Catatan Tambahan Mengenai Masyarakat Terkendali — Gilles Deleuze (terjemah)

Atolah Renanda Yafi
Sep 4, 2018 · 9 min read
https://frieze.com/sites/default/files/Editorial/Deleuze.jpg

1. Sejarah

Foucault mendapati masyarakat terdispliner (disciplinary societies) pada abad ke-18 dan ke-19; dan mereka mencapai kegilaannya pada awal abad ke-20. Saat itulah mereka mulai menginisiasi pengorganisasian atas ruang tertutup (space of enclosure) yang begitu besar. Para individu di dalamnya tak henti-hentinya melintas dari suatu ruang tertutup ke ruang tertutup lainnya, masing-masing dari ruang ini memiliki aturan main sendiri: pertama, keluarga, lalu sekolah (“kau bukan lagi bagian dari keluargamu”); lalu pabrik; pada saat tertentu ke rumah sakit; atau bisa juga ke penjara, sebuah contoh ruang tertutup yang mudah dipahami. Penjara ini ialah penjara yang dijalankan sebagai suatu model analogis: berdasar pandangan para buruh, Rosselini (si pahlawan wanita itu) pada Europa ’51 menyerukan, “Aku pikir aku sedang menyaksikan pesakitan.”

Foucault dengan gemilang telah menganalisis proyek ideal atas ruang-ruang tertutup ini, khususnya pada apa yang terlihat di dalam pabrik: mengonsentrasikan; mendistribusikan dalam suatu ruang; menertibkan secara tepat waktu; menyusun kekuatan produktif dalam dimensi ruang-waktu yang efeknya akan jauh lebih besar dari jumlah seluruh kekuatan komponen-komponennya. Namun apa yang benar-benar disadari oleh Foucault adalah transiensi dari model ini: ia berhasil menggantikan masyarakat berdaulat (societies of sovereignty), kendati tujuan dan fungsinya sedikit berbeda (untuk membebani (memajaki) daripada untuk mengorganisir produksi, untuk mengatur kematian daripada untuk mengadministrasi hidup); transisi ini berlangsung dari masa ke masa, dan Napoleon tampaknya memengaruhi konversi skala besar dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya. Namun di masa depan, disiplin yang mereka jalankan mengalami sebuah krisis untuk kepentingan dari kekuatan baru yang secara bertahap dilembagakan dan dipercepat seusai Perang Dunia ke-2: sebuah masyarakat terdisipliner yang pernah kita alami sudah tak ada lagi, ia sudah terhentikan.

Kita berada pada krisis yang sudah umum dalam relasi terhadap semua ruang tertutup — penjara, rumah sakit, pabrik, sekolah, dan keluarga. Keluarga adalah suatu “interior” dalam krisis ini seperti halnya interior-interior lainnya — akademis, profesional, dan lain sebagainya. Administrasi yang bertanggung jawab akan hal ini terus-menerus mengumumkan reformasi yang perlu dilakukan: mereformasi sekolah, mereformasi industri, angkatan bersenjata, penjara. Namun semua orang tahu bahwa institusi-institusi ini telah rampung, berapa lama pun periode kadaluarsa mereka. Ini hanyalah tentang masalah pengadministrasian ritus terakhir mereka dan untuk menjaga orang-orang dipekerjakan tetap bekerja hingga instalasi dari kekuatan yang baru bisa dikatakan telah siap sepenuhnya. Inilah masyarakat terkendali (the societies of control), yang berada pada proses pergantian dari masyarakat terdisipliner. “Kendali” (Kontrol) adalah nama yang diajukan Burroughs sebagai suatu term untuk monster baru ini, yang disadari Foucault sebagai masa depan bagi kita. Paul Virilio juga terus menganalisis bentuk ultrapesat dari kendali bebas-ambang (free-floating control) yang menggantikan operasi disiplin lama dalam kerangka waktu dari suatu sistem tertutup. Tak perlu untuk memohon pada produksi farmasi, rekayasa molekular, manipulasi genetik, meskipun semua ini dijadwalkan untuk memasuki sebuah proses baru. Tidak perlu untuk menanyakan mana rezim yang paling keras atau yang paling toleran, karena di dalam keduanya setiap kekuatan perbudakan ataupun pembebasan saling berhadapan satu sama lain. Contohnya, pada krisis rumah sakit sebagai ruang tertutup; klinik sekitar, puskesmas, dan pengobatan harian awalnya dapat mengekspresikan kebabasan baru, tapi mereka dapat berpartisipasi juga pada mekanisme kontrol yang juga setara dengan hal paling kejam dari suatu pengurungan. Tak perlu takut ataupun berharap, cukup untuk tetap fokus mencari senjata-senjata baru.

