Oret-oretan #2: Generasi Milenial dan Kenyataan

Oleh : Affix M.
“Generasi milenial tuh aneh. Diajak ketemu nggak mau, katanya sibuk. Ditanyain baik-baik lewat WA malah dianggap ngajak debat. Pas ketemuan malah kaya ayam sekarat, cuma bisa diem. Ini maunya gimana sih?” Demikian curhatan teman saya sabtu lalu. Saya Cuma bisa menganggukkan kepala meng-iya-kan, karena pernah mengalami hal serupa.

Padahal teman saya juga termasuk generasi milenial karena lahir antara tahun 1982 hingga 2004, namun mempertanyakan generasinya sendiri. Baginya ciri utama generasi milenial adalah menyukai segala hal yang bersifat instan, dari mie instan, minuman instan, sekolah instan, hubungan instan hingga resolusi masalah secara instan.

Teman saya kembali melanjutkan curhatnya. “Dia kira semua masalah bisa diselesaikan cuma lewat pesan di handphone? Ya nggak lah. Terkadang kita tetap harus ketemu langsung sama orangnya. Aku heran, mereka tuh kayak nggak mau keluar (rumah) lihat kenyataan.”

Saya kurang sependapat dengan teman saya, generasi milenial adalah generasi yang haus petualangan. Menurut survey dari Eventbrite, 78% milenial di amerika gemar menghabiskan uangnya untuk mendapatkan pengalaman atau barang yang diinginkan. Tidak hanya di Amerika, di Indonesia pun sama. Setelah budaya selfie menjadi trend di kalangan milenial, semua tempat wisata di Indonesia selalu ramai oleh pengunjung, hingga overload. Bahkan sekarang semua tempat adalah objek wisata, seperti gunung, cagar alam, lingkungan kumuh, gedung tua, jembatan, hingga kuburan.

Teman saya kontan menimpali, “loh mereka suka pergi ke tempat wisata bukan karena benar-benar ingin memaknai sebuah perjalanan. Cuma ingin foto-foto lalu dipamerkan di social media. Barangkali bisa menambah ketenaran.”

Walau menurut saya, berwisata tetaplah menjadi hal yang positif. Dengan tidak mempertimbangkan niatan awalnya, entah ingin sekedar foto-foto atau memaknai perjalanan. Saya memiliki dua alasan. Pertama, dunia social media adalah dunia nyata, bagian dari kehidupan kita. Wajar kalau kita nguri-uri (memelihara) dunia itu. Kedua, berwisata membuat tubuh melakukan aktivitas, terlebih orang yang cerdas dituntut lebih banyak melakukan aktivitas fisik daripada hanya berdiam diri agar tidak terlalu banyak mengkhayal. Ketiga, dari caption di Instagram atau puisi-puisi kepada alam yang menghiasi foto-foto mereka di social media adalah langkah awal untuk menjadi penulis. Syukur-syukur bisa menghasilkan buku bestseller berisi catatan perjalanan seperti agustinus wibowo dan trinity, atau marishka dengan blognya.

“Loh, anda terlalu jauh bung. Bagaimana kalau berwisata, traveling dan liburan adalah bentuk pelarian diri dari kenyataan yang harusnya mereka hadapi. Kalau benar mereka gemar bepergian semacam itu, mengapa mereka tidak memiliki mental untuk menyelesaikan masalah secara face to face.”

Berarti masalahnya terletak pada mental mereka, bukan mau atau tidaknya mereka menerima kenyataan. Sebenarnya mereka sudah mengintip berbagai kenyataan di dunia lewat social media, youtube, liveleak dan sebagainya. Hanya saja mental mereka tidak kuat ketika harus menghadapinya secara langsung.

Lemahnya mental adalah penyakit dari segala generasi, bukan hanya generasi milenial. Kalau mental generasi Silent (1925–1942) sudah kuat, tentunya kita tidak usah menunggu hingga tahun 1945 untuk merdeka. Kalau mental generasi Baby Boom (1943–1960) dan generasi X (1961–1981) kuat tentunya tidak banyak dari mereka yang memilih berleha-leha ditekuk pemerintah atau memilih aman menjadi abdi negara. Mau generasi apapun, ada saja pihak yang mau melemahkan mental.

***

Singkat cerita, teman saya jadi sebal karena saya terlalu banyak membantah omongannya. Dia bersikukuh men-judge generasi milenial sebagai generasi yang tidak mau menerima kenyataan. Dia menambahi, “kalau diibaratkan, generasi milenial adalah tipe manusia yang mendambakan aktivitas dan mimpi-mimpi mengasyikkan, kala dingin melanda, dan ia justru bersembunyi di balik lembut dan tebalnya selimut”