabaran, meskipun terkadang kesabaran meluap menjadi amarah ketika seolah istrinya “mengerjainya”. Ketika setiap kali Subecik akan istirahat, ada saja permintaan dari Siti, entah ingin makan, ingin pipis, atau mengeluh perutnya sakit yang artinya ingin eek. Sedangkan belum pasti ketika dilayani Siti membutuhkannya.

Yongalah, ada-ada saja to. Orang mau duduk atau tidur sebentar saja tak bisa,” keluh Subecik. Lantas sesudah itu ia memarahi istrinya seperti kepada anaknya berpuluh tahun lalu.

“Tiduro situ to, Kung,” pinta Siti di akhir tugas suaminya dengan menunjuk kasur sebelah. Suranya cedal persis balita, sebab ia tak mau memakai gigi palsunya.

Cinta yang menjelma menjadi cemburu buta memang berat. Bukan hanya untuk Subecik yang hidupnya seolah dibunuh, tapi juga untuk Siti sendiri. Jika sesuai tentang teori kekuatan keyakinan, Siti membuat dirinya sendiri dirundung gelisah, membunuh keyakinan itu dan dirinya sendiri secara perlahan. Ia khawatir suaminya kawin di kamar sebelah, meskipun yakin burung Subecik tak mampu berkicau lagi. Akhirnya Subecik mapan tidur sesuai permintaan istrinya.

Hingga suatu hari Kakek Becik diserang penyakit herpes, menjalar di dada dan punggungnya. Ia tak tahan menahan gatal sehingga ia menggaruk gelembung-gelembung berair itu, dan dagingnya terbuka. Akibatnya perihpun tak terhankan, membuatnya tak bisa tidur semalaman. Apalagi ditambah demam yang turut mengiringi herpes. Dan baru kali itu Nenek Siti menyadari ia tak berdaya tanpa suaminya. Ia menangis kepada dirinya sendiri seraya membatin: kasihan Kakung sakit karena kelelahan merawatku, aku tak tega. Tapi ketidaktegaan itu tak berselang lama setelah suaminya sembuh dan kemudian watak kembali tak terobati.

Harapan dalam benak sebagai orang tua dulu, empat anak akan sukses dan mungkin dapat membantu beban mereka. Banyak anak banyak rejeki. Tiga perempuan, dan terakhir si bungsu laki-laki. Sehingga apapun dilakukan ketika Kakek Becik, dan terlebih bagi Nenek Siti dulu bekerja untuk menyekolahkan anak-anaknya. Bekerja keras dari awal menjadi pegawai hingga waktunya pensiun. Hasilnya terbukti, pada masa jayanya Kakek Becik dan Nenek Siti terkenal sebagai tuan tanah di lingkungan sekitar. Berhektar-hektar tanah dimiliki. Bukan hanya itu, rojo koyo atau sapi juga dipunyai. Tapi harapan tak selalu sesuai dengan kenyataan, keempat anaknya tak ada yang lulus kuliah, tak bis menjadi pegawai negeri seperti orang tuanya. Ada satu celah bahwa ketika muda dulu, keempat anaknya dimanjakan keadaan yang mapan, sehingga membuat mereka terbuai. Dan polah keempatnya sama, tanah pemberian orang tuanya tak ada yang tersisa kecuali tanah dan rumah yang ditinggali Subecik dan Siti. Semuanya digadaikan, tak mampu menyicil dan dilelang. Ludes.

Sebenarnya tak terlalu menjadi masalah bagi Kakek Becik dan Nenek Siti anak-anaknya tak ada yang sukses secara ekonomi, mereka masih dapat hidup dari pensiunan, dan mereka pikir itu adalah konsekuensi yang didapatkan akibat perilaku anak-anaknya ketika masih muda. Tapi yang menjadi masalah adalah keempat anaknya tak ada yang barangkali seminggu sekali menyempatkan menjenguk mereka. Sekadar menanyakan kabar lewat telpon rumah juga tidak. Sudah ekonomi tak terbantukan, cinta dan kasih sayang tak didapatkan.

Keadaan yang buruk bagi Kakek Becik bertubi-tubi di masa tuanya. Masa tua yang bertentangan dengan angan-angannya dulu. Hidup tenang di desa, memiliki perkebunan di pekarangan rumah yang di sekitarnya mengalir sungai menuju kolam, bermain bersama cucu-cucu nyatanya hanya utopia. Seketika seperti tersapu badai yang mengandung api, terbakar hangus. Kalau keadaan ini adalah hukuman dari perbuatannya, rasa-rasanya tidak ada yang salah dengan hidupnya dulu, maksudnya ia bersih dari catatan hitam semasa hidupnya. Kalau ujian? Kenapa begitu terasa berat, pikirnya. Atau ada peran orang lain maksudnya adalah istrinya? Ah, Ia tak kuat menggagas.

Khatmil Iman M.

Like what you read? Give Omah Aksara a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.