2. Logika

Ruang tertutup berbeda yang dilalui setiap individu adalah variabel yang saling independen: setiap kali seseorang diharuskan untuk memulai dari nol, dan walaupun bahasa umum atas semua tempat ini memang ada, ia analogis. Di sisi lain, mekanisme kontrol yang berbeda juga merupakan suatu variabel yang tak dapat dipisahkan, membuat sebuah sistem geometri variabel bahasa yang numerik (dan tidak berarti biner). Penutupan (pengasingan/enclosures) adalah suatu cetakan (molds), pencetak perbedaan, tetapi kendali adalah sebuah modulasi, seperti sebuah peranan pendeformasi diri yang akan terus menerus berubah dari satu momen ke momen yang lain, atau seperti sebuah ayakan yang jalanya akan berubah dari satu titik ke titik lain.

Hal ini sangat jelas dalam perkara gaji: pabrik adalah suatu tubuh yang berisi kekuatan internal pada satu level ekuilibrium, yang tertinggi dalam hal produksi, yang terendah dalam hal upah; tetapi dalam sebuah masyarakat terkendali, korporasi telah menggantikan pabrik, dan korporasi adalah sebuah spirit, sebuah gas. Tentunya pabrik sudah cukup familiar dengan sistem bonus, tetapi korporasi bekerja lebih keras untuk memaksakan sebuah modulasi atas setiap gaji, dalam keadaan metasabilitas abadi yang beroperasi melalui tantangan, kontes, dan sesi grup yang begitu ketat. Jika acara permainan paling bodoh di televisi bisa begitu sukses, itu karena mereka mengungkapkan situasi korporasi dengan presisi yang luar biasa. Pabrik membentuk individu sebagai sebuah tubuh tunggal untuk keuntungan ganda bosnya yang memeriksa setiap elemen dalam massa dan serikat pekerja yang memobilisasi suatu resistansi massa; namun korporasi terus-terusan menyajikan persaingan yang paling ketat sebagai suatu bentuk emulasi yang sehat, sebuah kekuatan motivasi luar biasa yang memperlawankan individu yang satu terhadap yang lainnya dan menjalankan serta memecahnya yang satu dengan yang lain. Prinsip modulasi dari “gaji berdasarkan prestasi” belum gagal untuk membujuk pendidikan nasional itu sendiri. Tentunya, seperti halnya korporasi yang menggantikan pabrik, pelatihan abadi (perpetual training) cenderung menggantikan sekolah, dan kendali kontinu menggantikan pemeriksaan, yang mana adalah cara paling pasti untuk mengantarkan (siswa) sekolah menuju korporasi.

Dalam masyarakat terdisipliner seseorang selalu memulai sesuatu yang baru (dari sekolah ke barak, dan dari barak ke pabrik), sementara dalam masyarakat terkendali seseorang tak pernah menyelesaikan apapun — korporasi, sistem pendidikan, dan layanan bersenjata menjadi keadaan metastabil yang hidup berdampingan dengan seseorang dan modulasi yang sama, layaknya sebuah sistem deformasi universal. Dalam The Trial, Kafka telah menempatkan dirinya pada titik penting di antara dua jenis formasi sosial, menggambarkan bentuk yuridis yang paling menakutkan. Pembebasan yang tampak dari masyarakat terdisipliner (di antara dua pengurungan); dan penundaan tak terhingga dari masyarakat terkendali (dalam variasi yang kontinu) adalah dua mode yang sangat berbeda dari hidup yuridis, dan jika hukum kita begitu bimbang, ia berada dalam krisis, itu karena kita meninggalkan yang satu dengan teratur dan memasuki yang lainnya pula. Masyarakat terdisipliner memiliki dua tonggak: tanda tangan yang menandakan setiap individu, dan nomor atau numerasi administratif yang mengindikasikan posisi setiap individu dalam suatu masyarakat. Hal ini disebabkan para manusia terdisipliner tak pernah melihat ketidakcocokan di antara kedua hal ini, dan karena pada saat yang bersamaan kuasa mengindividualisasi dan mengumpulkannya dengan bersamaan, yang mana, membentuk mereka yang melatih kuasa pada suatu tubuh dan mencetak individualitas pada setiap anggota tubuh tersebut. (Foucault melihat asal mula dari muatan ganda ini pada kuasa pastoral dari seorang pendeta — kawanan dan setiap hewannya — tetapi kekuatan sipil bergerak secara bergantian dan dengan cara yang berbeda menjadikan diri mereka sebagai “pendeta” awam.) Selain itu, hal yang penting dalam masyarakat terkendali bukanlah sebuah tanda tangan ataupun sebuah nomor, tetapi sebuah kode: kode yang merupakan suatu kata sandi (password), sementara masyarakat terdisipliner diregulasi dengan watchwords (sebanyak sudut pandang integrasi dari perlawanan itu sendiri). Bahasa numerik atas pengendalian terbuat dari kode-kode yang memberi akses menuju informasi, ataupun menolaknya. Kita tak lagi mendapati diri kita berurusan dengan pasangan individu/massa. Individu telah menjadi “dividu”, dan massa, sampel, data, pasar, atau “bank”. Mungkin uanglah yang mengungkapkan dengan baik perbedaan antara dua masyarakat ini, karena sistem disipliner selalu mengacu kembali pada uang cetak yang menggerendel emas dalam standar numerik, sedangkan sistem kendali berhubungan dengan kurs yang nilainya selalu mengambang, dan ditetapkan oleh suatu tingkatan yang ditentukan oleh suatu set mata uang yang menjadi standar. Mata uang lama (old monetary mole) adalah sesosok tikus pada ruang tertutup, tetapi sang ular lah yang menjadi sosok pada masyarakat terkendali. Kita telah melewati satu hewan ke hewan lainnya, dari tikus ke ular, dalam sebuah sistem di mana kita hidup, tetapi juga dalam cara hidup kita dan dalam hubungan kita dengan orang lain. Manusia terdisipliner adalah sebuah produsen diskontinu dari energi, tetapi manusia terkendali adalah produsen tak teratur pada suatu orbit, juga pada sebuah jaringan yang kontinu. Di manapun juga berselancar (surfing) telah menggantikan olahraga-olahraga lain yang lebih tua.

