Lampu Teplok

Ilutsrasi Lampu Teplok, ehe

Apa yang bisa kamu harapkan dari sebuah lampu dengan pencahayaan remang-remang? Bahkan, dia tidak cukup membantu matamu untuk memantulkan cahaya sehingga kamu bisa menangkap apa yang kamu baca. Belum lagi, polusi yang ditimbulkan membuat dadamu sesak.

Namun, pernahkah kau membayangkan jika Tuhan tidak berkehendak untuk menciptakan cahaya? Tak ada matahari, bintang, atau apalah itu yang bisa memancarkan sinar. Kita hidup dalam kegelapan. Merasakan, namun tak tahu bagaimana bentuknya. Menghirup aroma cemara tanpa bisa mengagumi agungnya gunung. Meraba dan membiarkan imajinasi bermain dengan liarnya.

Mungkin Tuhan tahu, bahwa makhluknya akan kacau jika tidak ada cahaya. Terlepas dari pemikiran-pemikiran liar itu, kita sangat terbantu dengan adanya lampu buatan yang berhasil manusia ciptakan.

Sebentar.. Sebentar.. Bukannya sejak 1879 bapak Thomas Alfa Edison sudah berhasil menemukan lampu listrik? Lantas, mengapa kita masih membutuhkan lampu teplok?

Lampu teplok memiliki masa, begitu juga denganku. Biarlah aku menjadi setitik penerang bagi mereka yang membutuhkan. Meski terkadang, aku berbuat salah ibarat menciptakan polusi, tekadku sudah bulat untuk memberikan tenaga demi membangun masyarakat berbekal keahlian yang kumiliki. Aku yakin bahwa pundakku cukup kuat untuk mengemban amanah yang telah Tuhan berikan. Bahwa manusia tidak hidup untuk mencukupi dirinya sendiri. Ia diciptakan untuk memperbaiki kerusakan dan membangun masyarakat thayyibah.

Seiring dengan habisnya sumbu umurku, kembali padaNya dan meninggalkan kebermanfaatan bagi orang-orang sekitar.

Jangan berkecil hati jika kamu hanya bisa menjadi lampu teplok. Teruslah menerangi, yang cahayanya dinanti dan diharapkan banyak makhluk.