1000 Startup (Program Latah Pemerintah part 1)

“Startup, startup! lulus aja belum udah pada heboh bikin startup!”, jawab Parjo sambil nyruput Es Teh di Kantin.

“ya elah brooh, startup baru trend bro! mumpung pemerintah mengadakan program seribu setar-ap lho!”, Ujar Tohar.

“heh, memang itu program miliknya pemerintah?? hahaha.. nih saya kasih tahu. 1000 startup itu sebenarnya (katanya sih) programnya K*bar, semacam komunitas penggiat startup. Nah karena pemerintah sedang menjalankan ekonomi kreatif maka kemudian pemerintah ndompleng deh. Jadi seolah-olah itu programnya pemerintah.” Parjo menjelaskan dengan sok tahu.


Gini. Semacam ada yang mengganjal dengan program 1000 startup yang diakui seolah-olah program orisinilnya pemerintah. Startup memang lagi trend di negara-negara maju. Negara maju lho! sekali lagi negara maju! bukan negara berkembang seperti Indonesia. Kemudian secara tiba-tiba pemerintah melalui bekraf (Badan Ekonomi Kreatif, entah bekraf bagian mana yang bergerak,heheh) menggalakkan gerakan nasional 1000 startup. Emmm.. semacam ada latah bisnis. ya, bener kata Tohar. Startup memang baru menjadi trend bisnis.

masyarakat Indonesia disetting untuk menjadi konsumen. Bukan produsen.

Bagaimanapun, masyarakat Indonesia disetting untuk menjadi konsumen. Bukan produsen. Hal ini dalam rangka untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebanyak sekian persen. Coba perhatikan fenomena tumbuhnya mall, ruko, minimarket di kota-kota besar. Tak ada satupun masyakarat yang bisa menolak. Paling banter cuma pasang spanduk “Kami warga blablabla menolak pendirian ini itu”. Dalam waktu bersamaan, karya-karya original anak Indonesia malah dihabisi. Ingat kasus mobil listrik? Pernah baca kasusnya pembasmi sel kanker? Pernah lihat filmnya pak Habibie yang menceritakan PT Dirgantara pada saat itu ditutup sepihak?. Dalam bidang IT, sebuah aplikasi koprol buatan anak Indonesia yang dibeli Yahoo dan akhirnya wassalam. Yah masih banyak kok fenomena-fenomena yang menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia disetting untuk selalu menjadi konsumen, bukan produsen.

“Lhah lalu apa hubungannya dengan startup?”, tanya Tohar.

Oke, begini. Masyarakat diberi kesempatan sebesar-besarnya untuk membuat varian-varian produk berbasis teknologi. Produk bagaimana yang bakal sukses? ya tentunya produk yang bisa men-generate data sebanyak mungkin. Entah itu data personal ataupun data transaksi. Sederhananya begini. Kalau seandainya produk digital yang kamu buat berhasil merekam data transaksi lebih dari 5-10 juta orang perbulan, pasti kamu akan dapat investasi.

Siapa yang ngasih investasi? ya tentu saja Investor! hehee.. tapi sayangnya 1000 startup tidak menjelaskan siapa saja calon investornya. Yang jelas investornya bukan dari orang Indonesia. ehehehhee…

Nah begitu perusahaan kecilmu sudah kecipratan investasi dari orang lain, maka mereka berhak men-drive produk kamu. Tentunya supaya revenue-nya cepat kembali dalam waktu singkat.

Kembali ke Program Pemerintah Indonesia

Lalu pemerintah indonesia kecipratan apa? Sampai tulisan ini dibuat, belum jelas apa sebenarnya peran pemerintah. Dari uraian diatas saya kira, Kita sudah bisa berpikir, siapa yang memiliki kepentingan dibalik program ini. heuheuheuheu…