Berbagai jenis mesin begitu mudah untuk disematkan dengan setiap jenis masyarakat — bukan karena setiap mesin telah ditetapkan untuk cocok, tetapi karena mereka menggambarkan bentuk sosial yang dapat menghasilkan dan memakainya. Masyarakat berdaulat jaman dahulu menggunakan mesin-mesin sederhana — tuas, katrol, jam; tetapi masyarakat terdisipliner melengkapi dirinya dengan mesin yang melibatkan energi, dengan bahaya pasif berupa entropi dan bahaya aktif berupa sabotase. Masyarakat terkendali beroperasi dengan mesin tipe ketiga, komputer, yang bahaya pasifnya adalah gangguan teknis (jamming) dan bahaya aktifnya adalah pembajakan dan virus. Evolusi teknologi ini pasti merupakan, bahkan lebih mendasar lagi, mutasi dari kapitalisme, sebuah mutasi tersohor yang dapat disimpulkan sebagai berikut: kapitalisme abad ke-19 adalah sebuah kapitalisme konsentrasi, untuk produksi dan untuk properti. Karena itulah ia membangun pabrik sebagai ruangan tertutup, kaum kapitalis tidak hanya menjadi pemilik atas sarana produksi, tetapi juga, secara progresif, menjadi pemilik dari ruang lain yang dapat dipahami melalui analogi (rumah para pekerja, dan juga sekolah). Sebagaimana pasar, terkadang mereka menundukkan (masyarakat) dengan spesialisasi, terkadang dengan kolonialisasi, kapitalisme tak lagi terlibat dalam produksi, yang mana sering diasingkan ke negara dunia ketiga, bahkan untuk bentuk kompleks seperti tekstil, metalurgi, ataupun produksi minyak. Itulah kapitalisme atas produksi orde-tinggi. Ia tak lagi membeli barang mentah dan tak lagi menjual produk jadi: ia membeli produk jadi ataupun bagian-bagian yang sudah terakit. Yang ia ingin jual adalah jasa dan apa yang ia ingin beli adalah persediaan. Ini bukanlah kapitalisme untuk produksi namun kapitalisme untuk produk, yang berarti, untuk dijual atau dipasarkan. Dengan demikian pada dasarnya ia dispersif, dan pabrik telah memberikan jalan pada korporasi. Keluarga, sekolah, militer, dan pabrik bukan lagi ruang analog berbeda yang terkonvergensi menuju pemilik — kekuatan negara atau swasta — tetapi figur tekode — dapat dideformasi dan ditransfromasi — dari sebuah korporasi tunggal yang kini hanya memiliki pemegang saham. Bahkan seni telah meninggalkan ruang tertutup untuk memasuki rangkaian terbuka dari bank. Penundukan pasar dibuat dengan mengambil kendali dan tak lagi dengan latihan disipliner, dengan memperbaiki nilai tukar daripada menurunkan anggaran, dengan mengubah produk daripada spesialisasi produksi. Dengan demikian korupsi mendapatkan kekuatan baru. Pemasaran (marketing) telah menjadi pusat atau “jiwa” dari korporasi. Kita diajarkan bahwa korporasi memiliki sebuah jiwa, yang mana merupakan kabar mengerikan bagi dunia. Sekarang operasi pasar adalah instrumen dari kendali sosial dan membentuk keturunan berengsek dari tuan-tuan kita. Kendali adalah sesuatu berjangka pendek dan berputar dengan cepat, tapi juga kontinu dan tak terbatas, sedangkan disiplin memiliki durasi lama, tak terhingga dan diskontinu. Manusia tak lagi merupakan manusia yang terkurung, tetapi manusia yang terutangi. Adalah hal yang benar bahwa kapitalisme telah dipertahankan sebagai sebuah konstanta dari tiga perempat kemiskinan manusia, terlalu miskin untuk hutang, terlalu banyak untuk penahanan: kendali tak hanya akan dan harus berurusan dengan batasan namun juga dengan ledakan-ledakan di kota-kota dan kawasan kumuh.

