
Menjadi hal yang penting bagi setiap individu untuk mempunyai rumah; serupa naungan yang memberikan rasa aman dan nyaman, manifestasi dari kembali untuk pulang.
Depok pada pukul lima sore riuh sekali. Sahut-sahutan suara angkot di pinggir jalan Margonda seolah berlomba dengan klakson kendaraan lain yang terburu-buru pulang. Sudah lelah dengan 8 jam penuh peluh di kantor sana. Nyatanya, hidup di Depok tidak kalah keras dengan Jakarta.
Dari tempatku berdiri, dibawah pepohonan kampusku pukul lima sore, kuredam lelahku. Meskipun ditengah terpaan tugas yang menggunung dan tuntutan akademis yang idealis sekaligus buta, rasa lelah itu tetap hadir. Mengendap dalam sudut hati, lalu busuk dan menguarkan baunya.
Di saat seperti ini, aku merindukan rumah. Aku ingin pulang. Kembali ke rasa nyaman. Aman bersama orangtua.

Pergi dari rumah, dari awal memang berat. Melangkahkan kaki keluar zona aman sudah pasti beresiko. Belum lagi keraguan yang menyertai. Akankah semuanya akan tetap sama ketika kembali? Pertanyaan seperti ini pasti hadir. Sudah banyak bukti yang menunjukkan bahwa jarak memang sesuatu yang mampu membawa perubahan. Dalam hal ini, merantau adalah salah satu contoh bahwa jarak dapat mengubah. Entah penampilan, gaya hidup atau lainnya.
Hampir dua tahu berada di perantauan, membuatku paham. Jarak mengisi kekosongan, yang pergi. Lalu ia mengganti yang hilang dengan yang baru. Ke”baru”an ini yang kemudian seringkali mengaburkan, bahkan menghapus, kenangan akan rumah. Kenangan akan dulu yang selalu kita asosiasikan dengan rasa nyaman.

Seperti semua karakteristik rumah sebagai tempat untuk pulang, jarak juga dapat melemparmu kembali. Mengais dalam ingatan, kenangan akan rumah. Hingga selanjutnya, kau akan bingung bagaimana cara kembali ke rumahmu, jalan pulangmu hilang. Untuk beberapa saat kau tersesat. Tetapi kulminasinya bukan itu. Untuk mereka yang hilang arah, bahkan mengingat jalan kembali adalah sebuah kemewahan. Karena sejatinya, yang sesungguhnya tersesat adalah mereka yang melupakan wujud rumahnya. Rupa rumah yang dulu ia naungi luruh dan pupus.
Maka dari itu, aku yang bukan siapa-siapa ini — mungkin hanya seorang perantau — ingin menitipkan pesan.
“Sejauh apapun kakimu melangkah pergi, sejauh apapun jarak yang membentangi, selalu ingat bahwa kamu masih punya jalan untuk kembali. Pulanglah. Jaga dan rawat rumahmu.”
Untuk adik yang menangis karena rindu,
Untuk mereka yang berpesta karena buntu,
Untuk aku yang menangis karena tidak tahu,
Rumah seperti apapun definisinya, masih dan akan tetap menerimamu kembali asal kamu tahu jalan pulangnya.
Depok, 9 September 2018 Didedikasikan untuk mereka — bisa jadi saya — yang mungkin sedang tersesat.
