Semua Buku Berhak Diberi Makan

Oleh : Titis A.

Apa kau tahu kalau kami, para buku, juga memiliki perbedaan gender seperti manusia? Apa kau tahu juga kalau pada saat tertentu kami membicarakan kalian, wahai teman-teman manusiaku yang baik? Tentang bagaimana cara mendengar kami saling berbicara, akan saya tuliskan di bagian lain kisah ini.

Dan ini rahasia terbesarnya : kalian boleh merasa bahwa kalian yang memilih kami, buku-buku yang berderet di rak-rak, untuk kalian baca. Nyatanya, kamilah yang memilih kalian untuk membaca kami. Sebelum kalian membaca kami, kami sudah rampung membaca kalian terlebih dulu. Bukankah banyak pengunjung toko buku yang datang tanpa punya ide mau beli buku apa, tapi toh selalu pulang menyangking barang satu dua eksemplar?

Sebagai sebuah buku ensiklopedi, sudah menjadi kebiasaan saya untuk mengamati berbagai gejala sosial. Tentang menurunnya minat baca masyarakat misalnya. Ini berdampak besar bagi kami. Minat baca adalah asupan pokok kami. Semakin tercukupi kebutuhan pokok kami, semakin baik kemampuan kami memilih dan menarik pembaca-pembaca kami. Butuh energi yang tidak kecil demi memikat hati manusia. Dan bahan dasar energi kami berasal dari minat baca manusia yang kami olah secara rumit. Sederhananya, kami mendapat makanan sedangkan kalian mendapat pengetahuan, bahkan hiburan bagi hati manusia yang belakangan mudah nelangsa.

Tapi beberapa bulan terakhir ada yang menarik perhatian kami. Setiap hari Selasa pada jam 15.00 (dan selalu pada hari Selasa jam 15.00), ada seorang pengunjung kecil yang mencukupi kebutuhan pokok kami. Belum pernah kami melihat pengunjung yang memiliki minat baca lebih besar dari anak itu.

Anehnya, ia tidak pernah membeli (tak jadi soal bagi saya, tapi bencana bagi pemilik toko). Ia hanya datang dan langsung hanyut dalam imajinasi bersama beberapa buku yang dipilihnya. Kebanyakan buku-buku dongeng. Sungguh beruntung buku-buku dongeng itu, mereka paling banyak terpenuhi kebutuhan pokoknya. Buku-buku yang lain, yang terletak beberapa rak di seberang buku dongeng, ingin dibaca juga. Sekumpulan buku asing di sebuah sudut ruangan saling berbisik dalam bahasa yang tak begitu saya pahami. Sementara si anak bergeming demi melahap sebanyak mungkin halaman sebelum ketahuan petugas. Minat baca sebesar itu, yang mampu mengalihkan dunia kami, percaya atau tidak berasal dari badannya yang kerempeng. Rambutnya bundet serta kemerahan, tanda sering diterpa terik siang hari. Pakaiannya tidak cemerlang dan berbau asap jalanan. Seperti biasa, hari itu ia duduk bersila di lantai. Seperti pangeran kecil dikelilingi rak-rak buku raksasa yang kokoh layaknya ksatria pelindung.

Saya tidak tahu kenapa ia hanya datang pada Hari Selasa pada jam 15.00. Ia tidak pernah datang lebih awal dari itu. Saya rasa, saya mempunyai naluri alami untuk mencari tahu sebabnya. Kan, saya buku ensiklopedi.

Dan kemudian saya mengetahui alasannya.

Pada hari Selasa pada jam 15.00, adalah hari di mana pemilik toko buku melakukan inspeksi rutin. Banyak hal yang akan ia periksa. Mulai dari data keuangan, sampai daftar hadir karyawan dan menghukum kalau ada yang sering terlambat. Juga mengecek sistem keamanan (bulan lalu toko buku ini sempat kecolongan. Saya tahu persis kronologinya tapi tidak ada cara untuk melapor pada manusia).

Pada hari Selasa pada jam 15.00, seluruh kesibukan karyawan akan tercurah pada inspeksi rutin tersebut, kecuali kasir yang wajib berjaga di balik meja kasirnya. Rupanya ini menguntungkan si anak. Ia bisa membaca sepuasnya tanpa ditegur apalagi diusir karena membaca gratis. Selain itu, pada umumnya manusia saling menilai berdasarkan penampilan. Baju dan celana yang dikenakan si anak termasuk kategori kumal menurut versi manusia. Tidak pernah ada tanda-tanda si anak datang membawa uang. Kalau ketahuan petugas, si anak bisa ditendang keluar. Cukup beruntung kalau tidak pakai tuduhan mengutil (kami, para buku, lebih takut pada orang mengupil daripada mengutil).

Pada hari Selasa pada jam 15.00, asal tahu saja, kami tak pernah lebih bersemangat daripada ini. Energi kami terasa penuh. Bisa dipastikan kami tidak akan kelaparan sampai Selasa depan. Kalau beruntung, lebih banyak orang yang bisa kami panggil dan mencomot kami untuk dibawa ke kasir. Sungguh, toko buku ini seharusnya berterimakasih pada si anak. Saya sendiri berdoa agar suatu hari bisa dimiliki si anak. Dimiliki dan dibaca oleh pembaca budiman adalah mimpi terindah yang bisa dibayangkan oleh sebuah buku.

Tapi entah kenapa saya jadi lesu sendiri. Entah kenapa saya tidak lagi berniat memberitahu bagaimana cara berkomunikasi dengan kami. Saya tidak bermaksud mengingkari janji saya yang saya tulis di paragraf pertama kisah ini. Tapi sungguh, saya tiba-tiba lesu sendiri.

Mungkin karena sudah tiga pekan ini si anak tidak nampak berkunjung. Ah, kau jangan pura-pura tidak tahu mengapa.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.