3. Program

Konsepsi atas sebuah mekanisme kendali, memberi posisi pada elemen apapun di dalam sebuah lingkungan pada waktu tertentu (entah hewan dalam kandang ataupun manusia dalam korporasi, seperti halnya dengan peralatan elektronik), belum tentu merupakan suatu fiksi ilmiah. Félix Guattari telah membayangkan sebuah kota di mana seseorang dapat dengan mudah meninggalkan apartemennya, jalanannya, dan lingkungan sekitarnya, atas bantuan dari kartu elektronik (milik dividu) yang mengokohkan penghalang yang telah diberikan; tetapi kartu itu juga dapat ditolak dengan mudah pada hari dan jam tertentu; yang diperhitungkan bukanlah penghalangnya, tetapi komputer yang mengawasi posisi setiap orang — secara sah ataupun tidak — dan berpengaruh pada sebuah modulasi universal.

Kajian sosio-teknologis atas mekanisme kendali, yang pada awalnya terenggut, harus terkategorikan dan mendeskripsikan apa yang telah ada pada proses substitusi untuk situs disipliner dari ruang tertutup, yang mana krisisnya telah diproklamirkan di mana-mana. Mungkin saja metode yang lebih usang, meminjam dari masyarakat berdaulat sebelumnya, akan kembali ke permukaan, tetapi dengan modifikasi tertentu. Yang berarti bahwa kita berada pada awal dari sesuatu. Dalam sistem penjara: usaha dilakukan untuk mendapati hukuman atas “substitusi”, setidaknya untuk kejahatan remeh, dan pemakaian alat elektronik yang memaksa seorang terpidana untuk tetap di rumah pada jam-jam tertentu. Sedangkan dalam sistem sekolah: wujud berkelanjutan dari pengendalian, dan efek dari pelatihan abadi, pengabaian yang sesuai atas segala riset universitas, untuk mengenalkan “korporasi” pada tingkatan sekolah. Dalam sistem rumah sakit: obat-obatan baru “tanpa dokter ataupun pasien” yang mengasingkan orang-orang berpotensi sakit pada sebuah risiko, yang sama sekali tak membuktikan individuasi — seperti yang mereka katakan — namun menggantikan tubuh individu atau numerik dengan kode dari sebuah materi “dividu” untuk dikendalikan. Dalam sistem korporat: cara baru untuk menangani uang, keuntungan, dan manusia tak lagi harus melewati bentuk usang dari pabrik. Mungkin ini hanyalah contoh yang sangat kecil, tetapi akan menjadi sesuatu yang mengawali pemahaman yang baik atas apa yang disebut sebagai krisis institusi, yang berarti, instalasi progresif dan terdispersi dari sebuah sistem dominasi yang baru. Satu pertanyaan paling penting akan menyangkut pada kedunguan perserikatan: dengan tetap terikat pada seluruh sejarah mereka atas perjuangan terhadap disiplin atau pada ruangan tertutup, apakah mereka akan dapat beradaptasi ataukah mereka akan memberi jalan kepada bentuk baru dari perlawanan terhadap masyarakat terkendali? Apakah kita sudah memahami garis kasar dari bentuk yang akan datang ini? dapatkah kita mengancam kenikmatan dari pemasaran? Banyak sekali anak muda yang anehnya malah bangga untuk menjadi seorang yang “termotivasi”; mereka meminta ulang pekerjaan magang dan pelatihan permanen. Itu terserah mereka untuk menemukan apa yang sebenarnya mereka buat untuk disajikan, sama seperti pendahulunya menemukan, bukan tanpa kesulitan, telos (tujuan) dari disiplin. Gulungan dari seekor ular bahkan jauh lebih kompleks daripada liang sarang tikus.

1992

*Tulisan ini pertama kali ditampilkan di L’Autre journal, no. 1 (Mei 1990)

Written by

+6281 322 414 060 // renandayafi@protonmail.ch

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade