Rindu Pulang ke Rumah

Oleh : Muhammad Ihsan

Rumah adalah tempat kembali yang paling nyaman. Rumah adalah tempat dimana kita kembali menjadi apa adanya. Rumah adalah tempat berteduh dari segala hal yang menyakitkan. Untuk alasan terakhir saya tambah dengan sedikit mendramatisasi.

Beberapa bulan terakhir ini saya jarang pulang ke rumah, dan lebih sering menghabiskan waktu di kos-kosan yang merupakan rumah kedua saya. Saya lebih sering bosan ketika di rumah tidak tahu kenapa. Ketika di rumah pun saya tak pernah keluar rumah kecuali memang ada acara yang mengharuskan saya keluar rumah. Saya akan menghabiskan waktu dengan ngopi, menonton tv, nonton film, membaca buku, lalu ketiduran dan akan berulang seperti itu sampai kepala saya pusing saking bosannya. Walau ada agenda lain semisal menyapu rumah, beres-beres kamar, tapi tidak lantas membuat saya betah entah kenapa. Sebagai catatan keluarga saya ini baik-baik saja, tidak ada masalah apa-apa dan semua berjalan normal apa adanya.

Saya kira saya sendirilah yang salah, saya tidak menjadikan pulang saya ke rumah adalah alasan saya pulang. Saya hanya ngeyem-yemi bapak dan ibu saya yang sering kali menelfon dikala akhir minggu ketika saya tak juga memberikan mereka kabar. Selain itu, kerinduan terhadap mengasikannya suasana menjadi anak-anak dulu sudah sangat sulit saya dapatkan, kehidupan sekarang sudah tak seperti dulu lagi. Alhasil berkuranglah lagi alasan saya untuk pulang.

Kota sebagai representasi keramaian juga menjadi salah satu faktor yang kemudian membentuk saya saat ini. Seperti kebanyakan orang sekarang, saya ini takut sepi, takut menyepi, takut kesepian. Sejak bangun tidur sampai tidur lagi saya habiskan dengan keramaian. Cobalah hitung berapa banyak waktu yang kita habiskan tanpa gadget, tanpa suara-suara tv yang kita nyalakan yang sebenarnya tidak untuk ditonton melainkan hanya sebagai pelengkap supaya suasana tak sepi, sambil nyekrol layar gadget dari atas ke bawah melihat deretan gambar-gambar yang tidak juga penting. Berapa banyak? sedikit sekali bukan. Tahukah kenapa itu terjadi? Alasannya simpel, kita memang tidak tahan untuk sepi sekarang.

Segala yang kita definisikan “sepi” acapkali dipandang sebagai sesuatu yang gelap, marjinal, pelosok, sunyi dan tidak produktif.

Padahal kalau kita tahu Siddharta Gautama yang merupakan seorang pangeran itu rela meninggalkan semua yang dikungkungkan ayahnya dalam kemewahan istana, dan memilih untuk pergi berkelana ke tempat yang jauh; pelosok desa, ngarai, sungai, laut, lembah dan hutan. Untuk apa? untuk mencari kesunyian, untuk melayari “kesunyian laut di dalam batin”: apa sebenarnya arti hidup ini…

Saya jadi tertegun mungkinkah modernisme dan eksistensial yang ditawarkan ini sudah semakin mempengaruhi kehidupan saya. Mengharuskan saya untuk tetap tinggal di antara gegap gempita keramaian, mengejar target hidup yang tiada ujungnya, berusaha keras mengejar impian-impian, demi tercapainya posisi dimana saya dipandang ada oleh orang lain. Jika tidak begitu saya akan dicap ganjil, tidak ikut shaf bila tak ikut nimbrung didalamnya.

Padahal dengan sunyi kita mampu masuk ke keadaan diri paling objektif, sehingga mampu menjadi observer yang baik dalam suatu keadaan, begitu kata Mas Sabrang dalam suatu waktu.

Keadaan seperti itu menjadikan kita jadi lebih waspada, lebih detail, lebih sadar, lebih jernih sehingga setiap keputusan yang diambil menjadi lebih presisi dan tepat sasaran. Itulah saat dimana kita bisa mengevaluasi diri, berdialog dengan diri untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan lain bahwa ada banyak hal yang akhirnya bisa kita pelajari.

Bukankah Allah senang dengan hambanya yang rela bangun di sepertiga malamnya untuk kemudian beribadah, meratap, berserah diri, memohon ampun, menciptakan suasana yang sangat intim antara hamba dan Tuhannya. Proses yang hanya bisa dicapai dalam keadaan yang sunyi baik dalam batin maupun lahir dimana orang lain masih terlelap dalam tidurnya.

Saya ini mungkin terlalu sibuk beraktivitas sehingga kurang istirahat, dan perlu untuk rehat sejenak. Mengambil jarak dari keramaian yang setiap hari saya kejar-kejar. Mencoba kembali mengakrabi sunyi, kembali mengenali “aku yang batin” di tengah berkuasanya “aku yang materi”.

Dan salah satu jalan yang bisa saya tempuh adalah pulang. Pulang ke rumah saya berasal, pulang kepada yang memberangkatkan.

Sore ini saya putuskan untuk pulang ke rumah. Kembali menjadi anak dari orang tua saya. Saya putuskan juga untuk tidak bangun kesiangan lagi besok pagi, saya sudah terlalu sering terlambat pulang. Udara dan suasana pagi yang cerah itu sudah lama sekali tidak saya temui.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.