Sayembara PNS

Oleh : Affix M.

Lagi-lagi pemerintah belum mengumumkan sayembara akbar yang di era jokowi ini arang sekali terlaksana. Pemenangnya berhak meminang sang Putri. Putri yang bukan sembarang putri, dia adalah selembar kertas yang isinya Surat Keputusan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Sayembara ini diminati berjuta-juta orang, baik yang sudah berkerja maupun yang masih nganggur. Bahkan dari zaman Belanda. Kala itu PNS masih disebut ambtenaar. Pada awalnya ambtenaar hanyalah dari golongan priayi, karena inilah banyak yang mendaftar, berharap ikut menjadi priayi. Giliran di zaman orde baru, menjadi PNS diminati karena hidupnya terjamin (alias dijamin mendapatkan uang pensiun).

Tidak hanya para pelamar kerja yang gelap mata, berharap ada sayembara lagi. Kerabat mereka juga ikut-ikutan kena getahnya. Seperti bapak saya yang hampir setiap hari menyuruh saya mengecek website kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN RB). Bapak saya sering mendapat broadcast pesan di grup Whats App, bahwa ada penerimaan PNS. Tetapi setelah saya cek, hasilnya zong alias nol besar.

Kebutuhan Guru SD

Saya tidak begitu mengerti mengapa urung diadakan sayembara, padahal kebutuhan pegawai negeri di bidang kesehatan dan pendidikan masih besar. Terutama kebutuhan PNS untuk guru sekolah dasar. Di Kabupaten tempat saya tinggal ada Sekolah dasar hanya memiliki 2 guru berstatus PNS. Satu guru menjabat sebagai kepala sekolah, guru yang lain sebagai guru kelas. Alhasil mereka harus menyewa tenaga pelajar, yang digaji menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah yang pas-pasan. Tiap tenaga pengajar hanya mendapatkan sekitar 300 hingga 400 ribu rupiah tiap bulan.

Menanggapi kurangnya guru berstatus PNS, Menteri Pendidikan sendiri memang menargetkan ada pengangkatan PNS pada tahun 2017 ini, hanya saja berfokus di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T). Itupun sasarannya malah pada tingkat Sekolah Menengah Kejuruan, bukan pada tingkat sekolah dasar.

Pemerintah kita memang ganjil, masih saja berkeras mencetak tenaga kerja agar langsung dapat diterima di dunia industri. Agar ekonomi kita mapan, investasi asing masuk, tak apalah rakyat kita jadi buruh di negeri sendiri. Apalah guna berkonsentrasi pada tingkat sekolah dasar, tidak menghasilkan kemajuan ekonomi yang berarti. Walaupun di sekolah dasar itulah pembentukan kepribadian, karakter dan kecerdasan siswa berpengaruh pada kehidupannya kelak. Kalau pemerintah memang benar-benar mau menitipkan para siswa sekolah dasar kita kepada Tuhan untuk dibina, sedangkan mereka mau fokus membenahi ekonomi dan infrastruktur dulu. Saya hanya bisa berdoa, semoga hasilnya tetaplah baik.

Apalagi tingkat putus sekolah Indonesia masih tinggi. Menurut data UNICEF pada tahun 2016 sebanyak 2,5 juta anak Indonesia tidak menerima pendidikan lanjutan. Sebanyak 600 ribu pada tingkat sekolah dasar dan 1,9 juta pada tingkat sekolah menengah pertama. Kalau sampai SMP saja tidak lulus, lha kok pemerintah masih repot-repot ‘menggalakkan’ SMK. Bagaimana kalau nanti gurunya ngajar nggak ada muridnya?

Belum lagi semenjak penerimaan mahasiswa bisa menggunakan ijazah paket C, sudah banyak orang tua (yang berkantong tebal) tidak menyekolahkan anaknya di sekolah formal. Mereka memilih sekolah di rumah atau homeschooling.

Maka sudahlah, ini saatnya pemerintah membuka sayembara, terutama bagi calon guru SD, bukan guru SMK. Saya curiga pemerintah selalu ganjil dalam mengambil keputusan karena mereka hanya mau membuat Tuhan tersenyum, kebetulan Tuhan suka dengan yang ganjil-ganjil.