Lumpuh dalam Kemajuan

“Now I am become Death, the destroyer of worlds.”

Kata-kata di atas adalah kutipan dari salah satu ayat di Bhagavad-Gita yang diucapkan oleh Robert Oppenheimer setelah ia melakukan peledakan bom atom pertama di Trinity. Tentunya hal ini bukan sesuatu yang diduga olehnya, setelah berbulan-bulan bekerja keras untuk merampungkan Manhattan Project, ia akhirnya menyadari bahwa teknologi berbasis ilmu pengetahuan terbaru (reaksi fisi) yang ia kembangkan malah berujung pada sebuah kebiadaban terbesar pada abad 20. Atas kerja kerasnya dalam memimpin pembuatan bom ini ia mendapatkan julukan “Father of The Atomic Bomb”.

Tentunya penyesalan ini semakin tak berujung ketika ia mengetahui bahwa setelah PD2 Amerika dan Uni Soviet melakukan perlombaan dalam membuat bom atom terhebat. Di sisi lain ia semakin dikucilkan oleh negaranya sendiri.

Oppenheimer bukanlah kasus pertama, Alfred Noble dengan dinamitnya juga mengalami hal yang hampir serupa. Pada akhirnya kita juga tidak bisa mengira seperti apakah akibat dari ilmu baru yang sedang kita kembangkan. Manusia akhirnya memandang semua hal baru menurut apa yang mereka anggap paling menguntungkan, tanpa menyadari bahwa semua keuntungan juga harus dibayar demi terjadinya keseimbangan. Hal yang awalnya diciptakan untuk tujuan yang baik bisa saja tiba-tiba berakhir menjadi hal yang mematikan. Mereka yang diuntungkan akan tertawa, sang inventor menyesal, dan para korban semakin ketakutan.

Toh, sebenarnya penyesalan atas efek buruk teknologi yang digunakan manusia tidak hanya ada pada hal-hal yang mematikan. Beberapa teknologi yang secara sederhana hanya ditujukan untuk membantu memudahkan pekerjaan paling mudah dari manusia saja bisa membuat masalah mendasar yang nantinya akan menjadi penyesalan juga.

Ingatlah bahwa ketika kita mengembangkan sesuatu di dunia ini, maka kita juga harus melihat kerugian apa yang akan terjadi nantinya. Dunia ini selalu menginginkan sebuah keseimbangan, seegaliter apapun dan seutopis apapun. Toh, kita tidak bisa asal menyalahkan sang pencipta teknologi saja jika ternyata letak kebodohan dari teknologi tersebut adalah penggunanya yang ingin semuanya menjadi lebih mudah tanpa pernah memikirkan efeknya terhadap semua hal di sekitarnya, entah itu berupa manusia, dunia, ataupun alam ghoib.

Tabik